Another Person Life

Another Person Life
Manusia?, iblis?, Monster?


__ADS_3

Quiran melangkahkan kakinya mendekati dinding, ia melihat-lihat benda apa yang ingin di ambilnya. Setelah selesai memilih, Quiran mengambil sebuah besi dengan ujung bergeringi tajam.


Clamy yang terus mendongakkan wajahnya, mencoba melirik kearah samping dan betapa terkejutnya ketika melihat benda yang ada di tangan Quiran.


Deg


"Apa yang akan dia lakukan dengan benda itu" batin Clamy ketakutan.


Quiran menoleh kearah Clamy, ia menampilkan senyum lebar yang bisa membuat orang ketakutan.


Clamy mencoba menggelengkan kepalanya dengan pelan, Quiran tidak memperdulikan gelengan itu, ia mendekati Clamy dan berjongkok di hadapannya. Sambil tersenyum Quiran menaruh gerigi besi itu di kaki Clamy.


Mmmm


Mata Clamy kembali mengeluarkan cairan bening, ia terus menggelengkan kepalanya dengan pelan agar Quiran tidak menyakitinya.


Clamy takut apa yang dia pikirkan akan terjadi, karena benda yang di pegang oleh Quiran benar-benar sangat mengerikan.


"Kau mengira aku mendengarkan mu?" tanya Quirin sedikit memberi jeda "tentu saja tidak!" lanjut Quirin lalu menekan gerigi itu menusuk sampai ke tulang kaki Clamy.


Ach!


Darah mulai keluar dari sela-sela gerigi besi, Clamy tidak sengaja membuka mulutnya, garpu yang tertancap di dua arah kini mengenai rahang dan tulang selangka Clamy. Ia meringis sambil memejamkan kedua matanya, lalu Clamy kembali menutup mulut dan menggigit lidahnya.


Air mata Clamy keluar dengan sangat deras, bahkan air mata itu mengalahkan derasnya aliran darah yang keluar dari kaki Clamy.


"Apa kau merasa puas karena sudah membalas temanku?, padahal kau yang meninggalkan Al tapi kenapa kau begitu kepanasan ketika Al mendekati wanita lain?, apa kau punya otak?, sepertinya tidak" ucap Quiran sambil menarik besi itu hingga membuat kaki Clamy sobek hingga memperlihatkan daging dan tulang kakinya.


Mmmm


Darah keluar dengan sangat deras, wajah Clamy sudah tampak pucat karena kehilangan banyak darah. namun Clamy masih bisa bertahan dan menangis dengan tubuh bergetar. Keringat dingin keluar dari tubuh Clamy hingga perban luka sebelumnya terlihat basah dan membuat luka itu terasa lebih menyakitkan.


Vano dibuat terkejut dengan tindakan Quiran, rasanya ia ingin sekali mengeluarkan isi perutnya, tapi demi melihat Clamy menderita, ia sebisa mungkin harus menahannya.


"Kemana perginya wajah sombong mu itu?, bukankah kau sangat suka menabrak orang?, bagaimana kalau aku menghancurkan kakimu saja?" tanya Quiran dengan tatapan tajam sambil tersenyum.


Clamy semakin berkeringat dingin melihat ekspresi wajah Quirin, ia yang menahan sakit kini harus melihat ekspresi mengerikan dari Quiran.


"Bagaimana mungkin seorang wanita bisa melakukan tindakan mengerikan seperti ini!, aku yakin dia bukan manusia!, melainkan iblis!"


Dengan rasa sakit itu, bahkan Clamy masih mencoba menerka-nerka siapa sebenarnya wanita yang ada di hadapannya ini.


"Kau pasti ingin mengetahui siapa aku?" tanya Quiran yang memajukan wajahnya hingga berhadapan dengan Clamy.

__ADS_1


"Aku Quiran!, aku lah sang alter ego" ucap Quiran dengan keras.


Vano yang mendengar itu membulatkan mata dan menahan napas, ia tidak menyangka rahasia yang selalu di sembunyikan oleh atasannya adalah Quiran.


Vano pernah mendengar Zee manggil nama Quiran saat mereka berada di hutan, tapi ia belum mengetahui siapa itu Quiran, artinya ia sudah beberapa kali membersihkan mayat dari hasil perbuatan Quiran.


Vano sendiri tidak menyangka bisa bertemu Quiran dalam keadaan seperti ini "pantas saja aku merasa asing dengan aura nona, ternyata dia orang lain" batin Vano yang sedari tadi menatap Quiran


Clamy juga membulatkan mata dan merasa tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Haha .. tentu saja kau tidak percaya, tapi aku tidak perduli dengan itu, aku hanya ingin kau tau saja bahwa aku bukanlah Quirin, melainkan Quiran sang alter ego. Jadi menurutmu aku ini apa?, manusia?, iblis?, monster?, atau yang lainnya?. Ah ... itu terserah kau saja, karena hanya kau yang bisa menebak itu" ucap Quiran sambil melepas tangannya dari besi yang menancap di kaki Clamy lalu memegang kepalanya untuk berpikir.


Clamy mulai menyesali perbuatannya, ia pernah membaca bahwa alter ego ada beberapa macam, jenis yang keluar dari tubuh Quirin adalah sang iblis. Keberadaan mereka sangat sulit di temui, mereka bukan tipe yang mudah memaafkan karena kesenangannya ialah melihat penderitaan orang lain.


"Jika aku tau dirinya memiliki alter ego, aku tidak akan pernah untuk menyinggungnya" batin Clamy dengan meneteskan air matanya.


"Setelah aku menceritakan jati diriku, kenapa ekspresimu berubah?, ah ... kau pasti sudah mengetahui jenis alter ego sepertiku" gumam Quiran sambil menganggukkan kepalanya.


Clamy menggelengkan pelan kepalanya, sekarang ini dirinya sungguh sangat menyesal, ia ingin mengatakan sesuatu tapi kedua garpu yang ada di leher menghadangnya untuk berbicara.


Quiran yang melihat ekspresi Clamy memutar bola matanya dengan malas.


"Tidak perlu memasang ekspresi seperti itu, karena kau sudah terlambat untuk bisa ku maafkan" ucap Quiran sambil menarik besi yang masih menancap di kaki Clamy.


Clamy merasakan sakit di kakinya, ia menangis sambil menahan suaranya dengan menggigit lidah sampai mengeluarkan darah.


Sobekan itu sampai ke ujung jari kaki, daging dan kaki Clamy terlihat secara menyeluruh.


Ueeeekkkkk


Vano terkejut melihat tindakan tiba-tiba dari Quirin, ia yang sudah tidak tahan langsung mengeluarkan isi perutnya di tempat itu juga.


"Vano, lepaskan saja garpu bid'ah itu, aku tidak puas jika tidak mendengar suara rintihan nya"


Vano menutup mulutnya dan membuka alat-alat yang terpasang pada Clamy.


Clamy yang terus mendongakkan wajahnya kini menunduk kebawah dan melihat kakinya sudah memperlihatkan seluruh tulang putihnya.


Arrrgghhhh


Betapa terkejutnya Clamy melihat kakinya, ia menangis sekuat-kuatnya. Rasa sakit itu sangat menyakitkam hingga membuat Clamy terus menangis.


Clamy yang tengah menangis menatap kearah Quiran "nona Quirin ... tidak!, nona Quiran kenapa kau menyiksaku sampai seperti ini?, tolong maafkan aku karena sudah menabrak temanmu, aku berjanji tidak akan mengusik orang terdekatmu lagi" ucap Clamy dalam tangis sambil memegang kakinya.

__ADS_1


"Bukankah kau tau aku tidak punya belas kasihan?, jadi jangan bermimpi untuk bernegosiasi denganku" ucap Quiran membuang besi itu lalu mengambil sebuah alat yang baru.


Clamy yang melihat itu kembali membulatkan matanya, dalam tangisnya ia mencoba membujuk Quiran "tidak nona!, tolong jangan lakukan itu!, jika kau membunuhku, kau akan ditangkap polisi dan masuk kedalam penjara, jadi biarkan aku pergi" ucap Clamy dengan penuh percaya diri.


"Polisi?, penjara?, mm ... jangan katakan padaku bahwa kau lupa apa yang terjadi di dalam mansion keluarga Alister?"


Clamy mengingat jelas kejadian disana, ia berpikir ada pembunuh yang tidak menyukai keluarga itu "ka-kau?, semua ini ulahmu?" tanya Clamy dengan gugup dan takut.


"Oh ... tidak, itu adalah perbuatan Quirin, kau tau artinya bukan?" ucap Quiran dengan tersenyum lalu sengaja menjeda perkataannya.


"Kami tidak bisa di tahan oleh siapapun" lanjut Quiran dengan tersenyum lebar sambil menyalakan gergaji mesin itu, ia bersiap-siap mengarahkannya kearah lutut Clamy.


"Tidak!, jangan lakukan itu, aku berjanji ak ..." perkataan Clamy terpotong dan di gantikan dengan suara teriakan yang begitu nyaring.


Arrrggghhhhhh


Quiran memotong lutut Clamy dengan memakai gergaji besi itu, percikan darah yang keluar mengenai seluruh wajah dan tubuh Quiran.


Setelah kaki Clamy terpotong, Quiran tampak sangat puas, bahkan ia tidak perduli dengan wajah dan tubuhnya yang terkena darah.


Vano hanya berdiri mematung di belakang Quiran, ia tidak berani bergerak dari tempatnya karena takut jika Quiran marah maka dirinya kembali menjadi tumbal.


Hiks hiks


Clamy menangis sambil meratapi nasibnya, ia terkulai lemas melihat salah satu kakinya sudah terpisah dari tubuh. Ia benar-benar sangat menyesal telah menggangu Xia.


"Ini lah hukuman yang di dapat jika melewati batas kesabaran Quirin!" ucap Quiran dengan nada dingin dan menatap Clamy dengan tajam.


Quiran bangkit dan memutar tubuhnya, ia melihat Vano sudah berkeringat dingin dan berdiri seperti patung tampa berkedip sekalipun.


"Kau takut?, tenang saja, aku tidak menyakitimu karena kau adalah bawahan Zee" gumam Quiran sambil tersenyum.


Vano bergidik ngeri, Walau wajah Quiran telah tertutupi darah, tapi tidak membuat kecantikan Quirin hilang. Siapapun yang melihatnya akan berpikir bahwa Quiran adalah iblis yang sangat cantik.


"Berikan dia obat Asam traneksamat untuk menghentikan pendarahan, lalu kirim dia ke penjara, aku mengampuninya karena aku tidak ingin melihatnya mati dengan mudah, apa kau mengerti?" ucap Quiran sambil menatap Vano yang sudah di banjiri oleh keringat.


Vano mengangguk dan masih tidak berbicara, rasa takutnya menyelimuti tubuhnya.


Quiran pergi meninggalkan ruangan itu, setelah merasakan aura Quiran menghilang, Vano menghembuskan nafasnya.


"Beruntung aku tidak pernah membuat nona marah" gumam Vano sambil mengelus dadanya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2