Another Person Life

Another Person Life
Pemikiran yang Sama


__ADS_3

Xeno yang sudah sangat kelelahan memilih untuk meninggalkan mereka semua, dan ia terlihat sedang menaiki lift yang akan tembus ke kantin rumah sakit.


Mereka semua pun hanya bisa memandangi punggung Xeno yang meninggalkan mereka, tapi tiba-tiba saja, Sean, Rafael, dan Kenan berlari menghampiri Max.


Sedangkan Max dan yang lainnya terkejut dengan kehadiran mereka, "Tuan, wanita itu sudah mati," ucap Sean sambil menatap Max dengan nafas terengah-engah.


Max yang mendengar itu justru tersenyum dan terlihat sangat senang, "Bagus, wanita seperti itu memang pantas mati," ucap Max sambil tersenyum smirk.


Sean menarik nafas dan mulai menjelaskan dengan pelan pada Max, "Tapi tuan, ketika kami sampai di lokasi, tubuh wanita itu sudah tergeletak di jalan dengan satu tangan yang terpisah dengan tubuhnya," lanjut Sean lagi.


Max dan yang lainnya terkejut, bahkan Vano yang sedari tadi berdiri tegak di depan pintu kini menoleh kearah mereka.


Max mengeryitkan dahinya dan ia pun bertanya kembali hanya untuk memastikan, "Apa kau yakin?," tanya Max yang benar-benar tidak percaya.


Sean mengangguk dan menjawab dengan tegas "Yakin tuan, bahkan sepertinya wanita itu terlihat habis di lempar dari atas kantornya," jelas Sean lagi.

__ADS_1


Alica yang mendengar penjelasan Sena pun merasa ada yang janggal, ia pun mencoba berpikir kembali, "Tunggu tuan Sean, apa tangan yang di potong itu bagian kanan?," tanya Alica mencoba menebak.


Sean yang mendengar pertanyaan itu pun langsung mengangguk, "Benar nona Alica, dan tangan kirinya bahkan berlubang akibat sebuah peluru," ucap Sean sambil melihat kearah Alica.


Alica yang mendengar itu pun merasa semakin jelas, "Tuan Max, bukankah wanita itu memegang wajah tuan muda menggunakan tangan kanan?, dan tangan kirinya memegang tubuh tuan muda Zee," ucap Alica sambil menerka-nerka.


Max menoleh kearah Alica dan ia mencoba mengingat kembali tentang kejadian yang terjadi pada Zee, lalu Max membenarkan perkataan Alica, "benar, lalu ada apa yang salah dengan itu?," tanya Max dengan dahi yang tengah menyatu.


Tiba-tiba saja, Max mengingat seseorang, dan ternyata mereka semua berpikir hal yang sama, karena mata Al, Max, Alica, Valo, Gavin, Arnius dan Staren langsung mengarah ke pintu ruangan Zee.


Al pun langsung melihat kearah mereka semua "Apa yang kalian pikirkan sama dengan yang aku pikirkan?," tanya Al yang sudah bisa menebak siapa pelaku dari kekejaman yang di terima Deanin.


Sedangkan Sean, Rafael dan Kenan merasa sangat bingung dengan percakapan ambigu yang mereka semua katakan.


Max pun sadar bahwa bawahannya tidak mengetahui apapun, "baiklah, kalian bisa beristirahat dan serahkan sisanya padaku," ucap Max sambil memerintahkan bawahannya untuk kembali.

__ADS_1


Ketiga orang itu pun langsung menuruti perkataan Max, mereka berbalik dan melangkah pergi dari rumah sakit.


Lalu Max dan Al hanya bisa menghela nafas, "dia bahkan sudah bergerak mendahului mu," gumam Al yang mulai merasa bersalah pada Xura.


Max memilih untuk pergi dari sana, ia pun langsung meninggalkan mereka, "Aku akan menghampiri Xeno," ucap Max sambil meninggalkan Alica dan yang lainnya.


Gavin tampak tertunduk, "Aku bahkan sempat menatap nona dengan tajam" ujar Gavin.


"Bukan kau saja, aku bahkan sudah berniat untuk menjauhkan tuan muda darinya," timpal Arnius.


"Sudahlah, lebih baik kalian fokus untuk berjaga disini," ucap Staren sambil memijit dahinya.


Sedangkan Alica justru termenung karena ia merasa bersalah karena telah berpikir yang tidak-tidak mengenai Xura.


Bersambung ....

__ADS_1



Jangan lupa untuk mampir ke karya author yang di atas ya 🙏 terimakasih 🙏


__ADS_2