Another Person Life

Another Person Life
Berhutang Tiga Daging


__ADS_3

Al terlihat jengah mendengar Gilma terus memanggil mereka kakak, karena sudah terlalu bosan dengan sebutan itu, akhirnya Al mengeluarkan uneg-uneg yang selama ini di pendamnya.


"Jangan menyebut kami dengan sebutan kakak, karena kami bahkan tidak pernah mengakui keberadaan mu!" ucap Al sambil melototkan matanya.


Gilma sempat terdiam, tapi ia terus berusaha meluluhkan Vano dan Al "Tolong aku kak!" ucap Gilma yang tidak berhenti menyebut Al dan Vano dengan sebutan kakak.


Tapi kedua orang itu mulai tak berbicara lagi, mereka memilih untuk menonton Xura yang tengah bermain.


Kini, Xura sudah memanaskan pisau itu dengan pemantik apinya, lalu ia pun segera mencungkil daging Gilma yang telah terbakar itu.


Aarrgghhh


"Apa yang kau lakukan!, Hentikan!" teriak Gilma sambil menangis menahan sakit.


Gilma ingin meronta tapi ia benar-benar sungguh tidak bisa bergerak "kau tidak akan bisa bergerak, karena tulang-tulang mu itu sudah patah" ucap Al sambil tersenyum dan menonton pertunjukan Xura dengan santai.


Xura membuat daging panggang itu secara melingkar, lalu ia mencungkilnya dengan dalam secara melingkar, sehingga ketiga orang itu bisa melihat tulang putih Gilma.


Daging yang sudah di kupas oleh Gilma di masukkan kedalam suatu wadah.


Vano merasa jijik ketika melihat tindakan Xura, sedangkan Xura, justru tampak biasa saja, ia bahkan tidak terpengaruh dengan teriakan Gilma.


Gilma menangis histeris, ia tidak menyangka bahwa daging tubuhnya bisa terpisah begitu saja "Hentikan!, aku mengaku salah, tolong maafkan aku" ucap Gilma sambil menangis sejadi-jadinya.


Saat ingin mencungkil luka bakar kedua, tangan Xura terhenti ketika Gilma meminta maaf pada mereka.


Xura tampak mengeryirkan dahinya "Saat kau sedang menderita kau justru langsung meminta maaf, tapi saat Zee yang menderita kau justru membuatnya semakin terpuruk dengan derita itu, kau benar-benar wanita yang luar biasa" ucap Xura sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya dengan pelan.


Lalu Xura kembali mencungkil daging Gilma yang kedua tepat di tempat yang sudah di bakar oleh Xura.


Arrgghhh


Gilma berteriak keras, ia sungguh tidak sanggup menahan rasa sakit yang di berikan oleh Xura, bagi Gilma, Xura sudah sangat mirip seperti monster.

__ADS_1


Karena tidak sanggup lagi, akhirnya Gilma mulai mengumpat "Kau wanita gila!, aku sangat membencimu!" teriak Gilma dengan air mata yang terus menetes dengan deras.


Bahkan darah di tangan Gilma juga ikut mengalir dengan deras, hingga membuat tempat tidur di penuhi dengan noda berwarna merah.


Xura lagi-lagi hanya bisa bertelinga tebal "Aku baru saja mencungkil dagingmu sebanyak dua kali, sedangkan kau masih berhutang sebanyak tiga buah daging lagi padaku" ucap Xura sambil mengangkat tangannya dan menggerakkan jari-jarinya.


Gilma yang mendengar itu mulai melototkan matanya, ia tidak menyangka bahwa Xura akan melakukan hal mengerikan itu padanya lagi.


"Tidak, tidak ... kau tidak boleh melakukannya" teriak Gilma dengan kuat.


Nafas Gilma terus memburu, kali ini rasa takut telah menyelimuti dirinya, ia benar-benar tidak sanggup jika menahan rasa sakit itu untuk yang ketiga kali dan untuk selanjutnya.


Gilma mencoba berputar otak agar Xura mau menghentikan aksinya itu, lalu telinga di pikiran Gilma untuk membawa nama seseorang.


"Jika kau melakukannya lagi, aku akan mengatakannya langsung pada kak Zee" ancam Gilma dengan nafas yng sudah tersengal-sengal.


Seketika saja, tangan Xura berhenti dan ia pun langsung menatap kearah Gilma "Kau yakin akan memberitahukan?" tanya Xura dengan datar.


"Tentu saja, jika kak Zee mengetahui apa yang sudah kau lakukan padaku, aku yakin kau akan langsung di usir olehnya" ucap Gilma yang berpikir bahwa membawa nama Zee adalah hal yang paling ampuh.


Gilma yang mendengar itu pun merasa sangat terkejut, keberaniannya bahkan tampak mulai memudar, tapi ia berusaha untuk tidak membuat Xura mencurigainya.


"A-aku sangat ya-yakin" ucap Gilma dengan sedikit terbata-bata.


"Kau masih belum belajar dari pengalaman, baiklah, kau ingin memberitahukan Zee bukan?, maka aku akan langsung menghubunginya dan membiarkan dia melihat sendiri apa yang ada di dalam tas ku" ucap Xura sambil mengeluarkan ponselnya dan mulai membuat jarinya menari-nari di atas layar ponsel.


Lalu Xura mulai memperlihat kannya sebuah rekapan pada Gilma, di sana terlihat gilma sedang berada di bagasi mobil Zee, lalu ia pun merusak aliran listrik mobil.


Lalu, riba-tiba saja Gilan masuk dan menangkap basah Gilma, sedangkan Gilma pun mengancam Gilan agar tutup mulut mengenai hal itu.


"Gilma, apa yang kau lakukan?!" teriak Gilan dengan marah.


"Tidak ada, aku hanya ingin dia mati, lalu harta yang sudah di janji kannya pada kakak akan sepenuhnya jatuh kepada kita" ucap Gilma sambil melipat kedua tangannya.

__ADS_1


Gilan terkejut melihat sang adik begitu serakah, ia bahkan tidak menyangka bahwa sang adik telah banyak berubah sejak mereka mengenal Zee.


"Jangan lakukan itu Gilma, Zee sudah banyak membantu kita, lagipula itu adalah haknya, kau tidak bisa memaksanya untuk memberikannya pada kita" ucap Gilan dengan memegang kedua pundak Gilma.


"Tidak!, di susah berjanji akan memberikan kakak satu rumah dan satu perusahan, tapi syaratnya kau harus bisa bekerja di perusahannya sebagai bawahan terlebih dahulu, bukankah itu tidak adil?" ucap Gilma dengan sangat marah dan sambil menghempaskan kedua tangan Gilan dari pundaknya.


Gilan yang mendengar itu merasa sangat bersalah, seharusnya mereka sedikit menjauh ketika berbicara tentang hal yang sangat sensitif itu.


"Itu bukan salahnya, lagi pula kakak juga ingin bekerja sebagai bawahan, karena itu semua adalah proses, Gilma" ucap Gilan yang berusaha membuat adiknya mengerti.


Gilma memutar bola matanya dengan malas, ia sangat mengerti bahwa kakaknya itu mudah mempercayai perkataan orang. Tapi berbeda dengan Gilma, ia tipe yang tidak mudah mempercayai perkataan orang-orang kaya itu.


"Aku tetap tidak setuju!, jika kakak sampai mengatakannya pada Zee, maka aku tidak akan pernah mau berbicara dengan kakak lagi!" ancam Gilma sambil melototkan matanya pada Gilan.


Gilan sangat menyangka adiknya, ia tetap tidak mengatakannya pada Zee, tapi justru ia menggantikan dirinya agar Zee tidak terluka oleh perbuatan sang adik.


"Kau menyukainya?" tanya Xura yang mulai menghentikan video itu dan memasukkan ponsel kedalam tasnya kembali


"Ka-kau!, padahal aku sudah menghapus rekaman itu dan menggantinya dengan yang baru, lalu bagaimana bisa kau memiliki rekaman itu?," tanya Gilma yang benar-benar tidak mempercayai apa yang baru saja di lihatnya.


Al dan Vano sudah mengepalkan kedua tangan mereka. kedua mata mereka terus menatap Gilma dengan tajam. Al mencoba berusaha untuk menahan amarahnya, sedangkan Vano justru sudah tidak tahan dengan Gilma.


Vano langsung mengambil jarum super panjang dan besar yang ada di samping meja dan langsung menancapkannya ke tubuh Gilma dengan sangat brutal.


Aargghhh


Aargghhh


"Hentikan kak Vano" teriak Gilma sambil menangis.


Tapi teriakan itu seolah tidak pernah di dengar oleh Vano, ia terus menancapkan jarum itu tepat di lengan Gilma "Kau wanita tidak tau diri, jika saja aku mengetahui ini sejak awal, maka aku pastikan kepalamu sudah tidak berada di tempatnya lagi" ucap Vano dengan benjolan yang terlihat muncul di dekat lehernya.


Bersambung ....

__ADS_1


Jangan lupa untuk membaca karya author yang lainnya ya 🙏 di jamin tidak kalah seru dari Quiran dan Xura ✌️


__ADS_2