Another Person Life

Another Person Life
Permintaan Maaf Esme


__ADS_3

Mereka semua menjauh bukan karena takut pada Esme, melainkan pada amukan Quirin, bahkan Jay juga ikut berdiri di antara para pria tampan itu.


Rea melihat Alica ingin melangkah mendekati Esme namun pergerakan Alica terhenti ketika mendengar perkataan Rea. "Jangan bersuara Alica, hidup kita semua di pertaruhkan di sini." bisik Rea pada Alica.


Alica tampak terkejut, ia bahkan semakin binggung, tapi mendengarkan perkataan nona Rea yang gratis itu tidaklah rugi untuknya. seperti itulah yang ada di dalam pikiran Alica.


Tiba-tiba saja, Quirin melempar kopernya ke dinding, mereka semua tersentak kaget, karena bunyi yang di timbulkan begitu keras.


"Menyebalkan sekali, apa mulut orang-orang ini tidak bisa diam?" gumam Quirin sambil menggeretakkan giginya.


Quirin seperti pernah mendengar suara itu tapi di mana?, entah lah, yang penting suaranya terdengar begitu sangat menyebalkan di telinga Quirin.


Quirin berbalik dan melihat ke belakang, di sana ia bisa melihat bahwa orang-orang telah menjauh dan hanya tersisa seorang pelayan yang tengah menatap Quirin dengan tersenyum mengejek.


"Siapa yang berbicara tadi?," tanya Quirin pada pria-pria itu.


Semuanya menunjuk ke arah Esme, sedangkan Esme justru tidak membantah, ia bahkan dengan lantang membenarkan perkataan mereka.


"Benar, aku yang mengatakan itu" ucap Esme dengan lantang sambil membusungkan dadanya.


"Aku penasaran seperti apa bentuknya nanti" ucap Staren.


"Aku juga, lagipula berani sekali wanita sepertinya berkata seperti itu" ucap Arnius.


"Benar, dia yang tidak mengetahui apapun, mengapa bisa dengan mudahnya mengucapkan kata-kata itu" sahut Rea.


"Dia yang mencari masalahnya sendiri" sahut Al.


"Biarkan saja, sebentar lagi dia akan tau, perkataan yang telah keluar dari mulutnya bisa membuat dirinya hancur" sahut Xeno.


"Bisakah kalian tidak membuatnya binggung?, lihatlah wajahnya yang sudah sangat penasaran dengan maksud dari perkataan kalian." ucap Max sambil melirik kearah Alica yang sedari tadi terlihat binggung. Ia bahkan tidak mengerti dengan perkataan orang-orang itu.


Semua orang kini menatap Alica "kau tidak perlu memikirkannya, sebentar lagi kau juga akan mengetahuinya, Alica" ucap Rea sambil memukul pundak kecil itu dengan pelan.


Rea mengetahui nama para pelayan yang berkerja di mansion Zee, bagi Rea, menemukan identitas orang-orang itu sangatlah mudah.


Walau para pebisnis takut pada pewaris Ophelia, tapi tidak dengan Rea, ia justru dengan santai bisa mencari tau segala hal tentang keluarga Ophelia.


Quirin kini tengah menatap Esme dengan tajam, mereka semua bahkan dapat merasakan aura dingin yang di keluarkan oleh Quirin.

__ADS_1


Esme yang berdiri justru terkejut dan menegang seperti patung, ia juga ikut merinding dengan aura di sekelilingnya.


"Kau tau apa tentangku?" tanya Quirin dengan tatapan tajam serta berjalan mendekati Esme.


Tubuh Esme perlahan bergetar hebat, ia pun mulai melangkah mundur secara perlahan.


Sedangkan Grizo hanya bisa menatap sedih anaknya itu. "Aku sungguh bukan ayah yang baik, bisa-bisanya aku tertipu dengan mereka selama puluhan tahun, bahkan aku menyiksa putri kandungku sendiri, lalu bagaimana mungkin Quirin ingin tinggal dengan ku lagi, tentu dia akan sangat membenciku" batin Grizo.


Setelah Quirin mendekati Esme, ia langsung memegang kepala wanita itu dan langsung menghantam wajah Esme ke meja yang ada tepat di hadapan mereka.


Trangggg


"Arghhh"


Meja yang terbuat dari kaca itu bahkan pecah karena tekanan yang di berikan Quirin. Ia mengangkat wajah Esme dan di sana terlihat pecahan kaca menempel di wajah Esme.


Darah mulai mengalir dari wajah Esme, bahkan darah itu sudah menetes dengan sangat deras.


Orang-orang bahkan tidak menyangka Quirin bisa mendapat ide baru untuk menyiksa musuhnya.


Alica yang melihat itu justru sangat tercengang, nona yang selama ini di pikirannya adalah nona baik ternyata memiliki sikap kejam yang tidak pernah terlintas di pikiran Alica sebelumnya.


Esme bahkan terkejut dengan menahan rasa sakit itu di sebagian wajahnya.


Krekkkkk


"Arghhhh"


Esme berteriak kesakitan, tadi ia hanya merasakan sakit di bagian wajah saja, tapi sekarang ia harus merasakan sakit di bagian tangannya juga.


Quirin melepaskan tangan Esme, dan seketika Esme jatuh terduduk "kenapa kau melakukan ini padaku?" tanya Esme dengan berlinang air mata.


"Tanyakan pada mulut mu yang tidak bisa diam itu," ucap Quirin sambil menatap Esme yang tengah tertunduk.


"Aku hanya mengatakan apa yang benar saja, tapi nona langsung menyerang ku," ucap Esme membela diri.


Esme ingin mencabut pecahan kaca itu, tapi ia sendiri tidak berani untuk melakukannya, ia mencoba menahan rasa sakit itu dan mencoba menarik simpati orang-orang yang ada di sana.


Esme kini melihat kearah Zee, di sana ia melihat tuan mudanya hanya menatapnya dengan tajam. Lalu Esme melihat kearah orang-orang itu, tatapan mereka juga sama, hanya tatapan Alica saja yang tampak merasa kasihan.

__ADS_1


Esme juga kini tengah menatap Grizo yang berada di sampingnya "tuan?, kenapa kau diam saja?, aku baru saja membelamu, tapi anakmu kini menyerang ku, lebih baik laporkan saja dia" ucap Esme dengan wajah yang sudah berdarah.


Grizo seolah tak mendengar ucapan Esme, ia terus menatap putrinya yang tengah berdiri tepat di hadapannya.


Sedangkan Quirin terus menggeretakkan giginya, lagi-lagi ia memegang wajah itu dan menjatuhkannya kelantai.


Ketika Esme ingin mencabut pecahan kaca itu dari wajahnya, tiba-tiba saja Quirin bertindak untuk yang kedua kalinya.


"Arghhhh"


Wajah Esme di tekan dengan sangat kuat ke lantai sehingga pecahan kaca yang menempel di wajah itu kini masuk ke dalam pipinya.


"Ughh, sepertinya itu sakit" ucap Staren yang menyipitkan mata dan sambil memegang pipinya.


"Dia pantas mendapatkannya" ucap Rea yang sedari tadi tersenyum.


Yang lain tampak setuju dengan perkataan Rea, mereka bahkan menganggukkan wajah mereka berulang kali.


Esme bisa merasakan pecahan kaca itu kini masuk kedalam mulut nya, ia terus menangis karena menahan rasa sakit itu.


Kini Esme menyadari perbuatannya, ia sungguh menyesal karena mencari masalah dengan orang yang seharusnya tidak dia singgung.


"Sakit!, maafkan aku nona, aku tidak mengulanginya lagi" lirih Esme dengan pelan di sertai Isak tangis.


Quirin yang mendengar itu pun merasa dirinya sedikit keterlaluan, tapi ia juga ingat bahwa pelayan ini juga yang terus mengatainya dari belakang.


"Kali ini aku mengampuni mulut mu itu, tapi tidak untuk lain kali, mulut seperti ini memegang tidak cocok memakan makanan manusia. Tapi makanan seperti inilah yang pantas untuk mulut menjengkelkan ini" ucap Quirin dengan menatap Esme dengan tajam. Ia juga tahu bahwa pecahan kaca itu menembus pipi Esme.


Setelah mengatakan itu Quirin melangkahkan kaki nya, "untuk mu pak tua, aku akan membiarkanmu tinggal di mansion ku, dan aku juga tidak bisa tinggal bersamamu lagi, lebih baik kau memeriksa semua cctv di rumah ini, mungkin dengan begitu ibu akan memaafkan mu" ucap Quirin lalu melangkahkan kaki nya keluar dari mansion.


Grizo yang mendengar perkataan itu menangis tersedu-sedu, ia tidak menghentikan langkah Quirin, karena menurutnya memang itulah hukuman yang pantas di terima olehnya.


Jika kita melihat orang yang kita sayang di siksa oleh orang yang kita percayai, maka di situlah penyiksaan kita di mulai.


Quirin menyuruhnya menonton itu kembali, agar Grizo menyesal dan bisa merasakan sakit yang sama. Bahkan rasa sakit itu tidak sebanding dengan yang di rasakan oleh Quirin dan Arcy.


Tapi bagi Quirin, penyiksaan itu cukup membuat Grizo menyesal setengah mati.


Itu lah maksud dan tujuan Quirin. Ia tidak bisa membunuh pria itu karena dirinya juga telah berjanji pada Quirin asli untuk tidak menyentuh Grizo.

__ADS_1


Bersambung ...


Minggu depan ada crazy up, hehe 🤭


__ADS_2