Another Person Life

Another Person Life
Kesempatan Terakhir


__ADS_3

"Sialan!, itu sangat menjijikkan!" umpat Rea sambil memegang dinding dan mengeluarkan isi perutnya.


Xeno yang juga ikut mengeluarkan isi perut merasa terkejut karena melihat Rea tengah mengumpat kesal.


"Ugh, apa yang ada didalam pikiran wanita itu?, jelas-jelas anak itu sudah mati, tapi kenapa harus membelah kepalanya juga?," ucap Staren sambil memegang perutnya yang sudah merasa keram.


"Jika kau bertanya maka kami semua tidak tau jawabannya, lebih baik kau bertanya pada alter ego itu" ucap Arnius yang sudah kesal karena sedari tadi terus memuntahkan isi perutnya.


Sedangkan Max, tidak bisa berkata apapun, ia terus saja mengeluarkan isi perutnya dan susah terkulai lemas.


"Mengerikan sekali alter ego itu, aku benar-benar tidak bisa berkata apapun lagi" ucap Max yng tengah terduduk dan menyandar di dinding.


Semua orang terduduk dengan dengan, sisa satu orang yang tidak duduk, siapa lagi kalau bukan Vano.


Mereka semua kini menatap kearah Vano, bahkan Jay yang sudah berumur juga ikut menatap Vano.


Vano yang merasa di tatap kini melihat kearah mereka semua "Apa?" tanya Vano binggung


"Apa kau sudah memperkirakannya?," tanya Xeno dengan mengerutkan dahinya.


"Tentu saja, karena pekerjaanku selalu membersihkan mayat hasil perbuatannya, apa tuan tidak belajar apapun?" ucap Vano dengan bangga.


Staren dan Arnius kini berpikir lagi, benar saja, hasil dari perbuatan Quirin dan Quirin selalu saja mengerikan, jadi tidak mungkin mereka melepaskan musuhnya begitu saja.


Xeno yang selalu pintar kini kala dengan Vano yang sudah bisa membaca situasi.


"Tunggu!" ucap Rea yang sedikit binggung.


Rea berdiri dengan lutut yang menumpu tubuhnya "maksudmu kakak sudah banyak membunuh orang?" tanya Rea dengan penasaran sambil menatap Vano.


"Ya nona, semua mayat itu bahkan tidak pernah ditinggalkan dengan kondisi tubuh yang utuh," ucap Vano sambil menganggukkan kepalanya sekali.

__ADS_1


Jay dan Rea kini saling bertatapan, Rea kini terduduk kembali dengan tidak percaya, ternyata perkataan Quiran semuanya benar.


Awalnya Rea tidak percaya, tapi ketika mendengar dari mulut Vano bahwa mereka yang mengurus mayat hasil perbuatan Quiran atau Quiran disaat itu juga Rea tidak bisa membayangkan apapun lagi.


Jay bahkan tidak bisa berbuat apapun, karena semuanya sudah terjadi, dan sekarang di tubuh keponakannya itu terdapat alter ego, jadi wajar saja jika mereka membunuh secara brutal seperti apa yang telah dia lihat tadi.


"Bagaimana kalau kakak tau pa?, maka, kehidupan damai keluarga besar akan sangat kacau pa" bisik Rea yang sedari tadi berada di sisi Jay.


"Papa juga tidak tau Rea, lebih baik sekarang tidak perlu memberitahu apapun padanya," ucap Jay sambil menunduk.


"Baik pa" ucap Rea sambil mengangguk setuju.


Di dalam ruang itu, hanya terdapat Zee, Quiran dan Grizo.


Quiran tengah menatap Grizo dengan tajam, namun Zee melangkah pelan kearah Grizo dan menghadang pandangan Quiran dengan tubuhnya.


Seketika mata Quiran itu menatap kearah Zee "Aku tidak memiliki waktu, lebih baik sekarang kau haru membawa tubuh Quirin pergi jauh dari sini" ucap Quiran sambil berjalan kearah Zee dan perlahan mata Quiran tertutup.


Zee tidak perduli dengan pakaiannya yng terkena noda darah, ia bahkan menggendong tubuh Quirin ala bridal style.


Ketika Zee akan melangkah keluar, tiba-tiba saja terdengar sebuah suara yang membuat Zee menghentikan langkah kakinya.


"Tuan muda, apa kau tau mengenai semua ini?" tanya Grizo dengan wajah tertunduk.


"Apa kau memiliki masalah dengan itu?," tanya Zee tanpa membalikkan tubuhnya.


Zee hanya mendengar suara tangis yang bergema, tangisan yang begitu menyayat hati mampu membuat hati Zee sedikit bergerak.


Dalam pikiran Zee , mau bagaimanapun Grizo adalah orang tua Quirin, dan sekarang hanya inilah yang bisa Zee lakukan sebelum mereka berangkat ke asia.


"Sementara aku akan menginap disini, jika dia sadar nanti, cobalah untuk berbicara padanya, karena ini akan menjadi kesempatan terakhirmu" ucap Zee sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


Grizo yang mendengar itu sungguh menyesali perbuatannya, tangisan itu seakan begitu sangat pecah. Bahkan orang yang berad diluar bisa mendengar suar Isak tangis Grizo.


Merek semu menunduk, pikiran mereka semua bahkan sudah tercampur aduk.


Tiba-tiba saja, Zee keluar dengan Quirin yang sudah berada di pangkuannya, sedangkan Zee melihat mereka semua tengah terduduk dengan wajah yang terlihat sangat pucat.


"Xeno, apa kau masih sanggup pergi keluar untuk membawa perlengkapan ku?," tanya Zee dengan wajah datar sambil melirik kearah Xeno.


Xeno yang melihat tatapan Zee begitu terkejut, kali ini tatapan Zee benar-benar tidak bersahabat. Mau tidak mau Xeno menyanggupi perkataan Zee.


"Sanggup tuan muda." ucap Xeno sambil berdiri dengan cepat dan berdiri tegap.


"Bagus, dan jangan lupa untuk membawa beberapa makanan dan minuman" ucap Zee sambil meninggalkan mereka semua yang tengah mematung.


Aura Zee begitu terasa di sekeliling mereka, bahkan semua yang ada disana bisa menebak bahwa Zee dalam suasana hati yang buruk. dan tebakan mereka sangatlah benar. Karena Zee terlihat sangat binggung dan ia tidak suka ketika habis Quirin bertukar dengan Quiran, ia pasti akan pingsan dan hal itulah yang menjadi penyebab Zee dalam suasana yang tidak baik.


Di tambah lagi, sebelumnya Xeno terus saja mencari masalah dengan Quirin, hal ini juga menjadi salah satu faktor Zee menatap Xeno dengan tajam.


Setelah Zee meninggalkan mereka semua, mereka semua bisa bernafas lega "kakak, kau sangat beruntung bisa mendapatkan hati tuan muda es itu, ketika kak Quiran menggila, dia bahkan bisa mengehentikan alter ego itu, sungguh kau sangat beruntung kak, aku yakin wanita yang ada diluar sana akan iri padamu." batin Rea sambil menatap punggung Zee yang semakin menjauh.


Xeno yang sudah mendapatkan perintah itu dengan cepat meninggalkan semua orang, ia bergegas pergi agar sang tuan muda itu tidak menatapnya dengan tajam lagi.


"Sial!, bisa-bisanya aku membuat tuan muda marah" gumam Xeno sambil memasuki mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.


Xeno bahkan tidak memperdulikan kondisi tubuhnya yang bisa dikatakan tidak sehat, dan juga ia bahkan keluar dengan penampilan berantakan. semua itu bahkan sudah tidak di memperdulikannya lagi hanya karena tidak ingin sang tuan muda marah padanya.


Sedangkan mereka yang masih berada di luar ruangan bawah tanah itu merasa tubuh mereka sudah pulih.


Semuanya bangkit dan pergi meninggalkan Grizo yang masih menangis didalam ruangan bawah tanah.


Bersambung ...

__ADS_1


Btw Author sendiri ngeri nulis eps sebelumnya, bahkan sampai merinding 🤧 terlalu ngeri jadi tolong jangan terlalu di bayangkan ya 🤧


__ADS_2