
Walau dirinya terus di tolak oleh Xura, tapi ia tetap mencoba dan terus berusaha membujuk Xura "Bisakah kau melupakan semua kejadian ini dan kita kembali bersama seperti dulu?" tanya Feryun yang terus mencoba berbicara dengan Xura.
Xura yang mendengar itu mengeryirkan dahinya, kini ia pun membuka mata itu "pergilah, sebelum kesabaranku habis!" ucap Xura sambil menoleh kearah Feryun dan memelototinya.
Sontak saja Feryun terkejut dan ia menghela nafas kasar "Baiklah" ucapnya sambil berdiri dan meninggalkan Xura sendirian di kursi itu.
"Menyebalkan sekali, bisa-bisanya di berkata seperti itu" ucap Xura sambil menatap punggung Feryun.
Saat Feryun kembali ke keluarganya, mereka melihat Feryun kembali dengan wajah sedih, mereka sudah bisa menebak bahwa Xura kembali menolak berbaikan dengan mereka.
"Sudah tidak apa-apa nak, wajar saja dia membenci keluarga kita, karena di telah di permainan oleh bibi mu, dan juga, saat itu kita tidak mendukung keputusannya" ucap Amber sambil mendekati Feryun dan menepuk punggungnya.
"Ma, aku sungguh sangat menyesal, padahal aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri" ucap Feryun sambil memeluk amber dan menenggelamkan wajahnya di pundak Amber.
"Tidak apa-apa, nak. Kita masih bisa mencobanya di lain waktu" ucap Amber dengan menguatkan anaknya.
Feryun benar-benar merasa sedih, awalnya ia tidak bisa menerima Xura, tapi secara bertahap ia merasa sangat menyukai Xura.
Ia sangat suka ketika Xura memeluknya dan memanggilnya kakak, Feryun tidak menyangka bahwa orang yang selama ini di cari justru telah menjadi adiknya.
Xia yang melihat keluarga itu bersedih mulai mengepalkan kedua tangannya, ia pun melangkah pergi tanpa sepengetahuan mereka, lalu saat Xia ingin menghampiri Xura, tiba-tiba saja Vano menghalangi jalan Xia.
"Berhenti!" ucap Vano sambil berdiri di tengah lorong dan memanjangkan tangannya agar Xia tidak menerobos masuk.
__ADS_1
Xia terkejut melihat Vano menghalanginya, ia pun tidak berbicara dan akan mulai menerobos masuk.
"Jangan menguji kesabaranku, Xia" ucap Vano dengan menaikkan nada bicaranya.
Xia semakin terkejut mendengar perkataan Vano, ia pun langsung mengeram marah "aku tidak berurusan denganmu, jadi menyingkirkan dari jalanku" ucap Xia sambil melototkan matanya.
"Apa kau ingin berurusan dengan Xura?" tanya Vano lagi.
Xia merasa heran karena Vano tidak memanggil Xura dengan sebutan nona lagi "kau langsung memanggilnya Xura?" tanya Xia penasaran.
"Ya, dia pacarku, jadi sangat wajar jika aku langsung memanggil namanya" ucap Vano dengan datar.
"A-apa!" teriak Xia.
Vano mengernyitkan dahinya karena mendengar teriakan Xia "Kau tidak bisa mendengar ku?, biar ku perjelas, Xura adalah pacarku!, jadi semua yang berurusan dengannya maka akan harus berurusan dengan ku juga" ujar Vano dengan tegas.
Pertanyaan itu terus berputar di dalam pikiran Xia, sedangkan Vano bisa melihat keterkejutan Xia, tapi ia seolah tidak perduli dengan ekspresi yang di tampilkan Xia.
"Ta-tapi, bukankah kau ..." perkataan Xia menggantung karena air matanya sudah mulai menetes.
Vano sangat mengerti apa yang akan di katakan Xura, tapi ia mencoba tetap bersikap tenang dan cuek "pergilah, dan jangan pernah datang menemui pacarku" ucap Vano sambil meninggalkan Xia yang sedang berdiri seperti patung.
"Sepertinya kita memang tidak di takdirkan untuk hidup bersama" batin Vano.
__ADS_1
Xia yang tadinya sangat geram dengan Xura, kini harus mendengar perkataan pahit bahwa Vano dan Xura tengah berpacaran.
Xia langsung berbalik badan dan melangkah pergi dengan pelan, ia juga berjalan sambil termenung karena perkataan yang keluar dari mulu Vano sangat membuatnya terkejut.
"Kesalahan apa yang sudah aku perbuat padanya?, kenapa dia mengambil Vano dariku?" gumam Xia dengan air mata yang mulai mengalir.
Selama ini, Xia menyembunyikan fakta bahwa dirinya telah menyukai Vano, ia sangat suka jika keduanya sering berselisih, karena hal itulah ia juga sengaja berpura-pura menjadi pacar Al.
Saat terbangun di rumah sakit, Xia bahkan sangat senang melihat kehadiran Vano, dan karena ingin melihat Vano, Xia beralasan ingin bertemu dengan Quirin dan ikut terbang ke Singapura.
Namun siapa sangka, Xia justru harus mendengar fakta bahwa Vano telah berpacaran dengan Xura.
"Apa karena saat itu aku ingin membela Quirin, lalu kau dengan sengaja merebut Vano dariku?" gumam Xia sambil menitikkan air matanya.
Xia berjalan tak tentu arah, ia bahkan berjalan sambil termenung, perkataan Vano membuat Xia menjadi sedih.
Kaki Xia seolah tak bertenaga lagi, ia seperti telah kehilangan kekuatannya, ia pun jatuh terduduk dan sambil menangis.
Orang-orang yang ada di lorong itu pun kini mendekati Xia, mereka pun membantu Xia untuk berdiri dan menuntunnya duduk di kursi tunggu.
Melihat orang-orang sudah mengelilinginya, Xia pun langsung mengatakan bahwa kakinya tidak apa-apa.
Setelah semua orang pergi, Xia kembali menangis dan ia pun menutup wajah dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Kenapa bisa menjadi seperti ini?," gumam Xia sambil menangis terisak
Bersambung...