
Cassi melupakan amarahnya ketika Xura menjelaskan bahwa dirinya tidak memiliki hubungan apapun dengan kai. padahal Cassi sangat membenci orang-orang mengatakan dirinya hanya adik tiri yang tidak bisa melakukan apapun.
Amarah itu seakan pudar begitu saja, lalu Cassi kembali menoleh kearah Xura. Sedangkan Xura juga menatap Cassi.
"See?, aku tidak memaksanya, sebelum berteriak tidak jelas seperti tadi, bukankah lebih baik kau berkaca terlebih dulu?, tidak perlu berteriak seolah aku adalah selingkuhannya, jika kau melakukannya lagi aku pastikan orang-orang akan menertawaimu karena kau benar-benar mirip seperti orang gila" ucap Xura sambil memperagakan dengan cara menempelkan jari telunjuk di kepalanya.
Xura kembali memancing amarah Cassi, ia menarik ulur kemarahan Cassi agar orang-orang bisa melihat seperti apa sifat pemilik perusahaan Xavier. Xura yang sekarang cukup pintar untuk mengendalikan emosi seseorang.
Cassi mengerutkan dahinya sambil menatap Xura dengan tajam "apa maksud perkataanmu?" tanya Cassi kesal
Para pengunjung tertawa kecil mendengar apa yang diucapkan oleh Xura "aku yakin dia tidak terpelajar, jika dia berpendidikan seharusnya dia mengetahui arti dari perkataan wanita itu" gumam para pengunjung sambil mengeluarkan ponselnya lalu merekam drama seru yang ada di depannya.
"Benar, wanita sepertinya pasti sangat cocok sebagai selingkuhan"
"Dia bahkan tidak secantik wanita itu, lihat saja perbedaanya sangat jauh, kulit wanita itu terlihat sangat bersih, aku yakin dia dari kalangan atas, jadi aku yakin dia tidak akan pernah menjadi seperti yang di tuduhkan oleh wanita menyebalkan itu"
"Dia terlalu posesif pada pacarnya, aku sangat yakin jika wanita menyebalkan itu tidak akan pernah bisa merasakan kebahagiaan" gumam pengunjung lain
Xura menyunggingkan bibirnya, ia tersenyum puas melihat orang-orang tengah mencemooh Cassi.
"Aku ingin kalian merasakan malu hingga tidak bisa menunjukkan batang hidung kalian lagi, aku akan membalas dendam ini satu persatu" batin Xura sambil menatap Cassi
Cassi merasa marah ketika mendengar hujatan yang mengarah padanya "diam!, kalian tidak tau siapa aku?!, aku adalah penerus perusahaan Xavier, jika kalian menyebarkan video ku, maka aku tidak akan segan-segan menghancurkan kalian semua!" teriak Cassi dengan marah.
Para pengunjung itu langsung terpaku, mereka benar-benar tidak tau bahwa yang dihadapan mereka adalah pemilik perusahaan Xavier.
__ADS_1
Mereka juga langsung menyembunyikan ponsel mereka karena takut akan ancaman Cassi.
Cassi yang terlihat kesal langsung menarik Kai "ayo, kita kita pergi dari sini" ucap Cassi sambil berbalik
Kai merasa kesal karena dirinya ditarik bagaikan hewan peliharaan "bisakah kau tidak kenak-kanan?, dia itu teman kakakmu bukan orang asing" tegur Kai sambil menghempas tangan Cassi.
Cassi terpaku karena Kai menghempas tangannya begitu saja. sedangkan Kai tidak memperdulikan Cassi, iaberbalik dan melihat kearah Xura "maafkan aku karena telah menimbulkan masalah dan membuatmu malu" ucap Kai sambil membungkukkan setengah tubuhnya.
Xura masih berdiri dengan tangan dilipat, ia masih terlihat santai "tidak perlu minta maaf, lain kali jangan bertindak tidak sopan seperti itu, jika itu orang lain aku tidak tau apa yang akan terjadi padanya" ucap Xura dengan wajah datar
Cassi yang mendengar itu merasa sangat kesal, ia ingin maju untuk membuat perhitungan dengan Xura namun dengan cepat Kai langsung menghentikan pergerakan Cassi.
Xura mengingat sesuatu yang sempat ia lupakan "aku mengundang kalian untuk menghadiri acara pesta ulang tahunku" ucap Xura sambil mengeluarkan surat undangan yang sudah tertera nama keduanya.
Kai tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia langsung mengambil surat undangan yang diberikan oleh Xura "baiklah, sekali lagi maafkan aku dan terimakasih" ucap Kai sambil membungkuk dan tersenyum.
Setelah keduanya telah menghilang dari pandangan Xura, ia justru menghembuskan nafas lega "benar-benar menakutkan, apakah orang seperti ini yang aku hadapi?, ini jauh dari ekspektasikj" gumam Xura sambil terduduk dan memegang dadanya.
Sewaktu Cassi datang, Xura mengambil nafas dalam-dalam karena dirinya masih takut untuk menghadapi Cassi, ia terus berusaha untuk melawan ketakutannya agar bisa segera membalaskan dendam Xura asli dan dirinya bisa kembali keasia.
"Beruntung dia tidak melihat tanganku yang sudah gemetar dengan hebat" gumam Xura yang masih mengambil nafas lalu melihat kearah tangannya.
"Kau benar-benar bodoh Xura, kau telah bertahun-tahun hidup dengan orang sepertinya, tapi apa kau sama sekali tidak mengetahui sifat yang menakutkan itu ?, dia bahkan tidak pantas di sebut manusia, benar-benar serakah" gumam Xura sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan.
Begitulah mereka berdua, keduanya saling mengejek satu sama lain, tapi bahkan mereka tidak sadar bahwa posisi mereka sama, yaitu sama-sama dikhianati oleh orang yang telah mereka percaya.
__ADS_1
Setelah bernafas dengan normal, Xura memilih satu gaun yang sangat cantik, ia mengetahui gaun-gaun indah karena dirinya yang dulu mempunyai pakaian-pakaian itu, hanya saja dirinya tidak bisa memakai semua itu karena sang adik selalu meminta apa yang telah dimilikinya.
Tiba-tiba Xura mengingat jika pemilik tubuh tidak pernah memakai gaun "kau mempunyai harta yang melimpah, tapi kenapa orang sepertimu tidak mengetahui gaya berpakaian?, sungguh menggelikan" gumam Xura sambil menggeleng kepalanya dengan pelan.
Dalam hal ini dirinya tidak seberuntung Xura asli, pemilik tubuh yang bisa membeli atau memakai pakaian apa saja, tapi anehnya, orang seperti itu bahkan hanya mengetahui gaya pakaian business casual dan street style saja.
Setelah membeli beberapa gaun, Xura keluar dari butik "ini masih permulaan, mulai sekarang aku akan membuat mereka masuk kedalam sebuah kesengsaraan" gumam Xura sambil meninggalkan butik.
"bukankah dia punya sebuah rumah pribadi yang tidak diketahui oleh keluarganya?, sepertinya aku harus berkunjung kerumah itu" gumam Xura sambil mengendarai mobil sendirian, lalu pergi kerumah pribadinya.
Setelah sampai Xura turun untuk meminta para penjaga membuka pintu "tolong buka pagarnya" ucap Xura tanpa mengingat jika wajahnya telah berbeda
"Maaf nona, pemilik rumah ini sudah tiada, jadi tidak boleh ada yang memasuki rumah ini" ucap penjaga dengan sopan
"Xura bodoh, wajahmu sudah berbeda, lagipula tidak mungkin mengaku jika aku masih hidup" gumam Xura memukul pelan dahinya.
"Tidak perlu khawatir, aku adalah temannya, jadi bukakan saja pintunya" ucap Xura lagi
Para penjaga mengerutkan dahinya, selain Fayre Xura tidak pernah membawa orang lain, lagipula yang mengaku menjadi teman Xura sangatlah banyak "maaf nona, kami tidak bisa membukanya" ucap para penjaga dengan sopan.
Xura tidak kehabisan akal, ia mengeluarkan ponselnya lalu menyambungkan panggilan itu pada Fayre.
Setelah panggilan itu berhasil tersambung, tanpa basa basi Xura langsung mengatakan dengan
cepat "Fay, bantu aku mengatakannya pada penjaga" ucap Xura lalu memberikan ponselnya pada penjaga.
__ADS_1
Setelah penjaga menerima panggilan itu, mereka membiarkan Xura masuk kedalam mansion.
Bersambung ...