Another Person Life

Another Person Life
Bertanggung Jawab


__ADS_3

Wanita itu menatap keatas, ia lupa menanyakan pada Vano tentang siapa yang ada di dalam dekapannya, ia sedikit penasaran dengan wajah wanita itu, karena saat Vano menggendongnya, wajah Xura menghadap ke dada bidang vano sehingga membuat wanita itu tidak bisa melihat Xura.


"Siapa wanita itu?, apa dia pacar kak Vano? ... tapi apa perduli ku?, aku sudah memiliki kakak Zee yang tampan dan kaya jadi aku tidak membutuhkan para bodyguard itu lagi" ucap wanita itu sambil tersenyum.


"Gilma!" sapa seorang wanita.


Sontak saja Gilma terperanjat kaget "Ah, Bibi Leva" ucap Gilma sambil memutar tubuhnya.


"Sedang apa di sini?" tanya Leva dengan mengernyitkan dahinya.


Gilma tersenyum lembut sambil menunjuk arah taman dan memberitahukan pada Leva bahwa dirinya sudah bertemu dengan Zee.


"Tadi aku bertemu dengan kakak Zee bibi, tapi sepertinya sekarang dia berada di belakang taman" ucap Gilma sambil tersenyum ceria.


"Lalu kenapa kau disini?, kau bisa menghampiri kakak mu itu" ucap Leva dengan ikut tersenyum manis.


"Tidak bibi, aku cukup lelah, aku ingin beristirahat saja" rengek Gilma dengan manja.


Leva yang mendengar itu mengernyitkan dahinya, tapi ia juga tidak ingin menahan Gilma "Baiklah, lagi pula kita baru saja tiba di Singapura, jadi kau beristirahat saja dulu di kamar mu" ucap Leva sambil mengelus pucuk kepala Gilma.

__ADS_1


Gilma yang mendapat sikap lembut dari Leva semakin tersenyum sumringah. Lalu Gilma pergi dari hadapan Leva dengan sedikit bersenandung.


Setelah kepergian Gilma, wajah Leva yang tersenyum seketika berubah menjadi datar dan menatap Gilma dengan dalam.


Leva memilih berjalan ke belakang taman, saat berada disana, Leva melihat putranya terduduk sambil menatap langit.


"Nak, apa yang kau pikirkan?" tanya Leva sambil menepuk pundak Zee.


"Mama, jika aku melihat Gilma, aku pasti selalu teringat dengan kecelakaan yang aku alami bersama Gilan" ucap Zee dengan pelan.


Leva dapat melihat kebimbangan dalam diri Zee, ia pun langsung menghela nafas pelan "Zee, kejadian itu sudah bertahun-tahun yang lalu, mama harap kau bisa melupakan kenangan pahit itu. Jangan lupa bahwa kau memiliki kehidupan mu sendiri, lagipula kau tidak bisa terus menjaga Gilma, dia sudah menjadi gadis dewasa dan bisa menjaga dirinya sendiri " ucap Leva yang sedikit sedih melihat anaknya menjadi murung.


"Apa yang harus aku lakukan ma?, aku sudah mencoba berbagai cara untuk mencoba melupakan kejadian itu dan juga menjauh dari Gilma, tapi dia terus menempel padaku dan jika dia melihat aku bersama dengan wanita lain, maka dia akan berubah menjadi orang gila dan karena itu aku semakin merasa bersalah atas kematian Gilan, padahal Gilma hanya mempunyai Gilan seorang, tapi aku justru membuat kakaknya meninggalkan dunia ini" ucap Zee sambil menutup matanya sebentar lalu membukanya kembali.


Leva terlihat sedih ketika mendengar curahan hati sang anak, biasanya Zee tampak tidak perduli pada sekitarnya, tapi sekarang ia justru terang-terangan menunjukkan kesedihannya di depan Leva.


"Mama yakin, suatu saat kau akan bisa lepas dari rasa bersalah itu, jadi jika kau memiliki kekasih kau bisa langsung katakan saja pada mama lalu mama akan membicarakan hal itu pada Gilma, dia pasti akan mengerti" ucap Leva sambil mengelus pucuk kepala Zee.


Mendengar perkataan Leva, Zee merasa hatinya sedikit merasa tenang, sebelumnya ia terus dihantui oleh rasa bersalah, sejak kepergian Gilan, Gilma berubah menjadi murung dan tidak mau makan atau pun melakukan aktivitas apapun.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Zee mendatangi rumah Gilma dan melihat wanita itu seperti mayat hidup.


Sejak saat itu, apapun permintaan Gilma membuat Zee berusaha untuk memenuhi semua kebutuhan Gilma, ia seperti bertanggung jawab atas kebutuhan Gilma dan berusaha berperan menjadi kakak yang baik karena Zee memang sudah menganggap Gilma seperti adiknya sendiri, tapi perlahan-lahan sikap Gilma semakin tak terkendali.


Saat itu, salah seorang klien wanita di kantor Zee datang untuk berkunjung, lalu wanita itu berusaha untuk merayu Zee, namun siapa sangka Gilma justru datang ke kantor, ia melihat bahwa wanita itu sedang memeluk leher Zee.


Tiba-tiba saja Gilma berteriak sambil menangis, ia bahkan mengucapkan kata-kata yang tidak pantas di kantor Zee.


"Arrggghhh.... Kau pembunuh, kau sudah membunuh kakakku, aku membencimu!, sekarang aku hidup sendirian!, kakakku pergi karena kau!" teriak Gilma dengan air mata mengalir.


Mendengar hal itu membuat Zee langsung menghempaskan wanita itu dan menghampiri Gilma.


"Tenanglah Gilma, ada apa dengan mu" tanya Zee yang sedikit panik dengan keadaan Gilma.


"Diam!, kau pembunuh!, menjauh lah dariku!" teriak Gilma dengan keras.


Orang-orang yang berada di kantor mendengar teriakan itu, tapi mereka semua sama sekali tidak berani untuk melihat kejadian itu.


Mengingat hal itu, membuat Zee menghela nafas dengan kasar "Aku juga berharap bisa melakukan itu ma" ucap Zee sambil menodongkan tubuhnya kedepan lalu membuat kedua siku menimpa kedua pahanya, dan Zee pun menutup wajah dengan kedua tangannya.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2