Another Person Life

Another Person Life
Kau lah Yang Pergi Dari Mansion Ini!


__ADS_3

Mereka semua yang mendengar perkataan itu sungguh begitu terkejut, bahkan Rea sendiri sudah mengepalkan kedua tangannya.


Bebagai reaksi kini terpancar di wajah mereka. Vano, Staren, Arnius, Max dan Al tengah menatap Grizo dengan tidak percaya.


Zee dan Rea justru memarkirkan dahinya dan menatap Grizo dengan tajam. Tapi Rea sudah menggeretakkan gigi dan mengepalkan kedua tangannya.


Namun Xeno tengah tersenyum smirk karena kata-kata itu cukup bisa membuat Quirin merasa terhina.


Seketika itu pula Quirin berdiri seperti patung ketika mendengar kalimat yang keluar dari mulut Grizo. Dan entah kenapa Lura yang terus bergumam bahwa dirinya tak bersalah kini justru mendengar perkataan Grizo.


Ia mulai mengangkat kepalanya dan melihat Grizo yang sudah menunduk.


"Ayah!" panggil Lura lalu berlari ke pelukan Grizo, sedangkan Grizo mengangkat wajahnya dan membentangkan tangan agar Lura masuk kedalam pelukannya.


"Hahahaha ...." Quirin tertawa cukup keras sambil menutup wajahnya dengan satu tangan.


Tawa itu bukan terdengar seperti tawa bahagia, melainkan mendeskripsikan betapa sakit hatinya.


Wajah orang-orang yang tadinya terkejut kini berubah menjadi sendu setelah mendengar tawa Quirin yang sangat keras.


Tidak terasa Air mata itu mengalir dari sela-sela tangannya, namun Quirin tetap tertawa hingga membuat beberapa orang mengatakan dirinya gila.


"Apa karena ucapan tuan Alister membuat dia menjadi gila?, tapi bukankah itu bagus?, dengan begitu dia tidak perlu berada di samping tuan muda" gumam Xeno sambil tersenyum smirk.


Lura yang melihat Quirin tertawa menjadi tidak senang, ia bahkan terlihat binggung karena kakaknya tengah tertawa ketika Grizo tidak mengakuinya sebagai anak.


Sekarang ini, jantung Grizo berdetak sangat cepat, ia tidak tau hal apa yang akan terjadi, tapi

__ADS_1


yang pasti ia sangat kesakitan mendengar Quirin tertawa keras seperti itu.


"Quiri ... " perkataan Grizo kini terpotong dengan ucapan Quirin.


"Lucu sekali keluarga ini, hei bodoh. Kau sudah di buang oleh keluarga mu satu-satunya, lalu untuk apa kau bertahan di sini?" ucap Quirin dengan nada dingin.


Quirin sudah puas mengeluarkan kesedihan disela tawanya itu, ia yang sedang menutup wajahnya dengan satu tangan kini langsung mengusap wajah itu agar orang lain tidak tau bahwa dirinya tengah menangis.


Tapi faktanya, Rea dan Zee yang berada di sebelahnya sudah melihat air mata itu menetes tapi mereka memilih untuk diam.


Rasa bersalah kini menghantui Rea, ia tidak menyangka kehidupan kakaknya sungguh berantakan.


Ekspresi Rea tak luput dari penglihatan Zee "kenapa dia terlihat sangat marah?," batin Zee bertanya-tanya.


Lura melepaskan pelukannya dari Grizo, ia menggeretakkan giginya karena merasa iri melihat orang-orang terus menatap Quirin dengan tatapan kasihan, padahal disini dirinya lah yang menjadi korban pemerkosaan, tapi kenapa orang-orang itu memperlakukannya dengan kasar dan justru memperlakukan kakaknya dengan baik?, Lura tidak ingin pusat perhatian itu tertuju pada kakaknya. Ia pun tersenyum licik dan mengambil kesempatan untuk mengusir Quirin.


Orang-orang kini berganti menatap Lura, tapi tatapan itu justru mengartikan bahwa mereka sangat jijik dengan Lura.


Lura pun terkejut melihatnya "kenapa tatapan mereka berubah?" batin Lura


Quirin menjatuhkan tangannya dan menatap Lura dengan tajam, ia melangkah maju dan menampar wajah Lura dengan amat kuat.


"Anak haram sepertimu tidak pantas berbicara disini, kau lah yang harus keluar dari mansion ini" ucap Quirin dengan aura dingin yang menyelimuti tubuhnya.


Grizo yang melihat itu tidak tinggal diam, walaupun Lura bukanlah putri kandungnya, Grizo tetap mengakui Lura seperti putrinya kerena dirinyalah yang membesarkan Lura bukan orang lain.


"Tidak bisa seperti itu, walau mansion ini atas nama Arcy tapi kami berdua lah yang membangunnya bersama-sama, dan juga ayah sudah mengubah nama kepemilikan menjadi nama ayah" ucap Grizo

__ADS_1


"Kau yakin?" tanya Quirin dengan mengerutkan dahinya


Jantung Grizo kini berdetak lebih cepat, tapi ia tidak memperdulikannya dan lebih mempercayai bahwa dirinyalah pemilik mansion Alister.


"Ayah yakin, karena ayah sendiri yang pergi mengubah nama kepemilikan" ucap Grizo dengan yakin.


"Lalu apa ini?" tanya Quirin sambil melempar sebuah amplop coklat di atas meja.


Grizo yang melihat itu pun mengambilnya dan membukanya. Ia membaca satu persatu berkas yang ada di dalamnya.


Terkejut?, itulah yang di rasakan Grizo, ia bahkan tidak bisa mengatakan apapun karena ia sungguh tidak bis mengubah nama kepemilikan mansion jika tidak ada persetujuan dari Quirin.


"Kau sudah membacanya?, mansion ini memang milik ibuku, dia tidak memberimu tahu mu bahwa dia adalah anak orang kaya, itu semua dilakukan ya agar kau tidak merasa terbebani. dia berpura-pura mengatakan menyicil ingin mansion ini agar kau percaya bahwa dia sama dengan mu."


"Apa kau tidak tau bahwa yang membawa nama Alister ke puncak tertinggi adalah ibuku?, aku yakin kau tidak tau tentang hal itu karena otakmu hanya tergila-gila dengan pekerjaan dan status."


Grizo yang mendengar itupun mulai menitikkan air matanya, ia mulai mengenang saat-saat bersama dengan Arcy dan ia juga mengingat betapa sederhananya istrinya itu.


"Setelah keluarga ini berjaya, ibumu justru datang pada ibuku dan mengatakan bahwa ibuku tidak pantas bersanding denganmu yang sudah kaya, apa itu sebuah lelucon?, Hei ku ucapkan sekali lagi bahwa semua ini milik ibuku, jadi kalian tidak berhak tinggal di rumahku"


Semua orang lagi-lagi terkejut, bahkan Xeno yang mendengar itu lebih sangat terkejut. Ia tidak menyangka ada kisah yang lebih menyedihkan di bandingkan dengan kisahnya.


Quirin terus mengeluarkan uneg-uneg yang sudah lama ingin di keluarkan ya, dan sekarang adalah waktu yang sangat tepat.


Mendengar kata ibumu, Grizo langsung menatap Quirin "Ibuku?, ibu tidak pernah memperlakukan Arcy dengan buruk" bantah Grizo dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.


"Cih, melihat wajahmu saja sudah membuatku muak, kau sang pemimpin keluarga justru sangat mudah di bodohi" ucap Quirin dengan tatapan tajam.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2