Another Person Life

Another Person Life
Terluka


__ADS_3

"Cukup Nevy, kami tidak percaya dengan perkataanmu lagi, sekarang selesaikan saja tugasmu itu, kami akan pergi" ucap maid lain dengan pergi meninggalkannya sendirian


Nevy berusaha membersihkan dengan cepat, setelah di rasa cukup bersih, ia pergi ke kamar mengambil peralatan dan obat-obatan dan duduk di ujung tempat tidurnya


"Mungkin gak sih, nona Xia sengaja melakukannya?" gumamnya sedikit berpikir, ia menaruh obat di tangannya akibat tumpahan kopi


"Apa keuntungannya, ketika berhasil membuatku dimarahi?"


"Tunggu, apa jangan-jangan... dia tau ada sesuatu yang telah kucampurkan ke dalam makanan itu" gumamnya yang tiba-tiba berdiri, ia mencoba berpikir lebih keras


"Tapi kalau dipikir-pikir... bukankah saat aku memasukkannya, nona Xia tidak berada di dapur?, ya, benar.... saat itu dia berada di dalam kamar nona Quirin, jadi bagaimana dia bisa mengetahuinya? " gumamnya bangkit dari duduknya dan mondar-mandir sambil menggigit kuku jarinya


"Tidak, tidak, nona Xia pasti benar-benar tidak sengaja menabrakku, ya... pasti begitu" gumamnya dan tersenyum, lalu ia keluar dari kamarnya, lalu menemui kepala pelayan untuk menanyakan pekerjaan apa yang belum di lakukan maid lain


Nevy yang sedang terluka hanya di suruh melakukan pekerjaan ringan oleh kepala pelayan, ia bergegas membersihkan vas bunga yang berjejer rapi di luar ruangan


Xia yang sedang berjalan-jalan setelah keluar dari kamar Quirin melihat ke arah Nevy yang sedang membersihkan Vas bunga, tidak butuh waktu lama, ide lainnya muncul dari kepala kecil Xia


PRANKK


"Aaaa"


"Aduhh"


Xia jatuh terduduk didepan Nevy, dan begitupun sebaliknya, namun kali ini, yang terluka bukanlah Nevy, melainkan Xia "Aww, sakit... ughh... perih sekali" Xia merintih kesakitan


Staren, Arnius, dan Gavin yang kebetulan baru sampai mansion, mendengar suara pecahan dan teriakan yang begitu keras, mereka bertiga langsung berlari, mereka membelalakan mata ketika melihat banyak darah di lantai

__ADS_1


Vano yang juga mendengar rintihan Xia langsung mendatangi asal suara Xia, sesampainya ia di sana, ia terkejut melihat kondisi tangan Xia yang mengeluarkan banyak darah, ia menatap tajam ke arah Nevy dengan geram


"Kauu! kenapa kau lagi?, apa sebenarnya maumu?" bentak Vano dengan dingin, dengan cepat berlari kehadapan Xia dan melihat tangannya


"Bu... bukan aku" ucap Nevy yang sedikit ketakutan sambil menunduk


"Bagaimana mungin bukan kau?, lihat?, cuma kau yang berada disini" ucap Vano dengan penuh amarah, setelah ia melihat tangan Xia yang robek lumayan besar


"Ayo, kita hentikan darahnya terlebih dulu, setelah itu kita pergi kerumah sakit" ucap Vano sambil membawa Xia pergi ke kamarnya


Staren, Arnius dan Gavin, terkejut melihat tingkah Vano yang tidak biasa itu, setelah mereka melihat bosnya pergi dengan wajah khawatir dan dipenuhi amarah, mereka tidak bisa mengeluarkan satu katapun, hingga akhirnya mereka hanya berdiri disana sampai Vano hilang dari pandangan mereka


"Hey, kita yang sedari tadi berdiri di depan matanya saja tidak kelihatan olehnya" ucap Staren yang menyenggol Arnius dengan lengannya sambil menggeleng


"Ck, ck, ck, ck, sepertinya bos kita benar-benar sudah tergila-gila oleh pesona udang kecilnya itu" ucap Arnius berdecak lalu terkekeh


"Kau benar, hari ini adalah kali pertamaku melihatnya seperti itu" ucap Gavin yang masih heran


Staren menoleh kearah Nevy yang terduduk "Hey, apa kau tau harga vas bunga itu?" tanya Staren dengan tatapan tajam sambil menunjuk vas bunga yang sudah pecah


"Ti...dak tuan" ucap Nevy yang sudah pasrah karena ia tau betul bahwa dirinya akan dimarahi oleh ketiga bodyguard itu


"Ingin ku beri tau?" ucap Arnius yang mendekati Nevy, lalu berjongkok di depannya


Nevy tidak mengucapkan apapun, ia hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya


"Hey, gaji setahunmu saja, tidak akan cukup untuk membayar vas bunga ini" lanjut Arnius lagi, ia kemudian berdiri sambil melipat tangannya

__ADS_1


"Ma...af, maafkan aku....." ucap Nevy yang mulai menangis


"A, a, a, stop!, apa kau tau?, kau sama sekali tidak berbakat, heh!" ucap Arnius tersenyum smirk sambil mengayunkan jari telunjuknya kekanan dan kekiri


"Maksud tuan?" tanya Nevy dengan tersedu-sedu


"Eh?, kau tidak mengerti perkataanku?, selain tidak berbakat, ternyata kau juga lamban ya, atau... apa aku perlu bertanya jujur?, apa kau sebenarnya memang tidak berpendidikan?, dengan kata lain, bodoh begitu?" ucap Arnius yang terus mengolok Nevy tanpa henti


"Arnius, kau sudah berlebihan, nanti saja kita urus dia, karena sekarang... bukan kita yang mempunyai hak untuk mengintrogasinya" ucap Staren yang ikut berjongkok dan berbisik, Arnius pun mengangguk setuju, lalu mereka berdua bangkit


Melihat Nevy yang sedari tadi menangis, Gavin hanya bersikap biasa saja "Hey kau, tidak perlu mengeluarkan air mata, itu tidak akan mempan terhadap kami" ucap Gavin cuek sambil melirik kearah Nevy


Mereka bertiga berlalu pergi meninggalkan Nevy yang menangis dan memiliki berbagai pertanyaan di kepalanya


Bersambung...


Para pembaca jangan lupa tinggalkan jejak 👇


✓ Favorite


✓ Like


✓ Vote


✓ Gift


✓ Comment

__ADS_1


✓ Rate


Author sangat berterimakasih 🙏


__ADS_2