Another Person Life

Another Person Life
Rumah Megah.


__ADS_3

Perawat yang membantu Clamy melihat orang-orang tengah berkumpul di depan kamar Clamy "ada apa lagi?" gumam sang perawat.


Sang perawat kini menerobos kerumunan, ia terkejut melihat penampilan Clamy yang sudah berantakan.


Perawat itu pun berjalan mendekati Clamy dan memberikan selimut padanya "apa yang sudah kau lakukan?" tanya perawat itu menatap Vano dengan tajam.


Vano yang melihat Clamy langsung menoleh kearah perawat itu dengan "bukan urusanmu!, sebaiknya bantu dia berjalan dan jangan membuang waktuku!" Vano berkata dengan dingin, lalu berbalik dan ingin pergi tapi kerumunan orang itu telah menghalangi jalan Vano.


Vano yang terlihat kesal menatap orang-orang itu dengan tajam dan seketika kerumunan itu membuka jalan untuk Vano.


"Benar-benar mata yang menyeramkan"


"Beruntung aku tidak berada didepannya, melihat mata tajam saja sudah membuatku merinding" gumam orang yang ada didalam kerumunan itu


Para penonton itu langsung membubarkan diri, walau dalam ketakutan mereka juga sangat puas melihat Clamy mendapat ganjaran yang pantas sebagai seorang ja*lang.


Perawat itu mendengar semua cacian dari dokter, perawat ataupun pasien lainnya, ia merasa kasihan melihat Clamy tak berdaya "sebaiknya kau tidak pergi, dari wajahnya saja tidak terlihat seperti orang baik" ucap perawat sambil membantu Clamy berdiri.


"Tidak, aku mengenal mereka dan aku harus pergi. Setidaknya aku lebih aman berada didekat mereka, jika aku berada disini maka petinggi rumah sakit akan terus menerus mencelakai ku" ucap Clamy dengan pelan.


Perawat itu tampak berpikir, karena apa yang dikatakan Clamy juga tidak salah "baiklah, tapi dengan syarat, aku akan mengikutimu" ucap perawat itu tersenyum tulus.


Clamy tampak heran, karena skandal miliknya membuat orang-orang terdekat menjauhinya, tapi, berbeda dengan perawat yang ada disampingnya ini, ia yang bukan siapa-siapa justru terus membantunya dengan tulus "bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Clamy dengan pelan.


Perawat itu tersenyum "aku bisa mengaturnya, kau tidak perlu mengkhawatirkan ku" perawat itu membantu Clamy berjalan dengan perlahan.


Ketika sudah sampai di parkiran, mereka berdua melihat Vano sedang berdiri di samping mobil yang terlihat sangat mahal.


Terlihat jelas dari wajah perawat itu, ia sangat tidak suka melihat wajah Vano, tapi, Vano justru tidak memperdulikan tatapan perawat itu, sang perawat terus membantu Clamy berjalan mendekati Vano dan memasukkan Clamy kedalam mobil.


Vano melihat sang perawat juga ingin masuk kedalam mobil, ia pun segera menghentikannya "kau tidak izinkan untuk ikut bersama kami" ucap Vano dengan menggunakan tangannya sebagai penghalang.

__ADS_1


"Apakah kau tidak punya hati?, dia sedang sakit, aku hanya ingin merawatnya saja" ucap perawat itu sambil menatap Vano dengan tajam.


Quirin yang mendengar perdebatan itu merasa sangat pusing, ia langsung membuka kaca mobil "biarkan dia ikut" ucap Quirin dengan malas.


Clamy yang sudah berada didalam mobil merasa terkejut, ia tidak menyangka Quirin menunggunya didalam mobil daripada memilih menjemputnya.


Vano mengangguk dan dan mulai mempersilahkan perawat itu masuk kedalam mobil.


Quirin melirik kaca, ia melihat sang perawat begitu tulus merawat Clamy "apa kau pekerja magang di rumah sakit itu Grizel?" tanya Quirin dengan santai.


Sang perawat itu terkejut mendengar Quirin menyebut namnya "bagaimana nona tau nama saya?" tanya Grizel penasaran.


Quirin tidak menjawab pertanyaan itu, ia berpikir orang itu cukup lah bodoh "lupakan saja" ucap Quirin dengan malas.


Quirin mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, mereka pun menuju kerumah pribadi yang diberikan oleh seseorang khusus untuk Clamy.


Demi mendapatkan rumah privasi, mereka harus melewatkan hutan yang lebat dan bukit yang tinggi, Clamy yang selama didalam perjalanan diam kini membuka mulutnya "nona, kenapa kita harus melewati jalan seperti ini?" tanya Clamy takut sambil melihat kekanan dan kekiri.


"Apa kalian takut?, rumah pribadiku berada disini" ucap Quirin dengan santai


Quirin melirik dan tersenyum melihat Vano terkejut "kau tidak salah menebak" Quirin mengatakan seolah ia mengetahui isi pikiran Vano.


"Apa nona bisa membaca pikiranku?, apakah tuan muda yang memberikan akses pada nona?" Vano tidak habis pikir dengan jalan pikiran tuan mudanya itu.


Pasalnya Vano sangat mengenal jalan yang mereka lalui, karena jalan itu akan mengarah ke sebuah rumah megah yang tidak berpenghuni.


"Salah kan saja dia, aku hanya meminta lalu dia langsung memberikannya padaku" ucap Quirin dengan santai


Lagi-lagi Vano terkejut karena pikirannya seolah sangat mudah di baca oleh Quirin "nona, berhentilah menebak-nebak, lebih baik nona fokus saja menyetir" elak Vano.


"Haha ... kau sangat lucu, pantas saja ..."

__ADS_1


"Nona!" Vano menyela dengan sedikit mengeraskan suaranya.


Quirin yang sedang menyetir sempat terkejut karena mendengar suara Vano yang cukup besar "hei kau!, jangan berani-beraninya membentak ku!, aku akan mengatakan perbuatanmu ini padanya!" kesal Quirin sambil melirik kearah Vano.


Kedua orang yang duduk di belakang justru lebih terkejut mendengar teriakan Quirin, mereka justru sedikit merinding melihat Quirin melotot dengan tajam kearah Vano.


"Maafkan aku nona, tapi jika kau melanjutkannya maka semuanya akan berantakan" ucap Vano sambil membuang mukanya keluar jendela.


Quirin melirik kaca, ia melihat kedua orang yang berada dibelakang kini terlihat tegang "hei, tidak perlu tegang seperti itu, kami hanya bercanda saja haha .... " tawa Quirin sambil mencairkan suasana.


Sesampai di tempat yang dituju, Quirin bahkan lebih tercegang karena tempat yang mereka datangi bukanlah sebuah rumah biasa, melainkan rumah yang sangat megah.


Clamy yang melihat rumah itu benar-benar sangat bersemangat "nona terimakasih sudah memberikanku rumah seperti ini"


Quirin hanya mengangguk tanpa berbicara, ia mendekati Vano lalu mendorongnya untuk memimpin jalan.


Setelah masuk, Vano memilih kamar untuk mereka semua, ia melirik kearah Grizel "kau seorang perawat, jadi kau harus berbagi kamar dengannya, jadi rawat dia dengan baik" ucap Vano mengingatkan sang perawat itu.


Kedua orang itu mengangguk dan memasuki kamar, mereka tampak kelelahan karena melakukan perjalan yang cukup panjang


"Nona, aku ingin berbicara padamu" ucap Vano mengajak Quirin mengikutinya "kenapa kau memilih tempat ini nona?" tanya Vano penasaran.


Quirin mengerti jika Vano sangat penasaran "aku hanya meminta rumah pribadi yang jauh dari pemukiman, lalu Zee memberikan rumah ini" jelas Quirin dengan santai


"Tapi, apa nona tau ini tempat apa?" tanya Vano mengerutkan dahinya.


Quirin menggeleng, ia hanya tau jika rumah tempat ia berpijak sudah di izin oleh Zee.


Vano menghela napas "ini rumah penyiksaan nona" ucap Vano mengecilkan suaranya.


Awalnya Quirin membulatkan mata seolah-olah terkejut, namun perlahan-lahan senyuman menyeramkan terbit dibibirnya "sangat menakjubkan, sesuai dengan keinginanku, artinya rumah ini memiliki alat yang sangat lengkap" ucap Quirin dengan tersenyum smirk.

__ADS_1


Vano yang melihat itu hanya bisa bergidik ngeri "aku tau nona akan membuat ekspresi yang berbeda dari wanita lain jika mendengar sebuah kata penyiksaan, tapi, aku masih saja belum terbiasa dengan perubahan yang dilakukan oleh nona" batin Vano sambil membuang wajahnya ke sembarang arah karena ia sedikit memiliki rasa takut ketika melihat wajah Quirin.


Bersambung ...


__ADS_2