
"Jadi, kau benar-benar tidak akan membiarkanku membantumu sedikitpun?" tanya Zee lagi yang sedikit penasaran namun memasang wajah yang datar
"Tidak" ucap Quirin dengan tegas
Sebenarnya, ia bukan tidak ingin meminta bantuan padanya, tetapi Quirin sekarang bukanlah Quirin yang dulu, Quirin yang lemah lembut itu sudah sirna semenjak jiwanya terganti, yang tersisa hanya alter ego yang berada di dalam tubuhnya
"Apa kau lupa dengan perjanjian yang kita sepakati?" tanya Zee dengan dingin
Ya, Quirin memang lupa akan perjanjian yang sudah mereka sepakati, namun saat teringat, ia dengan cepat berkata "Aku tidak melupakannya, tapi aku mohon, aku ingin membalaskannya sendiri"
"Baiklah aku menyetujuinya, tetapi aku akan tetap mengawasimu dari belakang, setuju?" tanya Zee dengan datar
Quirin mendengar ucapan Zee langsung sumringah "baiklah, tidak masalah!, em... satu hal lagi..." ucap Quirin menggantung dengan mengangkat tangannya dan membuat angka satu tepat di depan wajah Zee
Zee hanya diam menatap ke arah Quirin, Quirin yang tidak mendapat respon apapun dari Zee menurunkan tangannya dan bergegas melanjutkan perkataan yang sempat menggantung
"Apa kau akan marah jika aku berbuat sesuatu dengan seseorang di mansion mu?" tanya Quirin hati-hati
Alasan Quirin meminta izin adalah karena takut melakukan sesuatu yang bisa membuatnya rugi, jika salah-salah ia hanya akan menambah hutangnya, sebelum itu terjadi lebih baik ia menanyakan terlebih dahulu sebelum bertindak
Zee yang mendengar pertanyaan tersebut langsung mengerti arah pembicaraan Quirin
"Tidak, lakukanlah sesukamu, kau bebas melakukan apapun padanya, jangan biarkan dia mengusikmu terlalu lama" ucap Zee yang menatap Quirin dengan dingin, ia pun berdiri berjalan keluar kamar Quirin, lalu menutup pintu kamar
Quirin yang mendengar perkataan Zee hanya diam, ia mencoba mencerna perkataan Zee yang seolah-olah mengetahui apa yang telah terjadi padanya beberapa saat yang lalu
"Hem?, apa dia mengetahuinya?, tapi kenapa ekspresinya selalu berubah-ubah?" ucap Quirin yang bertanya-tanya
"Ah sudahlah, itu tidak penting, yang terpenting sekarang aku bisa melakukan apapun padanya"
"Aku harus rajin berlatih agar bisa secepatnya berjalan, setidaknya berlatih sampai aku bisa mempersulitnya melakukan sesuatu padaku, Kalau tidak, dia akan terus mengangguku, dia itu manusia yang sangat menyebalkan!" gerutu Quirin
Quirin mencoba menurunkan kedua kakinya secara perlahan dari tempat tidur, setelah berhasil, ia pun berdiri perlahan sambil berpegangan dengan meja yang berada di samping tempat tidurnya dengan kaki yang gemetar, tidak sampai 1 menit, ia langsung terjatuh ke tempat tidur, ia hanya terdiam tidak bergeming sesaat, lalu berusaha lagi
"Hhaa... aku sangat lelah, bukankah setidaknya aku bisa bertahan selama beberapa menit?, tapi... tidak boleh seperti ini, aku harus secepatnya berjalan!" ucap Quirin dengan semangat dan mencoba tegas pada diri sendiri
Quirin bangkit kembali, ia mencoba dan terus mencoba sampai akhirnya ia berhasil membuat kakinya tidak gemetaran saat seperti pertama kali ia mencoba berdiri, lalu ia melangkah secara perlahan sambil terus memegangi meja yang berada di samping tempat tidurnya
Setelah menurutnya sangat lelah, Quirin pun berjalan mundur perlahan dan saat ia melihat kebelakang, ternyata ia sudah mencapai tempat tidur, ia pun duduk di pinggiran tempat tidur
Tiba-tiba Quirin teringat akan sahabatnya yang tidak terlihat sejak meninggalkan kamarnya "Kemana perginya anak itu?, biasanya dia selalu datang ke sini" ucap Quirin sambil berfikir
__ADS_1
Di sisi lain, Vano secara telaten mengobati tangan Xia dengan berjongkok di hadapannya, sedangkan Xia hanya berdiam diri di sofa sambil terus memandangi wajah Vano dengan seksama, ia sedikit terpesona oleh ketampanan dan kepedulian Vano terhadapnya
Vano bahkan tidak menyadari jika ia tanpa sengaja telah membawa Xia kekamarnya "Ayo kita ke rumah sakit" ucap Vano yang melihat luka Xia sedikit terbuka, lalu mendongakkan kepalanya melihat Xia
Biasanya, ketika Vano terluka saat melakukan misi, ia bergegas menyiraminya dengan alkohol dan saat itu juga langsung membalutnya, sedangkan sekarang situasinya berbeda, karena ia tidak mungkin melakukan hal itu pada Xia
"Kenapa kau membawaku kesini?" tanya Xia sambil melihat-lihat kamar yang di masukinya
"Apa maksudmu?, memangnya aku membawamu kemana?" jawab Vano heran dengan pertanyaan Xia karena ia tidak fokus saat itu, ia terus memandang tangan Xia yang terluka
Saat ia menengadah dan melihat ke arah Xia yang sedang melihat ruangan di sekelilingnya itu, ia pun tersadar "Ayo keluar" ucap Vano malu sambil menarik tangan Xia
"Kau sendiri yang menarikku kesini, sekarang kau ingin mengusirku keluar?, berhenti menarikku semaumu!, apa kau tidak bisa sedikit lebih lembut pada wanita?" ucap Xia kesal yang kemudian pasrah saat tangannya di tarik oleh Vano agar mengikutinya keluar
"Lembut?, selama ini aku sudah bersikap lembut padamu" ucap Vano santai
"Apa katamu?, sejak kapan kau bersikap lembut padaku, huh... " ucap Xia dengan suara yang besar
Vano tidak mengeluarkan sepatah katapun, ia tidak ingin melanjutkan percakapan mereka karena Xia terlihat mulai kesal, ia pun terus berjalan menuju ke luar mansion
Melihat Vano yang tidak memberikan respon apapun dan terlihat acuh padanya, Xia malah semakin kesal
"Memangnya kita harus kemana lagi?, kalau seseorang terluka sudah pasti harus dibawa ke rumah sakit kan?" tanya Vano datar
"Tidak, tidak, aku tidak ingin kesana" ucap Xia
"Lukamu akan infeksi jika tidak segera di tangani di rumah sakit" ucap Vano yang berusaha menjelaskan agar Xia mengerti, lalu melepaskan tangan Xia
"Em... harus?" tanya Xia gugup
"Ehem" jawab Vano singkat diikuti anggukan
Seketika itu, Xia menghentikan langkahnya, ia pun diam-diam berjalan masuk ke arah mansion, membuka sepatu lalu menentengnya, kemudian ia melangkah pelan dengan langkah kecil agar tidak didengar oleh Vano
Namun, Vano yang tidak mendengar lagi langkah kaki di belakangnya justru curiga dan berbalik, ia pun melihat Xia yang berjalan membelakanginya, mereka bahkan memiliki jarak 20 langkah
Vano kemudian bergegas menyusul dan menepuk bahu Xia, Xia yang terkejut berbalik sambil cengegesan "Hehehe... haus" ucap Xia membuat alasan
"Kau sudah tau kan, kalau sekarang di mobil juga sudah tersedia minum" ucap Vano dengan melipat tangannya
"Ah, kau benar, kenapa aku bisa lupa?" ucap Xia dengan menepuk jidatnya
__ADS_1
"Kau lupa?, apa kau juga lupa memakai sepatumu?" tanya Vano dingin melihat sepatu yang di pegang oleh Xia
"Hem?, sepatu?" ucap Xia yang kemudian melihat ke arah kaki lalu ke arah tangannya
"Iniii... kenapa aku bisa menenteng sepatuku?, ada apa denganku?, ah... sepertinya aku sedikit lelah" ucap Xia lagi yang pura-pura kebingungan dan terus memegangi kepalanya
"Jangan-jangan otakmu juga terluka, ayo segera periksa ke dokter" ucap Vano sambil menarik tangan Xia lagi
"Beraninya kau mengata..." belum selesai Xia mengatakan satu kalimat, Vano langsung memotong karena tidak ingin Xia melampiaskan kekesalannya lagi
"Apa kau memiliki masalah dengan rumah sakit?, atau kau takut sesuatu?" tanya Vano curiga
"Hah?, ah... tidak, tidak" ucap Xia sedikit gemetar dengan melambaikan tangannya ke kiri dan ke kanan sedikit
"Lalu?, apa lagi yang kau tunggu, cepat masuk" ucap Vano dengan membuka pintu mobil, dengan mata yang melirik Xia dan melirik mobil, membuat isyarat meyuruh Xia masuk
"Ya ya ya, baiklah" ucap Xia pasrah lalu memasuki mobil, setelah mereka berdua berada di dalam mobil, Xia mulai berbicara lagi
"Sekarang, dengarkan aku pria tua berwajah datar, apa kau tau?, bagiku, kau itu adalah satu-satunya orang yang sangat sulit dipahami" ucap Xia sambil menatap Vano
"Ssttt... diamlah, aku harus fokus menyetir, aku akan meninggalkanmu jika kau mengucapkan satu kata lagi" ucap Vano tenang
"Kau ini benar-benar... hhaaa... sabar Xia, sabar... " ucap Xia yang berusaha meredam emosi
Bersambung....
Para pembaca jangan lupa tinggalkan jejak 👇
✓ Favorite
✓ Like
✓ Vote
✓ Gift
✓ Comment
✓ Rate
Author sangat berterimakasih 🙏
__ADS_1