
Orang-orang yang ada di bawah langsung menjauh dari mayat Deanin, mereka pun langsung memanggil para polisi untuk segera datang ke lokasi kejadian.
Lalu ketika para polisi itu sampai, beberapa anak buah Max juga baru saja tiba.
Mereka semua di kejutkan dengan mayat Deanin yang telah memliki banyak lubang di tubuhnya, bahkan mereka juga melihat sebelah tangan Deanin berada tidak jauh dari tempat tubuhnya tergeletak.
"Siapa yang melakukan ini?" ucap bawahan Max sambil melihat keatas.
Ketiga bawahan Max sungguh sangat heran "Sebelum para polisi ini sadar, mari kita periksa bagian dalam perusahaan" ucap yang lainnya.
Ketiganya mengangguk secara bersamaan dan langsung berlari masuk kedalam perusahaan, betapa terkejutnya mereka melihat pemandangan yang sangat mengerikan itu.
Ketiga orang itu pun mulai mengelilingi bagian bawah kantor, namun mereka tidak menemukan adanya para karyawan perusahaan.
Perusahaan itu terlihat bagaikan lautan darah, orang yang tergeletak di lantai rata-rata memakai jas hitam serta sebuah alat di telinga mereka, dan mereka juga melihat dua wanita receptionis yang terbunuh.
"Siapa yang telah mendahului kita?" gumam bawahan Max.
Lalu salah satu dari mereka bertiga mendengar ada sebuah suara, lalu ia pun mengecek satu persatu meja yang ada disana.
"Mereka semua bersembunyi disini" teriak bawahan Max.
Kedua orang lainnya pun langsung menyuruh para karyawan keluar, ketiga orang itu mendampingi para karyawan dan orang-orang yang ada di luar sangat terkejut melihat para pegawai telah selamat.
"Sebenarnya apa yang ingin dia lakukan?, bukankah seharusnya ini tugas kita?," bisik Rafael pada temannya.
__ADS_1
"Benar, untuk lebih jelas sebaiknya kita tanya pada mereka" ucap Kenan sambil berjalan kearah para karyawan yang baru saja mereka selamatkan.
"Permisi, kami ingin bertanya, apa kalian tau ada berapa orang yang melukai rekan kalian?" tanya Kenan.
Salah satu karyawan itu menggelengkan kepalanya "Dia hanya sendirian, dan memakai sebuah topeng" jawab salah satu karyawan perusahaan Oswald.
Ketiga bawahan Max terkejut, mereka bahkan tidak merasa yakin dengan pernyataan karyawan itu, sehingga membuat salah satu dari mereka memastikan kembali, "Sendirian?, apa kau yakin?" tanya Sean yang sedari tadi diam.
"Benar tuan, kami melihat dia hanya sendirian, dia menerobos masuk dan langsung menembak para keamanan, dan dua resepsionis itu" ujar karyawan lainnya.
Sean yang mendengar itu memutuskan untuk pergi "Kita harus pergi sekarang dan memberitahukan kejadian ini pada tuan Max," ucap Sean sambil mengajak kedua temannya untuk mengikutinya.
Orang-orang yang ad di luar bahkan empat curiga bahwa seluruh para karyawan telah tewas, nyatanya tidak ada satu pun dari karyawan itu yang tersentuh dengan peluru.
Para polisi bahkan kebingungan untuk menyelidiki motif tersembunyi dari pelaku.
Max juga menghubungi Xeno, Vano, Arnius, Staren, dan Gavin. Mereka semua merasa terkejut mendengar berita itu dan dengan cepat mereka semua langsung terbang ke inggris.
Sedangkan Xura bergegas pergi kerumah sakit dengan membawa mobil secepat kilat, ia bahkan tidak memikirkan tentang keselamatan nya, Karne yang ada di dalam pikirannya adalah Zee, Zee dan Zee.
"Kau ingin mati, ha?" teriak Quiran didalam pikiran Xura.
Xura tampak mengacuhkan perkataan Quiran, baginya yang terpenting sekarang adalah menjenguk Zee yang sedang berada di rumah sakit.
"Sialan!, di saat seperti ini kau sungguh sangat menyebalkan" kesal Quiran.
__ADS_1
Setelah sampai di parkiran, Xura langsung membuka topengnya dan mengganti pakaiannya, lalu ia berlari masuk kedalam lift rumah sakit.
Wajah dan tangan Xura terlihat gemetar hebat. ia pun merasa sangat ketakutan.
Setelah sampai di lantai atas, Xura berjalan di lorong rumah sakit dan mencari kamar Zee, dari kejauhan, ia melihat Alica dan juga Max yang senang menunggu Zee.
"Alica, Max" Panggil Xura lalu berlari menghampiri mereka.
Keduanya menoleh dan mereka terkejut serta tidak percaya melihat Xura berdiri di hadapan mereka.
"Nona" ucap Alica yang masih dalam keterkejutannya.
Max kini menatap Xura dengan tajam, ia mengetahui seluruh kejadian yang ada di sekeliling Zee "untuk apa kau kemari?" tanya Max dengan suara dingin.
Max melihat di tangan dan kaki Xura terdapat bercak warna merah, bahkan tangan Xura terlihat sangat aneh, tapi Max berusaha untuk tidak perduli.
Xura terkejut mendengar nada bicara Max, dan saat Xura menoleh kearah Max, ia melihat Max tengah menatapnya.
"Aku ingin menjenguknya" jawab Xura sambil menghela nafas dengan kasar.
"Kenapa baru sekarang kau datang?" tanya Max lagi dengan aura membunuh yang menyerukan ruangan.
Xura tampak tidak menjawab perkataan Max, ia justru terdiam karena tidak tau harus menjawab apa.
"Jika kau tidak bisa menjawabnya, maka kau bisa pergi dari sini, karena kami saja sudah bisa mengurus Zee" usir Max dengan dingin.
__ADS_1
Padahal Zee sendiri selalu mencari keberadaan orang itu, tapi max dengan berani menolak kunjungan dari Xura.
Bersambung ...