Another Person Life

Another Person Life
It's Show Time


__ADS_3

"Jujur saja, aku benar-benar menyesal telah menjagamu, dan sekarang aku sadar bahwa aku sudah menyia-nyiakan waktu yang berharga hanya untuk wanita tidak tau malu sepertimu!" ucap Vano sambil melihat kearah Xia dan berbalik badan memunggungi Xia yang tengah terduduk di lantai.


"Kau, Quirin maupun yang lainnya, sama-sama memiliki sifat licik. Jika saja tidak ada Xura yang menjaga ayah dari sahabatmu itu, aku yakin bahwa Grizo pasti tidak akan bisa hidup sampai saat ini. Dan juga, jika Xura tidak memerintahkan tuan Al untuk merawatnya, maka tuan Al sendiri juga tidak akan mau mengobati orang miskin sepertimu!. Apa kau mengira bahwa fasilitas yang kau dapatkan dirumah sakit semata-mata karena tuan Al?. Tidak!, semua itu hanya karena perintah Xura!. Jika Xura memiliki niat jahat padamu, dia bisa mengatakan semua jumlah biaya rumah sakit itu, tapi dia tidak melakukannya dan hanya diam saja. Aku mengatakan ini agar kau bisa membuka matamu dengan lebar, bahwa dia bisa melakukan apapun yang dia inginkan serta agar kau mengerti seperti apa perbedaan antara kau dan dia, yaitu bagaikan langit dan bumi!." ujar Vano sambil memberikan penjelasan tentang semua fasilitas yang di dapatkan oleh Xia saat berada di rumah sakit.


Xia yang mendengar fakta itu benar-benar tercengang, awalnya ia berpikir bahwa Al lah yang memberikan ruang VVIP itu padanya, tapi semua itu salah, ternyata fasilitas yang telah di menikmatinya saat di rumah sakit semata-mata perintah dari Xura.


Kini Xia beralih menatap Xura yang berdiri sedikit jauh darinya "Ka-kau ... " ucap Xia sambil menatap punggung Xura.


Xura menghela nafas dengan pelan "Percuma saja kau mengoceh pada orang miskin, lebih baik kita segera pergi dari sini" ucap Xura sambil melangkahkan kakinya dari sana.


Xia yang mendengar perkataan itu tidaklah sakit hati, ia justru mulai merasa bersalah pada Xura "Tu-tunggu, tolong Ma-maafkan aku" ucap Xia dengan sungguh-sungguh.


Xura menghentikan langkahnya dan memutar kepalanya "Aku akan memaafkan mu dengan syarat kau harus tidak pernah menunjukkan wajah itu lagi di hadapan mu" ucap Xura dan melanjutkan langkahnya.


Vano memalingkan wajahnya dan juga ikut melangkahkan kakinya dan meninggalkan Xia yang tengah terduduk di lantai.


Xia tampak termenung dan mulai berpikir "Benar, aku sudah tidak bisa menunjukan wajah ini lagi, juga aku harus merelakan Vano padanya," ucap Xia yang mulai menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


Vano dan Xura berjalan beriringan, keduanya tampak diam lalu Xura melirik kearah Vano "kau tidak ingin menenangkannya?" tanya Xura sambil berjalan.


Vano sedikit terkejut karena kali ini Xura berinisiatif untuk membuka obrolan "Haha ... apa nona tadi pagi salah makan?, tidak biasanya nona berbicara terlebih dahulu" ucap Vano di sela tawanya.


Xura yang mendengar itu justru membenarkan perkataan Vano, tapi ia tidak ingin mengutarakan isi pikirannya "Jawab saja pertanyaanku, Vano" ucap Xura dengan malas.


"Tidak nona, aku bahkan tidak ingin berhubungan dengan wanita licik seperti dia. Aku akan mencari wanita dengan karakter seperti nona saja" ucap Vano sambil berjalan beriringan.


Xura yang mendengar perkataan itu bahkan sangat terkejut "Haha ... kau tidak akan menemukan wanita dengan karakter sepertiku, aku ini limited edition" ucap Xura dengan bangga.


Dari ujung sana, Zee melihat keduanya tengah tertawa bersama, saat itu, hati Zee mulai berdenyut. Ia merasakan nyeri di hatinya.


Leva pun berusaha untuk tidak melihat apapun "Apa yang kamu lihat?, ayo kita pergi ke ruangan Gilma" ucap Leva sambil berjalan di lorong itu.


Zee menghela nafas dan ia pun mengikuti langkah kaki Leva. Vano dan Xura duduk di kursi tunggu, mereka mendengar langkah seseorang yang begitu berisik, siapa lagi kalau bukan Leva.


"Bibi?," sapa Xura yang langsung berdiri kembali dan mendekati Leva.

__ADS_1


"Xura?, bagaimana kalian ada disini?" tanya Leva berpura-pura tidak tau.


Xura yang mendengar itu mulai menjawab dengan sopan "aku menjenguk Gilma bibi, sebenarnya aku tidak ingin datang, tapi Vano terus memaksaku untuk menjenguknya" ucap Vano sambil melirik kearah Vano.


"Benar bibi, aku mengajaknya untuk mengunjungi Gilma, karena dia jugalah yang membuat Gilma masuk rumah sakit" timpal Vano sambil tersenyum tipis.


"Baiklah, baiklah ... bibi akan masuk terlebih dahulu" ucap Leva sambil berjalan mendekati pintu mulai membukanya.


Vano dan Xura melihat Zee masih dengan dinginnya, sedangkan Zee tampak tidak ingin melihat keduanya, ia justru berdiam di samping pintu. Dan ketika Leva masuk kedalam ruangan, Zee juga mengikuti langkah itu.


Arrgghhh


Leva berteriak keras. Vano dan Xura saling memandang dan keduanya tersenyum tipis "it's show time" ucap Xura sambil melirik kearah Vano lalu keduanya pun membuka pintu ruangan Gilma.


Di sana, terlihat Leva memeluk Zee dengan sangat erat. Lalu Zee yang sedang memeluk Leva kini melihat kearah Vano dan Xura.


Tiba-tiba saja mata Gilma yang tengah tertutup itu mulai terbuka dengan sangat lebar.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2