
"Ayolah ibu, bukankah ibu yang menyuruh aku pulang?, setelah aku berpikir kembali, aku mengikuti perkataan ibu untuk pulang dan berkumpul bersama kalian disini" ucap Quirin sambil melihat kearah Calis
"Aku sangat ingin makan bersama kalian" ucap Quirin sambil mengajak mereka berdua duduk ditempatnya
"Mereka terlihat sangat akrab, Quirin benar-benar sudah berubah" batin Grizo tersenyum kearah mereka
Mereka makan bersama di meja makan, tidak ada yang memulai percakapan dan hanya terdengar dentingan sendok dan garpu.
"Ayah, aku sudah selesai makan, aku akan kembali ke kamarku" ucap Quirin sambil bangkit dari duduknya
Lura membelalakkan matanya, ia menaruh sendok dan garpu lalu berdiri "Kak, kamar itu sudah menjadi milikku" ucap Lura sambil menatap Quirin
Setelah mendengar itu, Quirin menghentikan langkah kakinya lalu melihat kearah ayahnya "Benarkah itu ayah?" tanya Quirin dengan sorot mata yang tajam
Grizo juga menatap kearah Quirin, ia terkejut setelah melihat sorot mata Quirin yang tajam "Matanya" batin Grizo
"Benar, kau bisa pindah kekamar yang lain Quirin" ucap Grizo berusaha tersenyum
"Cih, masih saja" batin Quirin
"Baiklah ayah, aku akan tinggal dengan tuan muda saja" ucap Quirin membalikkan badannya dan melangkah meninggalkan ruangan makan
"Bagus, ayah masih membelaku" batin Lura tersenyum senang
Grizo langsung terkejut setelah mendengar ucapan Quirin "Tidak!, jangan!, aku tidak ingin dia meninggalkan ku lagi" batin Grizo
"Lura, kau pindah ke kamar lain, biarkan kakakmu tinggal di kamarnya" ucap Grizo meninggalkan meja makan dan menyusul Quirin
Lura terkejut ia langsung menoleh kearah ibunya "Bu, lihatlah, ayah bahkan tidak memperdulikan ku, aku sangat menyukai kamar itu, kamar itu lebih luas daripada kamar ku yang dulu" ucap Lura sedikit merengek pada ibunya
"Ibu akan membicarakan ini pada ayahmu" ucap Calis yang juga ikut meninggalkan meja makan dan menyusul
Setelah mendengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa dari arah belakang, Quirin sengaja memperlambat langkah kakinya agar Grizo bisa mencegat dirinya.
Grizo menghentikan langkah Quirin "Nak, maafkan ayah, kau kembalilah ke kamarmu" ucap Grizo sambil memegang lengan Quirin
Quirin membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Grizo "Tidak, aku akan kembali ke mansion tuan muda saja, aku cukup lelah setelah hidup beberapa tahun di jalanan, sekarang ada tuan muda yang menjamin hidupku, jadi untuk apa aku tinggal di kediaman yang kecil ini?" ucap Quirin sombong sambil menghempas pelan tangan sang ayah
Grizo sedikit terkejut setelah tangannya di hempas oleh Quirin, ia juga mendengar penuturan Quirin yang sangat menyakitkan baginya, perlahan-lahan kepala Grizo mulai menunduk, karena hatinya sudah tidak tahan menahan rasa bersalah yang selalu menghantuinya dalam beberapa bulan lalu.
"Aku tau kehidupan mu diluar sana, aku ayah yang bodoh membiarkan anak sendiri hidup diluar tanpa membawa uang sedikitpun, sekarang bahkan dia tidak mau bergantung padaku lagi, dia lebih memilih bergantung pada orang luar daripada ayah kandungnya, apa ini sebagai bentuk rasa kecewamu?, aku benar-benar ayah yang sangat bodoh" batin Grizo yang menunduk
__ADS_1
"Aku ingin melihat seberapa besar rasa bersalah mu pada Quirin" batin Quirin sambil tersenyum smirk
Quirin mengindahkan pandangannya kedepan, ia melihat Calis berjalan mendekati dirinya dan juga sang ayah.
"Quirin, kita tidak bisa memberikan kamar itu padamu, Lura sudah sangat nyaman tinggal di kamar itu, kau pilih kamar yang saja" ucap Calis dengan lembut disertai senyum manis
"Jika semua kamar sama, kenapa tidak memindahkan dia saja?, aku tau jika aku bukan anak kandungmu, tapi jangan memperlakukan aku seperti orang asing di rumahku sendiri" ucap Quirin sambil mengeluarkan air matanya
Grizo merasa dadanya terasa sesak melihat Quirin mengeluarkan air mata "Apa ini yang selalu kau lakukan?" tanya Grizo sambil melirik Calis yang ada di sampingnya
Calis melihat kearah Grizo, melihat tatapan Grizo membuat Calis sedikit takut "Tidak Quirin, ibu selalu berlaku adil pada kalian" ucap Calis menoleh kearah Quirin sambil tersenyum.
Quirin melihat tangan Calis yang sudah terkepal dengan kuat "Aku menyukai kamar ku, aku tidak ingin tinggal di kamar lain" ucap Quirin sambil menghapus air matanya
Grizo merasa kasihan melihat Quirin ia menghela nafas pelan "Sejak awal itu memang kamarnya, jadi Lura harus pindah ke kamarnya yang dulu" perintah Grizo melihat kearah calis
"Baik, aku akan berbicara pada Lura" ucap Calis yang sudah menahan amarahnya
Grizo mengalihkan pandangannya pada Quirin "Pergilah ke kamarmu dan beristirahat lah" ucap Grizo tersenyum sambil mengelus punggung Quirin lalu meninggalkan keduanya
"Sepertinya dia masih mempunyai hati, Aku akan membuka pintu maaf khusus untuknya, tapi itu semua tergantung pada cara dia bersikap padaku!" batin Quirin sambil melihat kepergian Grizo
"Bagaimana?, sangat lancar bukan?" ucap Quirin tersenyum mengejek sambil melipat kedua tangannya
"Bukan kah kalian sangat senang berpura-pura?, aku hanya mengikuti cara kalian bertindak di rumah ini" ucap Quirin menaik turunkan kedua bahunya seolah tidak perduli
"Mengapa kau tidak mati saja!" bentak Calis dengan amarah yang mengebu-ngebu
"Hei, hei, tidak perlu membentak ku seperti itu, aku masih belum diizinkan untuk mati sebelum kebenaran ini terkuak" ucap Quirin tersenyum smirk
Setelah mendengar ucapan Quirin amarah Calis menurun secara drastis, amarah itu tergantikan dengan kegugupan "Ke..kebenaran apa?" tanya Calis yang mulai gugup
"Pffttt, haha...lihatlah, wajah ketakutan mu itu sangat lucu" ucap Quirin sambil tertawa mwngejek
Quirin mendekatkan wajahnya tepat di depan Calis "Ibu kandungku" ucap Quirin dengan penuh penekanan sambil menatap dengan membulatkan matanya seolah-olah mata itu akan keluar dari tempatnya
"Kau akan menanggung semua dosa di masa lalu" ucap Quirin lagi dnegan sorot mata yang tajam
Calis membulatkan matanya, ia terkejut Setelah mendengar penuturan Quirin, tubuhnya kini mulai gemetar ketakutan, jika dilihat dalam-dalam dimata itu terlihat ada kilatan amarah yang sudah menumpuk sangat lama
Calis menjauhkan wajahnya dari Quirin "ja...jangan sembarangan, aku tidak ada hubungannya dengan ibumu" bantah Calis mencoba memberanikan diri sambil menatap Quirin
__ADS_1
"Jika tidak ada kau!, ibuku tidak akan meninggal dunia, jangan pikir aku tidak mengetahui rencana busuk mu untuk menguasai rumah ini" ucap Quirin sambil mengangkat tangannya dan menunjuk-nunjuk dan menekan bahu Calis hingga membuatnya mundur.
Calis menundukkan kepala dan semakin lama semakin memundurkan langkahnya, rasa takut menghantui dirinya, ia tidak ingin kehilangan semua yang sudah didapatkannya dengan susah payah.
Quirin melirik tangan Calis yang sudah terkepal kuat, hingga kuku itu menembus kulit Calis "Terpancing" batin Quirin
"Aku harus melenyapkan wanita ini, jika tidak, semua rahasiaku akan terbongkar" batin Calis
Calis mendongakkan wajahnya dengan sombong "Apa kau tau?, ayahmu tidak mencintaimu dan juga ibumu" ucap Calis tersenyum
"Oh ya?, kau ingin bertaruh denganku?" tanya Quirin sambil tersenyum smirk
"Baiklah, kau ingin bertaruh apa?" tanya Calis dengan sombong
"Jika aku bisa menguasai ayah dan juga rumah ini, maka kau harus mempertaruhkan NYAWAMU" ucap Quirin sambil menekankan perkataan terakhir
Calis begitu tercengang mendengar kata terakhir yang di ucapkan Quirin "Apa dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya" batin Calis sambil menatap Quirin
"Dia hanya menakut-nakuti ku, Tidak mungkin dia berani melakukan hal yang semengerikan itu" batin Calis
"Jika kau kalah bagaimana?" tanya Calis
"Maka aturan yang sama, kita mempertaruhkan nyawa" ucap Quirin tersenyum smirk
"Demi memenangkan hati ayahnya, dia bahkan mempertaruhkan nyawa, kau tidak akan pernah menang dariku, sungguh anak yang bodoh" batin Calis tersenyum senang
Berrsambung...
Para pembaca jangan lupa tinggalkan jejak 👇
✓ Favorite
✓ Like
✓ Vote
✓ Gift
✓ Comment
✓ Rate
__ADS_1
Author sangat berterimakasih 🙏