Another Person Life

Another Person Life
Jebakan Menyeramkan


__ADS_3

"Apa dia tidak tau tentang kematian bibi Arcy?" batin Xeno sambil melihat kearah Zee yang ada di sampingnya.


"Dia memang belum mengetahuinya, Aku tidak memiliki hak untuk mengatakan itu padanya" bisik Zee yang hanya bis aid dengar oleh Xeno.


Xeno yang mendengar itu pun mengangguk "masalah seperti apa lagi yang akan kamu hadapi nona?, sepertinya semua ini tidaklah sesederhana itu" batin Xeno.


Quirin pun melepaskan pelukannya tapi Feryun belum melepaskan pelukannya dari tubuh Quirin.


"Kakak, aku akan melakukan sesuatu padanya dengan tangan ini, bisakah kakak melepaskan ku" ucap Quirin sambil menggosokkan kepalanya di dada bidang Feryun.


Feryun yang mendengar itu pun melihat kebawah, ia tertawa keras melihat kelucuan dari sang adik.


"Haha ... maafkan kakak" ucap Feryun sambil melepaskan tangannya dari tubuh Quirin.


"Kau akan melakukan apa?" lanjut Feryun.


Quirin yang mendengar itu langsung mengatakan tujuannya pada Feryun "Tentu saja memotong kaki nya, lihat lah, kakinya bahkan hampir terbakar habis" ucap Quirin sambil mengambil sebuah parang yang sangat besar.


"Kakak sudah katakan untuk jangan melakukan hal-hal berat seperti itu" ucap Feryun yang berbicara dengan lembut.


"Kakak, ini adalah pekerjaan ku, jadi mau tidak mau kakak harus menerimanya" balas Quirin sambil tersenyum.


"Baiklah, terserah kau saja, yang penting kakak tidak ingin melihat tangan halus mu ini menjadi kasar" ucap Feryun sambil melihat ke tangan Quirin yang sudah memegang parang.


Zee, Xeno dan Kiryu bahkan terabaikan oleh keduanya, tapi mereka tetap diam untuk tidak membuat kedua kakak beradik itu menjadi marah.


"Arghhh sakit" teriak Cassi sambil menangis.


Quirin tersenyum smirk mendengar teriakan Cassi "Apa seorang Cassia Aileen Xavier bisa menangis?, bukankah saat kecil dulu kau tidak pernah menangis, dulu kau hanya bisa marah dan marah?, lalu kenapa sekarang kau menangis seperti anak kecil?" tanya Quirin dengan berjongkok di hadapan Cassi.

__ADS_1


Cassi yang mendengar itu terkejut, ia tidak menyangka orang di hadapannya ini bahkan sangat tau wataknya itu sedari kecil "Kau!, siapa kau sebenarnya?" teriak Cassi dengan menahan sakit di kakinya, jantungnya bahkan Sudak berdetak sangat cepat.


Pasalnya, yang sangat mengenal dirinya adalah keluarga nya saja. Walau dirinya sering marah di dalam rumah, tapi orang mengenalnya dengan gadis yang lembut dan baik hati, tapi semenjak memegang kendali perusahan, Cassi menjadi orang yang pemarah dengan alasan agar mendisiplinkan para karyawan.


"Kau terkejut?, tentu saja kau terkejut, kau bahkan tidak bisa menebak siapa aku" ucap Quirin sambil berdiri dan bersiap memotong Kaki Cassi.


"Aku mohon jangan lakukan itu!" teriak Cassi dengan keras.


Jantung Cassi berdetak sangat cepat, air matanya terus mengalir bahkan ia sudah mengeluarkan keringat dingin dari seluruh tubuhnya, tapi yang di rasakan ya hanyalah hawa panas dari lilin yang tengah mengelilinginya.


Prakkkk


Arghhhhh


Quirin memotong kaki Cassi yang telah di lahap oleh api. Anehnya, api itu hanya membakar bagian yang tersiram oleh minyak saja.


Quirin menduga bahwa minyak itu sudah di olah oleh sang kakak agar membakar bagian yang tersiram saja.


"Kau senang?," tanya Feryun yang melihat Quirin tersenyum.


"Tentu saja, lihat lah kak, bukan kah kaki nya terlihat sangat cantik?, dia pasti bangga dengan kecantikannya itu, bahkan dia terlihat lebih cantik dari ku" ucap Quirin sambil tersenyum senang.


Feryun yang mendengar itu mengerutkan dahi nya "tidak!, wajahnya sangat jelek, bahkan sekarang aromanya sangat tidak sedap" ucap Feryun dengan tegas


Cassi yang mendengar itu merasa sangat marah, padahal dia dulunya adalah wanita yang cantik, sekarang ia harus menerima kenyataan bahwa sebelah kakinya sudah tidak ada.


"Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan padaku!, kenapa kau tidak membunuhku saja!" teriak Cassi.


Cassi sudah tidak bisa berpikir lagi, ia hanya bisa bertanya sambil berteriak keras.

__ADS_1


Quirin yang mendengar itu menatap Cassi dengan tajam "Tidak!, mati dengan cepat sangat tidak cocok untukmu, aku ingin kau menerima rasa sakit yang pernah aku rasakan dulu" ucap Quirin dengan dingin.


"Kau selalu mengatakan dulu dan dulu!, sebenarnya apa yang sudah aku lakukan padamu?, dalam ingatanku, kita bertemu hanya sekali saat berada di bar, dan aku tidak pernah bertemu dengan mu lagi!" teriak Cassi yang sudah sangat frustasi.


Ia sudah sangat lelah berpikir dan terus berpikir mengenai perkataan Quirin, namun Cassi tidak pernah menemukan titik terang dari pertanyaannya itu.


Quirin tersenyum smirk mendengar perkataan Cassi "Sudah aku katakan, saat kita berkumpul, kau akan mengetahui segalanya tentang ku, jadi kau hanya bisa menerima penderitaan secara perlahan" ucap Quirin lagi.


Tiba-tiba, mereka mendengar suara teriakan dari layar, ternyata di sana Kai sedang mendapatkan hambatan yang luar biasa mengerikan. Mereka pun mulai tidak memperdulikan teriakan dan perkataan Cassi dan mulai fokus pada layar.


"Sakit!" ucap Kai sambil mencabut jarum yang menempel di seluruh tubuh nya.


Ternyata setiap jalan itu terdapat benang yang tak kasat mata, jika benang itu di pijak, maka jarum yang sudah di persiapkan akan lepas dengan sendirinya dan akan mengenai target mereka.


Quirin yang melihat itu sungguh sangat takjub, ia melihat kearah Feryun dan tersenyum senang. sedangkan Feryun yang mendapat senyuman itu juga ikut tersenyum manis.


Awalnya Quirin hanya berfikir untuk memasang jebakan lintah saja, namun Feryun menawarkan diri untuk memasang jebakan lainnya, Quirin yang mendengar itu langsung menerima tawaran sang kakak.


Tapi ia tidak berfikir bahwa Feryun memasang jebakan yang sangat menyeramkan.


Setiap kali Kai melangkah, ia mendapat satu jarum yang menancap di tubuh nya, ketika Kai melihat ke kanan dan ke kiri, ia tidak mendapatkan jarum apapun di sekitarnya.


"Kenapa hal ini harus terjadi padaku?, apa mereka sedang mempermainkan ku?" gumam Kai sambil melepaskan jarum itu satu persatu.


Kai terlihat mulai pasrah, tubuhnya sudah tidak kuat lagi untuk menampung serangan dari jarum yang terus menghujani nya.


Darah pun mulai keluar dari tubuh Kai melalui bekas tusukan jarum itu. Jarum-jarum itu tertancap sangat dalam ke tubuh Kai, bahkan ada yang mengenai tulang tangan dan tulang kaki nya.


"Aku sudah tidak kuat lagi untuk berjalan" ucap Kai sambil terjatuh berlutut di tanah.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2