
Didalam mobil terasa sangat canggung, Clamy mencoba melihat kedepan untuk memastikan sesuatu, biasanya sepasang kekasih itu saling melemparkan kata-kata satu dengan yang lainnya tapi kali ini mereka saling berdiam diri "ada apa dengan mereka berdua?, jarang sekali melihat mereka tidak berperang, tapi bukankah itu hal yang bagus?, setidaknya kali ini aku tidak kesal karena tidak melihat rayuan wanita itu pada tuan tampan" batin Clamy tersenyum tipis
Setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan, kini mereka telah sampai di kediaman Alister, Zee memarkirkan mobilnya dipekarangan rumah.
Clamy menoleh keluar jendela, ia merasa kagum melihat kediaman Alister yang begitu besar dan mewah "apa aku akan tinggal di rumah ini?, benar-benar luar biasa" gumam Clamy sambil tersenyum senang.
Sedari dulu, Clamy sudah bermimpi mempunyai rumah sebesar kediaman Alister, namun hal itu belum pernah terwujud. bahkan sampai Clamy sudah menjadi model terkenal, ia masih belum bisa mempunyai rumah sebesar itu.
Quirin menoleh kebelakang dan mendapati Clamy memandang rumahnya dengan sangat senang, kemudian Quirin menoleh kearah Zee.
"Zee" panggil Quirin pelan
Zee mendengar panggilan Quirin, ia menoleh dan mendapati Quirin sedang mencoba memberinya sebuah kode melalui mata yang terus bergerak kekanan.
Zee mengerutkan dahinya, ia benar-benar tidak mengerti arti lirikan Quirin.
Quirin benar-benar terlihat kesal karena Zee tak kunjung mengerti, ia membulatkan mata dengan sempurna lalu mengangkat tangan dan membuat gestur satu jari telunjuk dan satu lagi jari tengah mengarah ke kedua matanya, setelah itu ia menunjuk kebelakang dengan salah satu ibu jarinya.
Zee sedikit terkejut melihat mata yang sudah membulat dengan sempurna sambil menatapnya dengan tajam, ia pun tersenyum tipis melihat Quirin memperagakan gestur lucu itu.
Zee yang mengerti langsung melirik kebelakang lalu mengangguk. Quirin tersenyum licik, keduanya turun secara bersamaan. mereka menutup pintu mobil dengan sangat kuat sehingga membuat Clamy yang sedang berbahagia tersentak kaget.
"Arghhh .... sakit!, tidak bisakah menutupnya dengan pelan?!" teriak Clamy spontan sambil mengusap telinganya lalu mengedarkan pandangannya, dan ternyata dirinya sudah ditinggal oleh kedua orang itu.
Quirin tertawa kecil, ia mulai membayangkan wajah Clamy saat sedang terkejut "kau sangat nakal" ucap Zee tersenyum tipis.
"Tidak, anggap saja itu balasan kecil dariku" ujar Quirin sambil menaikkan kedua bahunya.
__ADS_1
Akhirnya Clamy tersadar dan segera ikut turun. ia melihat Quirin dan Zee sudah berjalan masuk kedalam rumah, dirinya langsung memperbesar langkah agar bisa bersama dengan kedua orang itu "sial, selalu saja seperti ini, mereka telah melupakanku dan sekarang meninggalkanku begitu saja" gumam Clamy kesal masih mengusap telinganya.
Sesampai didalam, Quirin melihat pemandangan yang tidak biasa "siapa dia?" batin Quirin bertanya-tanya.
Quirin berjalan dengan pelan, namun di setiap langkahnya mampu membuat sebuah suara sehingga semua orang yang ada di ruangan itu serempak menoleh kearah pintu.
Calis membelalakkan matanya, ia tidak menduga Quirin pulang dengan selamat "bagaimana mungkin dia baik-baik saja?, apa rencana kami gagal, dan juga kenapa dia bersama dengan tuan muda?" batin Calis kesal
Mereke melihat Quirin berekspresi datar, dan juga dengan pasangan yang ada disebelahnya, keduanya masuk kedalam dengan sangat elegan, sehingga siapapun yang melihat pasti akan berpikir jika mereka adalah sepasang kekasih.
Di tengah-tengah kerumunan keluarga itu terdapat seorang pria yang tengah menatap Quirin dengan tatapan tidak biasa, tapi berbeda dengan Quirin, ia tidak memperdulikan pria yang menatapnya itu.
Quirin memegang lengan Zee dan mengajaknya duduk di sofa, lalu ia kembali menatap semua orang dengan ekspresi datar.
Calis menggeretakkan giginya, sudah beberapa kali dia mencoba menyingkirkan Quirin namun semua rencananya sia-sia "sekarang bukan waktunya memikirkan hal itu" batin Calis sambil melirik kesemua anggota keluarga
Dalam sekejap Calis mengubah ekspresinya "nak, kau dari mana saja?, kenapa terlambat sekali?" tanya Calis dengan lembut serta ekspresi yang dibuat-buat.
Clamy berdecak kesal, ia seperti tidak di anggap ada, karena semenjak masuk kedalam rumah Quirin tidak memperdulikannya "nona" gumam Clamy pelan.
Quirin menghembuskan nafasnya "Oh ya ayah, aku membawa seorang teman, dia tidak mempunyai tempat tinggal jadi aku memutuskan untuk membawanya kesini, ini hanya untuk sementara waktu, bolehkan ayah?" tanya Quirin pada Grizo.
"Boleh nak, ini rumahmu juga, lakukan saja apa yang ingin kau lakukan di rumah ini" ucap Grizo sambil tersenyum
Clamy tersenyum manis, ia masih tetap berdiri karena Quirin belum mempersilahkan Clamy untuk duduk, bagi Quirin memberikan tempat tinggal sudahlah cukup.
Calis membelalakkan matanya, ia sangat ingin menghentikan Grizo tapi dirinya tidak bisa berbuat apa-apa "baiklah, baiklah, lihatlah ini, kita sekarang kedatangan tamu, apa kau tidak mengenalnya?" tanya Calis sambil menahan rasa kesalnya.
__ADS_1
"Tidak" jawab Quirin spontan, ia mengalungkan tangannya di lengan Zee dengan manja, lalu Quirin kembali menatap ketiga orang yang ada didepannya.
Mereka hanya terhalang oleh meja. Quirin sangat menyukai ekspresi yang dikeluarkan oleh Lura, Calis dan juga sang nenek.
Lura menatap benci kearah Quirin, semenjak kejadian tidak senonoh yang menimpanya, Lura menjadi pribadi pendiam dan tidak banyak bicara. namun saat Lura melihat Quirin bermesraan dengan Zee, amarah dan kesakitan yang telah dipendam kini semakin membesar di dalam hatinya.
"Kau harus merasakan apa yang telah aku rasakan" batin Lura menatap Quirin dengan tajam.
"Kakak, benar-benar tidak mengenalnya?, dia adalah tunanganmu, dia kembali kesini karena ingin menemuimu" ucap Lura menaikkan volume suaranya agar Zee bisa mendengar suaranya dengan jelas.
Lura tersenyum puas, ia melirik kearah Zee karena ingin melihat Zee memarahi Quirin, Namun, semua sangat sia-sia, Zee bahkan menampilkan wajah datar, ia seperti tidak terpengaruh oleh perkataan Lura.
Hal itu membuat Lura mengeram marah "apa tuan muda tidak perduli?, sebenarnya apa yang dilihat tuan muda dari wanita ******* itu" batin Lura
Lura tidak suka melihat Quirin mendapatkan apa yang dia inginkan. ia merasa hidup Quirin jauh lebih sempurna dibandingkan dengan hidupnya, bahkan dirinya sudah tidak ada yang bisa di banggakan lagi.
Quirin melihat Lura menatapnya dengan penuh kebencian "aku tidak ini mempunyai tunangan seperti dia" timpal Quirin mengalihkan pandangan kearah sosok pria yang ada di sebelahnya.
Nenek yang sedari tadi diam sangay merasa kesal mendengar ucapan cucu tertuanya "Quirin!, apa kau tidak bisa menjaga sikapmu?" tanya nenek dengan kesal
Pria itu masih menatap Quirin dengan dalam, tatapan keduanya pun bertemu "sudahlah nenek, tidak perlu bertengkar, ini hanya masalah kecil" ucap pria itu memenangkan sang nenek
"Kau tidak perlu membelanya, dia bukanlah Quirin yang lemah lembut itu, sekarang dirinya sangat berbeda, kau sudah mendengar ucapannya tadi, dia bahkan sudah menghinamu" kesal sang nenek
"Kau tidak perlu mengajariku cara bersikap, berkacalah sebelum kau mengutarakan kata-kata menyebalkan itu, apa selama ini kau pernah bersikap baik?, lagipula aku benar-benar tidak mengenalnya, aku hanya berkata jujur" balas Quirin dengan santai
"Ka-kau!" ucap nenek terbata-bata
__ADS_1
Pria itu benar-benar heran, ia seperti tidak mengenal Quirin "dia sudah berubah" batin sang pria
Bersambung...