Another Person Life

Another Person Life
Kau Tidak Harus Melanggar Prinsip dan Sumpah yang Sudah Kau Miliki.


__ADS_3

"Tidak!, tidak!, apa yang akan kau lakukan" ucap Gilma dengan air mata yang mengalir dengan deras.


Xura tidak menanggapi apa yang di katakan oleh Gilma, "Aku tau, Kau pasti tidak menyangka serta bertanya-tanya kenapa aku yang notabennya orang luar, justru bisa mengetahui rahasia besar mu ini, apakah aku benar?" ucap Xura sambil mendekatkan pamantik api itu ke tangan Gilma.


"tidak!, aku mohon, jangan lakukan itu" ucap Gilma dengan menangis tersedu-sedu.


"Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku akan mendengarkan mu?," ucap Xura sambil menempelkan pemantik itu ke ku liat Gilma.


"Panas!, panas!, singkirkan api itu" teriak Gilma dengan suara yang keras.


Kulit Gilma terlihat sangat menjijikkan, hingga luka bakar itu sampai memperlihatkan daging Gilma.


Lalu tiba-tiba saja, seseorang masuk dan ia terkejut melihat Xura sedang menyiksa Gilma.


Saat orang itu ingin melangkah, Xura pun langsung berbicara dengan sangat lantang. "Kau tau itu panas?, tapi kau sendiri bahkan tega membunuh kakakmu, apa kau berpikir luka bakar yang di alami Gilan itu tidak menyakitkan?," tanya Xura yang tidak mendengarkan teriakan Gilma.


"Apaa!" teriak seseorang yang baru saja masuk.


Gilma bahkan terkejut mendengar teriakan Al, ia tidak menyangka kini Al sudah mengetahui rahasia besarnya "bagaimana bisa berakhir seperti ini?, padahal aku sudah menyimpan rahasia itu bertahun-tahun lamanya, tapi karena wanita ini, sekarang rahasiaku telah terbongkar" batin Gilma sambil menatap Xura dengan tajam


Vano yang sudah sangat marah tidak mengetahui merasakan bahwa seseorang telah masuk keruangan Gilma. Sedangkan Xura, ia mengetahui langkah seseorang namun ia seolah tidak memperdulikan orang itu dan tetap melanjutkan menyiksa Gilma.


Xura melihat tatapan Gilma yang sangat membencinya, tapi ia tidak menanggapi tatapan itu "Jika sekali lagi kau berteriak, aku tidak segan-segan membakar mulut mu itu" ucap Xura sambil menoleh kearah pintu dan melepaskan pemantik api itu dari kulit Gilma.


Hiks

__ADS_1


Hiks


"Sakit!" ucap Gilma sambil meringis kesakitan.


Al mengeryirkan dahinya "Maaf nona, apa benar yang baru saja nona katakan?, jadi selama ini, dia yang sudah membunuh Gilan?" ucap Al yang baru saja masuk, sebenarnya ia ingin mengecek keadaan Gilma, tapi ia justru di kejutkan dengan kehadiran Vano dan Xura.


Xura tidak menanggapi perkataan Al, ia tetap berfokus untuk menyiksa Gilma "Padahal saat itu aku sudah mengatakan bahwa aku mengetahui seluruh rahasia mu, dan aku juga berusaha memperingatkan mu untuk tidak mengangguk ku, tapi kau malah tidak mendengarkan peringatan ku dan justru memukul meja makan dengan sangat kuat. Lalu kau mencoba menjauhkan ku dari keluarga Zee dengan cara menyuruhnya memilih antara dirimu atau diriku, kau bahkan mengancam dengan menjatuhkan diri dari atas balkon. kau pasti tidak menduga bahwa kau akan berakhir seperti ini. Jujur saja, aku memiliki sifat yang sangat suka mengabulkan permintaan orang, jadi aku dengan berbaik hati mengabulkan permintaanmu itu. Apa sekarang kau memiliki permintaan lain nya?" tanya Xura sambil terus menghidupkan pemantik api.


Al sungguh sangat terkejut mendengar perkataan Xura, mereka semua bahkan tidak menyadari bahwa ternyata Xura sudah mengetahui masalah itu sampai ke akar-akarnya.


"Astaga, aku tidak menyangka bahwa wanita ini lah yang membunuh kakaknya sendiri" ucap Al sambil memegang kepalanya.


"Aku harus memberitahukan semua hal ini pada Zee" ucap Al yang sedang mengeluarkan ponselnya.


"Jangan sekali-kali melaporkan hal ini pada Zee, siapapun yang membongkarnya, maka aku akan membakar orang itu hidup-hidup seperti ini ... " ucap Xura sambil menoleh kearah Al dan menyalakan pemantik api itu lalu menempelkannya pada kulit Gilma.


"Panas!" teriak Gilma dengan kuat.


Al tidak tau bahwa Xura tidak ingin memberitahukan masalah itu pada Zee, "tapi ... nona" perkataan Al terputus ketika Vano langsung memotong perkataannya.


"Tuan, lakukan saja seperti apa yang nona katakan" ucap Vano sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan.


Al mulai mengerti ketika melihat kepala Vano menggeleng dengan pelan, ia tidak menyangka bahwa Vano juga sudah mengetahui semua itu.


"Baiklah nona" ucap Al sambil berjalan mendekati mereka.

__ADS_1


Al mulai mengeram marah, ia pun langsung menatap Gilma dengan tajam dan saat Al mengambil sebuah pisau dan akan segera menggoreskan pisau itu pada kulit Gilma, tiba-tiba saja Xura memegang tangan Al bermaksud untuk menghentikannya.


"Kau tidak bisa melakukan ini, hanya karena dia membuat Zee menderita, kau tidak harus melanggar prinsip dan sumpah yang sudah kau miliki. Serahkan saja tugas ini padaku, jadi sekarang kau hanya bisa menonton dan melakukan sesuai apa yang telah menjadi profesi mu" ucap Xura sambil mengambil pisau yang ada di tangan Al dan ia pun mulai mengikis kulit Gilma yang sudah meleleh itu.


Aaarrggghhh


"Sakit!" teriak Gilma dengan sangat keras.


Al sangat terharu mendengar perkataan itu keluar dari mulut Xura, ia tidak menyangka bahwa Xura sangat mengetahui tentangnya "Kau adalah nona yang sangat luar biasa, entah kenapa, sekarang aku merasa bahwa kau telah memahami kami semua" batin Al sambil tersenyum.


Sekarang ini, Gilma sangat ingin mengamuk, tapi ia sama sekali tidak bisa berbuat apapun "Kenapa kau melakukan ini padaku?, kita tidak memiliki dendam satu sama lain, hiks" ucap Gilma sambil menangis dengan keras karena tidak kuat menahan sakit di tangannya.


"Tidak memiliki dendam?, apa kau pantas berkata seperti itu setelah apa yang kau lakukan pada kami?, baiklah, aku akan membuat mu mengingat semua perlakuan mu pada kami ..."


"Pertama, kau ingin membunuh Zee, tapi ternyata Gilan lah yang menjadi korbannya. Kedua, kau dengan sengaja menuduh Zee sebagai pembunuh Gilan. Ketiga, kau membuat Zee murung selama bertahun-tahun. Keempat, kau menempel pada Zee dan memerasnya dengan mengatasnamakan Gilan. Kelima, kau telah berani mengusikku ... " Xura pun mulai menghitung dengan jarinya, kalau ketika jari itu menampilkan urutan ke lima, wajah Xura tampak berubah.


Xura menampilkan senyuman smirk, kini ia melihat bahwa daging tangan Gilma telah terlihat sangat jelas. Lalu Xura memiliki ide yang sangat brilian.


Di sebelah tangan kanan Xura terdapat pemantik api, dan di sebelah kiri Xura terdapat pisau yang sudah terkena noda darah Gilma.


Lalu Xura memanaskan pisau itu menggunakan pemantik api, Gilma yang melihat tindakan itu pun langsung melototkan matanya.


"Tidak!, jangan lakukan itu!" teriak Gilma dengan sangat keras.


Gilma menatap Al dan Vano, "kak Al, kak Vano, tolong aku" teriak Gilma histeris sambil menitikkan air matanya.

__ADS_1


Al dan Vano tak bergeming, mereka menganggap teriakan itu sebagai angin berlalu, bahkan mereka juga hanya menatap Gilma tanpa berniat untuk menolongnya.


Bersambung ...


__ADS_2