
Xura tengah menatap langit lalu menutup matanya "Jangan berpikir aku tidak tau bahwa kalian terus mencari ku, tapi sampai kapanpun kalian tidak akan pernah menemukanku" ucap Xura sambil menghela nafas dengan kasar.
Setelah keluar dari ruangan Gilma, Xura langsung menyembunyikan dirinya, ia tau bahwa seseorang pasti akan mengejarnya, lalu setelah cukup aman Xura langsung berlari secepat mungkin, ia memanggil taksi dan menghapus semua jejaknya dari Cctv.
Xura yang sedang menikmati panasnya matahari kini membuka mata secara perlahan "Aku berharap kalian tidak akan mencari ku lagi, karena aku ingin menghilang sejenak dari dunia, rasanya aku benar-benar cukup lelah menjalani kehidupan yang menjijikkan ini" gumam Xura lagi sambil duduk di taman dan menatap ke langit.
Xura yang telah menyelesaikan seluruh tugas-tugas nya berpikir untuk tidak keluar dari persembunyian nya, bagi Xura seharusnya manusia-manusia yang ada di sekitarnya sudah saatnya berhenti untuk menggunakan dirinya.
"Sudah saatnya kalian menjalani hari-hari tanpa diriku, dan untuk mu Quirin, semoga kau bisa menentukan pilihanmu dengan bijak" gumam Xura sambil menutup mata lagi dan menimpanya dengan satu tangan.
Xura yang sudah sangat lelah menghadapi kenyataan pahit ingin sekali menenangkan diri, ya ... hanya seorang diri tanpa ada yang menemaninya.
Terbangun dari kematian dan membalaskan dendam pemilik tubuh serta di permainkan oleh orang yang sudah meninggal pasti membuat siapapun terluka, termasuk Xura.
Luka itu bahkan tidak bisa di sembuhkan hanya dengan kata maaf, yang pasti, tidak seorangpun di dunia ini yang bisa mengikhlaskan dirinya dipermainkan seperti boneka.
Dan setelah masalah itu berakhir, Xura yang ingin mendapatkan perhatian justru di jauhkan oleh wanita lain. Dengan kenyataan itu Xura sengaja menyerahkan wanita itu pada Zee agar semua orang bisa berfokus pada wanita itu dan ia pun memeilih memanfaatkan keadaan itu agar bisa melarikan diri.
"Tapi entah kenapa, aku justru merasa sangat kesepian" batin Xura dengan cairan bening yang mulai menetes.
__ADS_1
...****************...
Di rumah sakit, Zee dan Alpha menunggu di luar ruangan Quirin, sedangkan Jay, Amber dan Rea sudah kembali ke inggris.
Mereka hanya Feryun untuk menjaga Quirin, ketika Feryun datang kerumah sakit, ia yang baru saja tiba melihat kedu pria dudul di kursi yang sama.
Lalu Feryun mempercepat langkahnya dan berdiri di depan Zee "Dimana Xura?" tanya Feryun dengan penasaran.
"Dia pergi, tidak ada yang tau dimana keberadaannya" ucap Zee sambil menunduk.
Alpha terkejut mendengar perkataan Zee, kini ia tau kenapa Zee menanyai tentang Quirin "apa tuan bertanya karena kemungkinan nona ada di salah satu mansion pribadi miliknya?" tanya Alpha sambil menoleh kearah Alpha.
Sedangkan Feryun justru tercengang mendengar perkataan Zee, kali ini, ia berpikir bahwa dirinya benar-benar tidak memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Xura lagi.
Satu-satunya cara adalah hanya bisa meminta alamat itu dari Quirin saja, karena hanya Quirin yang mengetahui semua lokasi mansion pribadi milik Xura.
Semuanya berharap bahwa Quirin bisa segera siuman, mereka tidak berhenti berharap sampai setengah tahun telah berlalu.
Zee terus bolak balik Inggris ke Singapura, ia ingin memantau sendiri perkembangan Quirin, ia tidak hanya menunggu Quirin sadar, tapi Zee juga terus mencari keberadaan Xura di berbagai negara, bahkan Zee berpikir untuk mengelilingi dunia.
__ADS_1
Zee merubah segala tentang dirinya, dari segi sifat dan kekejaman, Zee bahkan semakin terlihat seperti Quiran yang tidak memiliki perasaan.
Ia semakin dingin dan juga kejam, ketika Zee sedang duduk di cafe, seorang wanita menghampirinya dan mencoba merayu Zee, tapi tanpa basa basi Zee langsung bangkit dari duduknya.
Orang-orang yang mengenalnya memilih diam dan tidak mengatakan apapun, mereka justru merasa kasihan pada wanita itu.
Dan keesokan harinya muncul berita bahwa wanita yang telah mencoba menggoda Zee telah tiada.
Saat memasuki kantor, Xeno menghampiri Zee "Apa kau berpikir ini tidak terlalu kejam?" tanya Xeno yang sedikit heran dengan perubahan Zee.
"Tidak, yang mencoba merayuku hanya memiliki satu jalan, yaitu kematian" ucap Zee dengan dingin sambil menolak balikkan lembaran kertas yang ada di depannya.
Xeno menghela nafas dengan kasar "nona, kau mengubahnya menjadi semakin kejam, jika ini terus berlanjut, maka entah siapa yang bisa menghentikan perbuatannya itu, sudah setengah tahun berlalu, entah berapa berapa banyak wanita yang sudah di bunuhnya" batin Xeno sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan
Leva dan Gio bahkan sudah berusaha untuk mengentikan Zee, tapi ia bahkan tidak mendengarkan perkataan kedua orang tuanya, baginya hanya Xura lah yang pantas untuknya.
Karena itu Zee berpikir untuk menyingkirkan wanita yang merayunya agar tidak menghambat ketika Xura kembali padanya.
Bersambung ...
__ADS_1