
Gilma terkejut mendengar perkataan Leva, ia sedikit tidak terima jika Zee di sama ratakan oleh mereka semua.
"Tidak bisa bibi, bagaimana bisa bibi menyamakan kakak Zee dengan mereka, derajat mereka semua bahkan jauh di bawah kakak Zee" ucap Gilma dengan menentang perkataan Leva.
Leva yang sudah tidak memiliki kesabaran kini mulai mengeluarkan taringnya "memangnya kau berasal dari keluarga mana?, bahkan derajatmu jauh di bawah mereka. Kau ingin membandingkan dirimu dengan Xeno yang sudah mengelola perusahaan serta memiliki hartanya sendiri?, atau kau ingin membandingkan dirimu dengan Vano, Staren, Gavin dan Arnius yang sudah memiliki rumah mewah serta mobil sport. Oh ... atau kau ingin membandingkan dirimu dengan Xura yang memiliki 2 perusahaan?, Jika dibandingkan dengan mereka, kau sudah mempunyai apa?, rumah?, bukankah itu pemberian Zee?, atau mobil, bahkan itu juga pemberian dari Zee. Lantas kau memiliki apa Gilma!" ucap Leva dengan mata yang sudah melotot dengan sempurna.
Gilma tidak bisa berkata apa-apa lagi, kali ini yang mempermalukannya adalah Leva sendiri, selama ini Gilma percaya bahwa Leva akan terus membelanya, tapi diluar dugaan, kali ini Leva membela Xura dan yang lainnya.
"Bibi, kau yakin mengatakan hal itu padaku,? tanya Gilma dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Tentu saja sangat yakin, kau bahkan bukan bagian dari keluarga ku, lalu kenapa aku harus memperdulikan mu?" ucap Leva sambil memegang garpunya dan mengambil hidangan yang telah tersaji didepan mereka.
Lagi-lagi Gilma harus menahan malu, ia melihat kearah Vano dan yang lain, mereka terlihat seperti menahan tawa dan ketika Gilma melihat kearah Zee, mata Zee terus terfokus pada Xura yang tengah memakan hidangan yang di berikan oleh Vano.
Gilma terlihat kesal ketika Zee terus memperhatikan Xura, ia menggeretakkan giginya lalu berdiri dan menghentakkan tangannya di atas meja dengan kuat sehingga membuat Xura yang sedang melahap makanan tersentak kaget.
Xura tampak sangat marah, benjolan-benjolan yang ada di tangannya terlihat keluar "Sialan!, jika kau ingin pergi ... ya pergi saja, tidak perlu memukul meja untuk menggangguku makan!" teriak Xura dengan marah sambil menatap Gilma yang masih berdiri di kursinya.
__ADS_1
Gilma tersentak kaget melihat kemarahan Xura, ia bahkan sangat takut dengan mata yang tengah melotot kearahnya itu.
Melihat tidak ada yang membelanya, Gilma berlari sambil menangis, lalu Zee yang melihat itu berusaha mengejar Gilma.
"Dia akan memulai Drama baru" ucap Leva sambil meletakkan garpunya dan tidak jadi melahap hidangan yang telah di siapkan Vano.
Mata Xura seakan berbinar dengan melihat punggung Leva yang melenggang pergi "Bibi mengatakan drama?, ah aku sangat menyukainya, sebaiknya kita semua ahrus menonton drama ini, pasti sangat seru" ucap Xura sambil tersenyum smirk.
Vano, Staren, Gavin, Arnius, Al dan Xeno saling memandang satu sama lain.
"Sepertinya dia memiliki ide yang baru" ucap Al sambil menghela nafas dengan pelan.
AL dan Xeno tidak mengetahui bahwa Vano dan Xura hanya berakting, Jika Vano memberitahukan mereka soal itu, maka Vano khawatir jika kedua orang itu akan memberitahu pada Zee, dan hal itu pasti bisa merusak rencana Xura.
Vano mencoba membuat ekspresinya senatural mungkin, dan ia terus berusaha mengimbangi akting Xura agar mereka semua bisa percaya bahwa Vano dan Xura adalah pacar sungguhan.
"Aku tidak menyangka bahwa kau merebut Xura dari Zee" ucap Xeno dengan melirik kearah Vano.
__ADS_1
"Kau dulu sudah bersumpah untuk setia pada Zee, tapi kenyataannya sangat berbeda dengan apa yang telah kau ucapkan" timpal Al yang juga ikut melirik Vano dengan tajam.
"Tuan, aku memang bersumpah untuk setia pada tuan muda, bukan berarti aku juga harus merelakan wanitaku untuknya, ingat tuan, kesetiaan yang aku katakan sangat jauh berbeda dengan yang kalian katakan" ucap Vano yang mulai membuka apronnya dan langsung meninggalkan meja makan.
"Tuan, jika aku jadi Vano, aku juga akan melakukan hal yang sama, kami setia bukan berarti kami harus memberikan wanita kami pada kalian" ucap Gavin yang juga ikut meninggalkan meja makan.
"Aku tidak membenarkan atau menyalahkan perkataan kalian, jika kalian berada di sisi Vano, apa yang akan kalian lakukan tuan?, apa kalian juga akan merelakan sang wanita demi kesetiaan yang memiliki makanan berbeda itu?" tanya Staren sambil mengikuti jejak Gavin dari belakang.
Al dan Xeno terkejut mendengar perkataan ketiga orang itu, kini yang tersisa hanya Arnius seorang, ketika Arnius melangkah maju, Al langsung melototkan matanya "Apa kau juga ingin meninggalkan kata-kata mutiara untuk kami?" tanya Al yang mulai kesal.
Arnius terkejut dan ia sedikit gemetar ketakutan "Ti-tidak tuan, aku hanya ingin pergi saja" ucap Arnius sambil berlari mengikuti jejak Vano, Staren dan Gavin.
"Hah ... mereka semakin lama semakin menyebalkan" ucap Al sambil berdecak pinggang dan menghela nafas dengan kasar.
Xeno tampak terdiam, ia seperti memikirkan sesuatu "Benar, keduanya sangat berbeda, kita tidak bisa ikut campur dengan percintaan mereka, lagipula aku melihat bahwa Xura dan Vano terlihat saling mencintai" timpal Xeno yang ternyata terus memikirkan perkataan ketiga bawahannya itu.
"Sudahlah, lebih baik kita menyusul mereka, aku ingin melihat apa yang akan di lakukan wanita gila itu" ucap Al sambil mengajak Xeno.
__ADS_1
Keduanya langsung berlari keatas dan mereka melihat semua orang tengah berkumpul didepan kamar Gilma.
Bersambung ...