
"Pemilik Sterfolia bernama Auristella dan itu sama dengan nama tengah Xura" ucap Alpha sambil menyandarkan kepalanya pada kursi
"Haha...ekspresi tuan muda sangat lucu" ucap Theo yang tertawa terbahak-bahak
Ditengah-tengah Alpha yang sedang berfikir, berbagai ekspresi di perlihatkan oleh Alpha, Theo yang melihat itu justru membuatnya menertawai Alpha
"Jangan tertawa Theo, kau ingin seharian menemani peliharaan ku?" ucap Alpha tegas sambil menatap tajam Theo
Theo yang mendengar itu menggelengkan kepalanya dan membungkam mulutnya hingga tertutup rapat.
Alpha yang melihat Theo bungkam langsung merubah ekspresinya menjadi santai "Kenapa kita tidak menyadarinya selama ini" ucap Alpha sambil berfikir, ia bangkit dari kursi kebesarannya dan menatap keluar jendela
"Saya juga merasa terkejut tuan, tapi ada satu keanehan lagi" ucap Theo mengingat-ngingat sambil menepuk-nepuk pelan kepalanya
Setelah mendengar itu Alpha hanya memutar kepalanya kearah kebelakang melihat Theo dengan aneh
"Aku ingat....Nama Yvon yang ada di Sterfolia, sepertinya sama dengan nama asisten perusahaan Xavier" ucap Theo menebak-nebak
"Tidak mungkin sama, nama asisten diperusahaan Xavier itu Fayre Yv..." ucap Alpha menggantung sambil menatap Theo dengan intens
"Itu hanya dugaan saya tuan, saat kami bertiga memasuki ruangan nona bersama, nona hanya menyuruh saya berjaga diluar" ucap Theo yang masih melihat Alpha
"Sepertinya ini akan menjadi tugasmu Theo, aku sangat pusing memikirkan ini, rahasia sebesar ini jika sampai bocor, Xura akan menjadi incaran semua orang" ucap Alpha membalikkan badannya menatap keatas
"Saya mengerti tuan muda, saya akan menjaga rahasia ini baik-baik" ucap Theo tegas dengan meyakinkan Alpha
"Aku tidak meragukan kesetiaanmu Theo, jadi jangan mengecewakanku, pergilah! cari tau informasi mengenai Xura" ucap Alpha sambil membuat tangannya seperti mengusir Theo
Theo beranjak dari duduknya sambil membungkukkan sedikit tubuhnya dan berjalan keluar ruangan.
Theo tidak jadi keluar ia malah kembali memutar badannya dengan berjalan mendekati Alpha dan menepuk pundaknya, saat Alpha membalikkan badan ia ingin memarahi Theo karena memegang tubuhnya tanpa izin, namun setelah melihat gestur tangan Theo membuatnya mengerti.
Theo menggerakkan satu jari kedepan mulutnya, lalu ia mengambil alat tulis dan sebuah kertas, tangan Theo menari-nari diatas kertas membuat Alpha merasa binggung melihat Theo menulis.
"Tuan muda, sepertinya ada yang menguping pembicaraan kita, saat saya masuk pintunya sudah tertutup rapat, namun sekarang pintu itu sedikit terbuka dan saya melihat sebuah bayangan" tulis Theo sambil menunjukkan tulisan itu kehadapan Alpha
Setelah membaca tulisan Theo, Alpha membulatkan matanya "Siapa yang menguping pembicaraanku, tapi tidak ada seorangpun dirumah ini yang berani berbuat seperti itu" batin Alpha sambil menatap kebawah
Alpha mendongakkan kepalanya dan melihat Theo dengan tatapan tidak percaya, Theo hanya menghela nafas pelan kerena tidak mendapat kepercayaan tuan mudanya
Alpha berjalan menuju sofa, ia mendaratkan tubuhnya untuk menenangkan fikiran.
"Sudahlah, aku bisa mencarinya pelakunya sendiri" batin Theo membalikkan badan dan meninggalkan ruangan
Saat Theo hampir mencapai pintu, lagi-lagi ia melihat bayangan itu, ia berlari kecil menghampiri meja Alpha
"Shiittt" gumam Theo sambil mengepalkan kedua tangannya
Alpha melihat Theo berlari kecil ke meja lagi membuat Alpha sedikit heran, namun ia tidak membuka mulutnya sedikitpun.
__ADS_1
Theo menghampiri alpha dan menunjukkan tulisannya "Apa tuan tidak melihatnya? Sepertinya dia masih lanjut menguping karena saya masih belum keluar dari ruangan tuan" tulis Theo lagi
Alpha hanya menggeleng dan mengerutkan dahinya tanpa mengeluarkan suara.
"Saya pamit tuan muda" ucap Theo dengan keras sambil mengedipkan sebelah matanya.
Alpha mengerti arti kedipan mata Theo "Pergilah, kau sangat mengganggu Theo" ucap Alpha dengan lantang sambil melihat kearah pintu
Theo dan alpha sama-sama melihat kearah pintu, ternyata benar ada sebuah bayangan yang berlari setelah mendengar alpha menyuruh Theo keluar.
"Siapapun kau, aku tidak akan mengampunimu!" batin Alpha berdiri dengan mengepalkan kedua tangannya
"Saya akan mengurus ini tuan"
"Tidak perlu, kamu lanjutkan mencari informasi mengenai Xura, untuk yang ini, biar aku yang mengurusnya"
"Baik, saya permisi tuan"
****
Quirin melihat Zee menuruni anak tangga "kau ingin kemana?" tanya Quirin
"Perusahaan" jawab Zee singkat
Mendengar kata perusahaan membuat mata Quirin berbinar "Aku ingin ikut" ucap Quirin
"Tidak, kau tidak pernah terjun langsung ke perusahaan" ucap Zee singkat sambil berjalan keluar
"Baiklah, kau bisa ikut, dalam waktu 5 menit kau sudah harus berada di depanku" ucap Zee datar
"Memberi waktu hanya sedikit, dasar menyebalkan" gumam Quirin kesal
"4 Menit" ucap Zee sambil melihat arloji yang berada ditangan kirinya
Quirin yang masih diam di tempat langsung tersentak kaget dan berlari menaiki tangga menuju kamarnya, ia dengan segera mengganti baju serta mengoleskan sedikit make up.
"Sangat menggemaskan" batin Zee tersenyum tipis
Quirin dengan cepat berlari kehadapan Zee "Aku sudah selesai, mari kita berangkat" ucap Quirin tersenyum tipis
Zee hanya menatap dengan kagum "Hanya polesan sedikit masih membuat wajahnya terlihat cantik, aku benar-benar tidak salah memilih" batin Zee
Zee langsung berjalan didepan Quirin tanpa mengeluarkan suara, mereka memasuki mobil yang dikendarai oleh Xeno
"Jangan membuat kekacauan, jika tidak, hutangmu akan bertambah" ucap Zee datar
Quirin hanya mengangguk "Aku sangat merindukan perusahaan yang ada diasia, aku ingin mengetahui bagaimana Yvon menangani perusahaan itu sendirian" batin Quirin
"Jika aku memiliki kesempatan, aku harus pergi dari sini" batin Quirin
__ADS_1
Setelah sampai di perusahaan, Zee, Xeno serta Quirin masuk kedalam perusahaan, Seperti biasa mereka berdua akan menjadi pusat perhatian, namun kali ini berbeda
"Siapa wanita itu, kenapa jalan beriringan dengan tuan muda" bisik para karyawan wanita
"Aku tidak pernah melihat tuan muda membawa wanita kedalam perusahaan" bisik karyawan lainnya
"Dia sangat beruntung bisa berjalan di samping tuan muda" ucap karyawan yang merasa iri pada Quirin
"Wanita itu sangat cantik, aku ingin mendapatkannya, tapi dia sudah menjadi milik tuan muda" ucap karyawan pria dengan pelan
"Jangan mencoba merebut apapun dari tuan muda, dia tidak akan berpaling dari tuan muda hanya demi wajah yang seperti ini" ucap karyawan pria lainnya sambil tertawa
Quirin berjalan dengan santai, ia mengabaikan perkataan dan ucapan para karyawan yang melihatnya
Zee melirik kesamping melirik Quirin berjalan dengan elegan dan memiliki daya tarik "Seperti sudah biasa menghadapi situasi seperti ini" batin Zee sambil tersenyum smirk sambil memikirkan sebuah ide
Saat berjalan ingin memasuki lift Zee memegang tangan Quirin, Xeno dan para karyawan lainnya terkejut dengan perlakuan Zee pada Quirin
Quirin sebagai orang yang digandeng cukup terkejut karena sikap Zee "Lepaskan, kau hanya membuat mereka salah paham" ucap Quirin sambil memberontak untuk melepaskan tangannya lalu melihat keadaan disekitarnya, ia melihat tatapan mata para karyawan seperti berapi-api.
"Ingat kontrak kita" ucap zee datar, ia tidak memperdulikan Semua yang ada disekitarnya
Mendengar itu membuat nyali memberontak Quirin menjadi mengecil "Tuan muda es ini sungguh membuatku muak" batin Quirin kesal
Quirin menghembuskan nafas pelan, Ia tidak lagi memberontak dan hanya bisa membiarkan apa yang dilakukan Zee padanya.
Sedangkan Xeno yang mendengar penuturan Zee hanya tertawa kecil "Caranya mengikat Quirin seperti anak kecil" batin Xeno
Mereka bertiga memasuki lift Khusus "Untuk apa kau berbuat seperti itu?, kau tidak melihat tatapan aneh mereka?, seolah-olah hanya kau pria di dunia ini, padahal banyak yang lebih tampan darimu" ucap Quirin kesal sambil menatap tajam Zee
"Jangan berkomentar apapun jika tidak ingin hutangmu bertambah" ucap Zee datar
"Ck" decak Quirin dengan kesal sambil melipat kedua tangannya
Bersambung...
Para pembaca jangan lupa tinggalkan jejak 👇
✓ Favorite
✓ Like
✓ Vote
✓ Gift
✓ Comment
✓ Rate
__ADS_1
Author sangat berterimakasih 🙏