Another Person Life

Another Person Life
Pertemuan Kembali


__ADS_3

Orang itu memakai Hoodie hitam dan celana hitam panjang. saat mendengar bentakan itu, Max justru berdecak kesal.


"Sial!, kenapa aku harus bertemu dengannya disini?," batin Max kesal.


Max orang yang tidak suka menjadi pusat perhatian, namun ketika orang itu membentaknya, otomatis seluruh mata para pengunjung justru beralih kepada Max.


Orang itu pun langsung mendatangi Max lalu berdiri di hadapannya "apa yang kau lakukan disini?" tanya orang itu dengan mata berkaca-kaca serta dengan suara lirih.


Max mengernyitkan dahinya "kita tidak mengenal nona, jadi kau tidak memiliki hak untuk bertanya padaku" jawab Max dengan acuh tak acuh.


Orang yang ada di hadapan Max kini mengepalkan kedua tangannya dengan kuat "aku tidak mengenalku?, bukan kah saat berada di mall, bukankah kau yang memaksaku untuk berkenalan denganmu?, dan sekarang kau seenaknya mengatakan bahwa kau tidak mengenalku?" gumam orang itu sambil menumpahkan air matanya.


Max yang melihat air mata mengalir itu justru tersenyum miring "oh nona, kau menganggap nya serius?, aku bahkan tidak pernah memandang mu sama sekali" jawab Max dengan santai.


Orang itu pun mulai menggeretakkan giginya, ia kini berpikir harus membuat pria ini bertekuk lutut di hadapannya "kau harus bertanggung jawab padaku!" ucap orang itu dengan keras.


lagi-lagi, perkataan orang itu membuat Max mengerti binggung walau sebenernya Max mengetahui apa yang di inginkan orang yang ada di depannya ini "tanggung jawab?, memang apa yang sudah aku lakukan padamu nona,?" tanya Max sambil tersenyum licik.


Orang itu tampak gugup ketika Max menanyakan sebuah tanggung jawab padanya, namun tekad orang itu begitu kuat untuk membuat Max tunduk padanya "karena kau sudah memperkosaku dan kau kabur begitu saja" ucap orang itu dengan lantang.


"Kau memiliki bukti?" tanya Max dengan acuh tak acuh.


"Aku memilikinya" jawab orang itu dengan tegas namun ada sedikit kegugupan yang terselip suaranya.


Orang itu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto keduanya yang ada di dalam mobil.


Max yang melihat itu justru tersenyum miring. "hei nona, jika itu bisa kau jadikan bukti agaraku bertanggung jawab, lalu apa gunanya hukum di negara ini?"


Orang itu sedikit gugup "aku memiliki bukti yang kuat, kau tidak bisa mengelak lagi" ucap orang itu dengan penuh keyakinan.


Max semakin bertambah kesal karena ia menjadi pusat perhatian, bahkan Max bisa mendengar para pengunjung kini mencibirnya.


"Apa anak muda sekarang tidak bisa menahan nafsunya?, beraninya dia melakukan hal tidak terpuji itu pada wanita ini"

__ADS_1


"Benar, anak jaman sekarang memiliki pikiran yang dangkal, mereka bahkan tidak pernah memikirkan bagaimana kehidupan mereka dimasa yang akan datang.


"Jika aku orang tuanya, maka aku akan malu dengan kelakuannya itu dan aku tidak akan menganggapnya lagi sebagai anakku."


Para pengunjung kini menyalahkan Max, mereka justru tengah membawa wanita yang ada di hadapan Max.


Sedangkan Lura yang mendengar ucapan para pengunjung kini tersenyum tipis, ia tidak menduga, kali ini tindakannya mampu membuat para pengunjung berpihak padanya.


Wajahnya terlihat memerah padam, ia terlihat seperti menahan amarah yang seakan-akan bisa meledak kapan saja. Max benar-benar sudah sangat murka, karena para pengunjung itu menyentuh hal yang paling pantang untuk di katakan.


Max menghampiri salah satu pengunjung yang membicarakannya "apa yang kau katakan tadi?" bentak max sambil menggebrak meja dengan sangat kuat.


Wajahnya tampak sangat menyeramkan, ia paling tidak suka jika orang lain mengatakan kedua orang tuanya salah mendidiknya. Hal itu bisa mengubah Max yang lembut kini monster yang sangat ganas.


Para pengunjung pun mulai ketakutan, tidak terkecuali orang itu, ia justru sangat terkejut ketika melihat tempramen Max jauh dari yang dikenalnya saat ini.


Saat pertama kali bertemu, Max terlihat lembut, ketika orang itu menghinanya, Max justru juga mampu menunjukkan ekspresi sedih dan lemahnya, tapi sekarang, orang itu justru melihat hal yang tak terduga.


"Kenapa dia berubah secepat itu?" batin orang itu.


Orang itu yang tadinya masih tersenyum, kini mulai menegang karena mendengar suara dari layar lebar itu.


orang itu pun secara perlahan memutar tubuhnya dan melihat kearah televisi yang tergantung di dinding itu.


Ternyata siaran itu adalah tentang dirinya yang sedang berada di bawah kukungan para pria dengan disertai suara yang menjijikkan.


Para pengunjung itu pun sangat terkejut melihat siaran itu, mereka mulai menatap kearah Orang itu dengan tatapan hina.


Mereka bisa mengenali orang itu karena wajah wanita yang ada dalam siaran itu terlihat sangat jelas dan lagi, orang itu tidak mengenakan kacamata hingga wajahnya kini terekspos.


"Ba-bagaimana bisa begini?" batin orang itu dengan wajah pias.


"Wanita seperti ini tidak pantas diberi pengampunan, sebagai seorang wanita, dia tidak memiliki rasa malu sedikitpun"

__ADS_1


"Kau lihat saja, dia bahkan sangat menikmatinya"


"Aku tidak akan membiarkan wanita seperti itu menjebak pria tampan ini, wanita sepertinya memang sangat pantas bersama para tua Bangka itu"


"Dia benar-benar menjijikkan, jika sudah di siarkan seperti ini, bagaimana dia bisa keluar dari rumah dengan tenang?,"


Salah satu pengunjung kini merasa bersalah pada Max "tuan, aku menyesal telah menyinggung mu, tolong maafkan aku," ucap salah satu pengunjung yang mejanya di gebrak oleh Max.


Max yang mendengar itu juga menoleh dan menonton siaran itu, ia tidak menyangka bahwa Zee akan membantunya.


Tiba-tiba saja, seorang wanita dan seorang pria kini tengah memasuki cafe, keduanya berjalan berdampingan dan visual mereka pun mampu membuat para pengunjung menoleh kearah mereka dan mengabaikan siaran itu.


Dengan mata berkaca-kaca wanita yang baru saja masuk itu langsung berteriak dengan keras "sebenarnya apa yang ingin kau buktikan?,"


Orang itu tidak bergeming, ia justru sudah tidak bisa fokus lagi, karena perkataan para pengunjung terus terngiang-ngiang di kepalanya.


Melihat orang itu tidak merespon perkataan nya, ia pun mulai manggil orang anak itu sekarang.


"Lura!, aku sedang berbicara padamu!" teriak wanita itu lagi.


Lura pun tersentak kaget karena suara itu begitu sangat kuat dan menimbulkan gema "kakak" lirih Lura sambil menoleh dan memperlihatkan mata yang sudah berkaca-kaca.


Orang yang berbicara dengan Max adalah Lura, sedangkan orang yang baru memasuki cafe adlah Zee dan Quirin.


Dengan mata melotot, Quirin melangkah mendekati Lura "siapa kakakmu?, aku tidak mempunyai adik bodoh sepertimu. Sejak dulu aku menyayangimu dengan sepenuh hati, tapi apa ini balasan yang harus aku terima?, lihatlah ekspresi mu itu, kau bahkan sangat senang di bawah kukungan mereka." teriak Quirin dengan nafas yang tersengal-sengal disertai air mata yang terus mengalir di pipinya.


Lura yang mendengar itu hanya bisa menganga, ia tidak percaya bahwa kakaknya mengatakan semua itu seolah-olah dirinya tidak mengetahui apapun.


"Kakak, kenapa kau mengatakan itu?, bukankah kau tau masalah ku?" balas Lura dengan air mata yang sudah tumpah dengan sangat deras.


"Apa yang kau katakan?, aku mengetahui masalahmu?, aku bahkan tidak tau masalah ini sama sekali, yang aku tau adalah kau memang suka bergonta-ganti pacar, tapi aku tidak mengetahui pria muda atau pria tua yang sedang kau kencani," teriak Quirin sambil melotot dengan tajam.


Lira yang mendengar itu benar-benar tidak percaya, kini ia merasa kakaknya terus menyudutkannya di hadapan para pengunjung.

__ADS_1


"Kakak ..." lirih Lura dengan mata baerkaca-kaca


Bersambung ...


__ADS_2