
Gavin langsung tersadar "maaf nona, kami tidak menyadari keberadaan nona" ucap Gavin sambil membungkuk.
Arnius dan Staren juga ikut membungkuk, mereka menghormati Quirin seperti layaknya tuan muda mereka. Tapi tidak dengan Vano, ia justru tidak memperdulikan keberadaan Quirin dan masih memejamkan matanya.
Kekesalannya terhadap wanita itu membuat Vano enggan untuk melihat wajah Quirin.
Quirin tersenyum lalu matanya menoleh kearah Vano "aku mempunyai hadiah untukmu" ucap Quirin, ia menyadari kalau Vano hanya berpura-pura tertidur.
Vano tetap memejamkan matanya, ia seakan tidak tertarik dengan pembicaraan Quirin.
Melihat Vano acuh padanya, Quirin mencoba berbicara kembali "hei, ini benar-benar hal yang bagus untukmu" ucap Quirin mengerucutkan bibirnya.
Ketiga pengawal itu tertawa kecil melihat tingkah Quirin yang cukup menggemaskan karena Vano bersikap acuh padanya. Mengetahui dirinya di tertawai oleh ketiga orang itu, Quirin menoleh dan menatap ketiganya dengan tajam.
Mereka bertiga tersentak kaget dan langsung menunduk "bagaimana bisa bos Vano mengacuhkan orang seperti ini" batin ketiganya bersamaan
Quirin memberikan hasil belanjanya pada ketiga orang itu, lalu ia duduk di sebelah Vano sambil membuka laptopnya. Quirin memutar sebuah video dengan volume yang cukup keras.
Arnius, Staren dan Gavin yang mendengar itu langsung tercengang "nona!" teriak ketiganya secara bersamaan.
Quirin hanya acuh tak acuh, ia tidak memperdulikan teriakan ketiga pengganggu itu, dengan polosnya Quirin tetap membiarkan laptopnya menyala dan menaruh tangannya di Vano, sedangkan Vano yang mendengar suara dari video itu langsung membuka mata dan menatap kearah laptop Quirin.
"Aku baru saja ingin memulainya, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun" ucap Quirin tersenyum.
Terlihat jelas senyuman terbit di wajah Vano "bos, kau benar-benar menikmatinya ya" ledek Gavin
Spontan Vano langsung menutup laptop itu dengan sangat kuat "hei, tidak perlu menggunakan tenaga badak pada laptopku" ucap Quirin sambil mengelus laptop barunya.
"Kau yang memulainya nona" ucap Vano dengan datar
__ADS_1
"Kau ini!, bukannya berterimakasih padaku, tapi kau justru menuduhku memulai semua ini, jika bukan karena melihat wajah jelekmu, aku tidak akan memutarnya dengan keras" ucap Quirin sambil melihat Vano dengan tajam.
Staren, Gavin dan Arnius tidak bisa lagi menahan tawa mereka, tawa itu terdengar keras keseluruh lantai VVIP, hingga saat dokter Al datang, ia seakan berterimakasih kepada Quirin karena mampu membuat suasana disekitar empat orang itu kembali hidup.
"Terimakasih nona, jika tidak ada dirimu, aku pasti tidak akan pernah melihat mereka tertawa lagi" batin Al
"Nona" tegur Al
Quirin yang mendengar itu langsung berdiri dan menoleh kebelakang, sedangkan ketiga orang itu langsung berhenti tertawa, sedangkan Vano hanya memegang laptop Quirin lalu membuang wajahnya kesegala arah.
"Bagaimana perkembangannya?" tanya Quirin
"Masih belum ada perkembangan nona, benturan itu terlalu keras, beruntungnya masa kritisnya sudah lewat, tapi dia masih dalam keadaan koma" ucap dokter Al dengan wajah menunduk.
"Hah ... Sekarang ini ingin sekali aku menghajar mu, jika bukan karena mu maka Xia tidak akan berada disini" ucap Quirin dengan menghela nafas.
"Maafkan aku nona" ucap dokter Al dengan rasa bersalah.
Dokter Al, Staren, Gavin dan Arnius menatap kearah Vano, mereka mengerti untuk siapa perkataan itu. tapi orang yang duduk malah tidak mengerti sama sekali.
"Bos Vano"
"Kau tidak pergi dengannya?"
"apa?" tanya Vano heran karena keempat menatapnya dengan tatapan binggung.
"Quirin mengajakmu membalas dendam pada Clamy, apa selama tidak bertugas otakmu menjadi lambat?" ucap Al dengan berterus terang.
Vano masih tetap tidak mengerti, ia masih mencerna ucapan keempat orang itu. Sedangkan Al yang sudah tidak sabar lagi langsung mendekat lalu menendang Vano dengan keras hingga membuat Vano dan laptop yang ada di tangannya terjatuh.
__ADS_1
"Dasar lambat!, Pergilah sebelum nona berubah pikiran" ucap Al kesal
Vano tersentak kaget lalu ia langsung berlari dan turun menggunakan lift dengan memencet tombol dengan wajah panik.
Ketiganya kembali tertawa renyah, sedangkan dokter Al hanya menggelengkan kepala.
Vano berlari sambil memegang laptop Quirin, ia melihat Quirin sudah berada di parkiran.
"Nona!" teriak Vano sambil berlari
Quirin yang mendengar itu berpura-pura tidak mendengar, ia bahkan melangkah lebih cepat agar Vano berlari dengan sekuat tenaga.
Saat Quirin sudah memasuki mobil dan ingin menjalankan mobilnya, tiba-tiba Vano sudah berada didepan mobil Quirin, ia pun langsung menghentikan mobilnya secara mendadak.
Vano langsung masuk dan duduk di samping pengemudi "kau ingin aku mati ya?!" teriak Quirin dengan tatapan tajam.
"Ma-maaf nona" ucap Vano dengan nafas tersengal-sengal.
"Sudahlah, aku berpikir sepertinya lokasi pemotretan Clamy sedang terganggu karena video yang baru saja aku sebar luaskan" ucap Quirin sambil melajukan mobilnya.
"Bukankah dulu nona menolak untuk membalaskan dendam Xia?, tapi kenapa sekarang nona berubah pikiran?"
"Hei lambat, Xia adalah temanku, tidak mungkin aku membiarkannya berada diluar sambil bersenang-senang sedangkan Xia justru berada diranjang rumah sakit, aku membiarkannya disaat-saat terakhirnya menghabiskan masa indah itu. sekarang adalah bagi kita untuk membuatnya berada diranjang rumah sakit, dengan begitu kita impas, bukankah begitu?" jelas Quirin
"Maaf, maafkan aku karena sudah salah menilai nona" ucap Vano dengan wajah tertunduk
"Tidak perlu seperti itu, aku juga menunda membalas Clamy karena urusan pribadiku sungguh rumit dan untuk itu aku perlu usaha yang cukup besar agar bisa mencapainya" ucap Quirin
Setelah mereka sampai di lokasi pemotretan, Quirin melihat didepan lokasi sudah banyak sekumpulan orang yang meminta agar Clamy dipecat sebagai model ternama.
__ADS_1
"Sudah dimulai, sekarang waktunya giliran kita" ucap Quirin sambil menerobos masuk.
Bersambung ...