Another Person Life

Another Person Life
Menanggung Dosa


__ADS_3

Para pria itu hanya menghela nafas pelan, tidak ada satupun dari mereka yang mau menjawab perkataan Quiran. Bagi mereka sekarang diam adalah hal yang sangat bagus.


Sedangkan Lura yang mendengar itu hanya bisa tertunduk takut, ia tidak bisa membantah lagi, karena jika dirinya melakukan itu, Mak entah apa lagi yang akan Quiran lakukan padanya.


"Dia pasti akan membuka semuanya" batin Lura


"Ah ya ... apa kau tau orang yang menyebut diri sendiri ayah?, ternyata yang memasukkan kertas-kertas itu adalah istri tercintamu yang sudah mati disana, dia bahkan membayar para guru itu agar anak haramnya ini bisa menjadi anak terpintar di sekolah. Bukankah kau sangat bangga dengan anak yang jujur dan tidak menyukai anak yang tidak jujur?, sekarang lihat lah, ini anak yang sangat kau banggakan itu" ucap Quiran sambil mengayunkan besi panjang itu ke kepala Lura.


Takkk


"Arghhhh"


Lura kembali berteriak keras, ia memegang kepalanya yang terasa sakit, ia merasakan bahwa otaknya seakan ingin keluar dari tempatnya.


"Sakit" lirih Lura dengan mengeluarkan air matanya.


"Cih, jika mengingat kenangan manis itu, sungguh sangat menyebalkan sekali" ucap Quiran dengan berdecih.


"Kenangan manis?, sungguh alter ego gila" batin Staren.


"Selalu saja seperti itu" batin Al


"Aku tidak bisa berpikir dengan jernih lagi, bagaimana bisa dulu aku menghinanya" batin Xeno yang terus berpikir.


Rea dan Jay yang mendengar itu hanya bisa saling memandang, mereka juga ikut terdiam dan tak mengeluarkan sepatah katapun. Begitu juga dengan Zee, ia terus menyaksikan Quiran bermain-main dengan mainannya.


Sedangkan Arnius menahan tawanya, ia tidak berani mengeluarkan nya, jika itu terjadi, mungkin leher dan tubuhnya akan terpisah.


Grizo terduduk lemas seolah sudah tidak sanggup mendengar kebenaran yang sedang di buka oleh Quiran. Grizo bahkan terus memegang kepalanya dan menangis.


Para pria itu tidak berniat untuk membantu menenangkannya, mereka bahkan sudah mundur kebelakang karena tatapan Quiran sangat lah menakutkan.

__ADS_1


"Mereka berdua bahkan tidak memberi Quirin uang sedikitpun, Quirin yang masih kecil terpaksa mencari pekerjaan agar bisa membeli makanan di sekolah. Bahkan makanan di sekolah jauh lebih nikmat di bandingkan makanan yang ada di mansion mewah ini. Mereka dengan tersenyum manis menyajikan Quirin makanan basi untuk di makannya" ucap Quiran yang terus menghentakkan besi itu di kepala Lura.


Lagi-lagi Grizo menatap Quiran dengan rasa bersalah, ia sungguh benar-benar tidak tau tentang hal itu.


Quiran yang melihat ekspresi itu merasa kesal "Kau terkejut lagi?, sudah aku katakan, jangan sampai kau mati seperti ibumu itu" ucap Quiran dengan tersenyum lebar


Lura yang sudah tidak sanggup menahan hentakan besi itu langsung menutupinya dengan kedua tangan, hingga yang terkena ketukan besi itu adalah tangannya.


Quirin melirik kearah Lura, ia tersenyum lebar dan menggoreskan tangan Lura dengan besi yang ada di tangannya.


Besi itu bulat panjang, namun di ujungnya terdapat bagian runcing yang sedikit tumpul. Jadi menggores ke kulit, maka kulit kita akan memerah lalu jika menggoreskan nya berkali-kali maka kulit akan sobek dan mungkin akan memperlihatkan hal yang sangat menjijikkan.


"Arghhhh"


Lura semakin menangis tersedu-sedu, sedangkan Grizo tengah memfokuskan dirinya dengan perkataan Quiran.


"Ibu?" gumam Grizo yang mampu di dengar oleh Quiran.


"Ya, nenek tua itu, apa kau pikir dia mati karena penyusup?, tentu saja tidak" ucap Quiran dengan santai.


"Bukan aku, tapi Quirin. Kenapa?, kau ingin marah?, maka lakukan saja. Aku dengan senang hati akan membunuhmu juga" ucap Quiran dengan melototi Grizo dengan tajam.


Grizo yang mendengar itu menahan nafasnya, ia tidak percaya kata-kata itu tertuju padanya "Aku ini ayahmu," ucap Grizo lagi dengan lirih.


"Ya ... ayah yang tidak berguna. Lagi pula kau sudah mengatakan bahwa aku bukanlah anak mu" timpal Quiran dengan tegas.


Grizo benar-benar tidak berdaya di hadapan Quiran, kini ia menyesali perkataannya yang sekarang berubah menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.


"Bu-bukan seperti itu" ucap Grizo dengan penuh sesal.


"Dan lagi, Quirin masuk ke kampus yang tidak terkenal, semua ini karena ulah anak haram yang baik ini dan juga istri baikmu itu ... "

__ADS_1


"Tidak mungkin, bukan kah kau masuk kedalam universitas yang sama dengan Lura?" tanya Grizo dengan menatap Quiran.


Quiran mengernyitkan dahinya, kini amarah sudah mulai terlihat jelas di wajahnya "Apa kau sedang bermimpi?, Hei ... dengan apa yang sudah aku ceritakan, kau masih berpikir bahwa aku bisa masuk ke universitas bergengsi?, apa otakmu sudah rusak?," teriak Quiran yang mulai kesal.


Orang-orang yang berada di sana mulai menahan tawanya, bagaimana tidak?, dari awal Quiran berbicara dengan santai dan dia Wlingi dengan senyum menakutkan. Tapi kini, semua nya seolah berubah, ia bahkan terlihat mirip seperti Quirin yang sedang kesal.


Awalnya semua orang tengah menatap sedih kearah Quiran, namun tiba-tiba saja suasana langsung berubah ketika Quiran tengah kesal.


Grizo kembali tertunduk dan ia sedikit merasa malu dengan orang-orang yang tengah memandanginya.


"Saat Quirin berada di kampus, anak haram yang baik ini menyuruh beberapa para lelaki dari kampus Quirin untuk melecehkan Quirin, beruntung saat itu seseorang lewat dan menolong Quirin, jika saja pria itu sedikit terlambat, sudah pasti Quirin tidak perawan lagi. Karena rencananya itu gagal, anak haram ini kembali menyebarkan rumor bahwa Quirin suka bermain dengan beberapa pria."


"Kerena ulahnya, Quirin hampir terkena drop out dan beruntung Quirin terus bertahan dengan hinaan yang para mahasiswa itu lontarkan, Quirin bahkan berhasil mendapatkan nilai terbaik di kampusnya. Dan kau satu-satunya ayah yang tidak tau apapun mengenai anaknya" ucap Quiran lagi dengan mata yang melotot.


Lagi-lagi perkataan Quirin begitu sangat menusuk, Grizo bahkan sudah tidak memperdulikan Lura yang sedang menahan sakit di kepalanya.


"Huh aku sungguh muak melihat wajahmu" ucap Quiran yang sudah bersiap melayangkan kakinya kearah wajah Lura.


Brukkkk


"Arghhh"


Lura terseret karena tendangan Quirin mengenai wajahnya, bahkan tangan Lura sudah memerah karena ketukan besi itu berulang kali.


"Aku merasa kurang puas menyiksa Wiliam, dan kebetulan ibumu juga sudah mati. Sekarang kau harus menanggung dosa-dosa mereka" ucap Quiran dengan santai.


"Ja-jangan, jangan lakukan itu, ini sangat menyakitkan" lirih Lura dengan diselingi suara Isak tangis.


"Dulu ketika ayah bodoh itu pergi keluar kota, kau dan ibumu menyiksa Quirin di gudang ini, saat itu Quirin juga memohon padamu, tapi apa kau mendengar kan nya?, Tidak" ucap Quiran dengan menggeretakkan giginya lalu memukul tubuh Lura dengan besi itu.


Takkkk

__ADS_1


"Arghhh, sakit!"


Bersambung ...


__ADS_2