
"Aku tidak paham apa yang dia bicarakan" ucap Carlos sambil melanjutkan langkahnya
Theo memutar kepalanya, ia melihat Carlos naik keatas, perlahan Theo berbalik dan berjalan pelan menaiki anak tangga tanpa menimbulkan suara "Aku bukan tidak percaya dengan ucapan tuan muda, tapi aku masih tidak yakin Carlos bisa menghianati tuan muda" ucap Theo sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan
Ia ingin memastikan sendiri perkataan sang tuan muda, di ujung tangga Theo hanya menunjukkan kepalanya saja, ia melihat Carlos sedang berdiri di depan ruang kerja Alpha
"Benar perkataan tuan muda, jika dia tidak menguping lalu untuk apa dia berdiri disana?, dia pasti ingin mendengarkan semua percakapan tuan muda" ucap Theo dengan menggeretakkan giginya
Carlos seperti menyadari ada seseorang yang menatap kearahnya, ia langsung melihat kearah tangga hingga membuat Theo tersentak kaget "Aku harus pergi dari sini dan bertindak dengan cepat" ucap Theo dengan berbalik dan langsung berlari kebawah
" Seperti ada seseorang yang mengawasi ku" batin Carlos, ia berlari kecil untuk tidak menimbulkan suara "Tidak ada orang, apa hanya perasaanku saja?" batin Carlos sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal
"Sudahlah, lagian tidak mungkin ada yang menyadari jika aku memata-matai keluarga ini" gumam Carlos sambil tersenyum senang
"Aku tidak akan membiarkan mereka mengetahui rencanaku, dengan membongkar informasi mereka maka aku bisa menghasilkan uang yang sangat banyak" gumam Carlos tersenyum ceria
Ia tidak menyadari jika sang tuan muda mendengarkan semua ucapannya dibalik pintu itu "Bagus, ternyata itu rencanamu, maka aku tidak akan segan membuatmu menderita" ucap Alpha dengan datar
Alpha memulai merencanakan sebuah rencana besar, ia berjalan dan duduk disofa sambil berfikir
Sedangkan Theo berlari menuju kamarnya, ia mengambil sebuah benda super kecil, setelah menemukannya, Theo dengan cepat memasuki kamar carlos yang berada di samping kamarnya.
Ia menaruh benda itu ditempat tersembunyi, dan keluar dari kemar itu dengan cepat "Lihatlah, semua kebusukanmu akan terbongkar" gumam Theo sambil tersenyum
Xura berada di kamarnya, ia masih terbayang dengan sang ayah "Aku sangat merindukan ayah" gumam Xura
"Aku berharap dia menjaga ayah, bukan malah sebaliknya"
"Tunggu aku ayah, jika masalah disini sudah selesai, maka aku akan kembali ke Inggris dan memberitahumu segalanya" gumam Xura sambil menghapus air matanya lalu perlahan-lahan mata itu mulai tertutup dengan rapat
__ADS_1
***
"Sudah lama aku tidak melihatnya, bagaimana kabar temanku itu" gumam Xia sambil tersenyum serta sedang melangkah santai di pinggir jalan
Ia mulai mengeluarkan ponsel miliknya, tangan lentik itu mulai mencari nomor Quirin, Xia terlalu fokus pada ponsel hingga tidak menyadari sebuah mobil dengan kecepatan penuh mengarah padanya
"Hallo, Untuk apa kau menghubungiku?" tanya Quirin diseberang sana
Brakkkk
Belum sempat Xia membalas ucapan Quirin, mobil itu menghantam tubuh Xia dengan keras hingga membuat tubuhnya terpental kejalanan, lalu mobil yang menabraknya kabur begitu saja
Quirin yang mendengar suara tabrakan itu membelalakkan matanya "Xia, Suara apa itu?!" tanya Quirin dengan berteriak
"Apa kau disana!"
Quirin berteriak didalam kamar Zee, hingga sang pemilik kamar membuka matanya "Kau sangat berisik, kenapa berteriak?" tanya Zee dengan suara khas seorang yang baru saja bangun tidur
Quirin tersentak kaget, ia melihat kearah Zee "Sa-at Xia menghubungiku, aku mendengar suara tabrakan, sekarang Xia malah tidak menjawab panggilanku, aku khawatir padanya" ucap Quirin dengan keringat dingin
Zee yang baru saja mendengar ucapan Quirin juga ikut membelalakkan matanya "Kita pergi sekarang!" ucap Zee sambil bangkit dari tidurnya
"Kau istirahat saja!, aku akan mengeceknya sendiri" ucap Quirin dengan raut wajah khawatir sambil beranjak dari duduknya
"Aku sudah pulih, kita bisa pergi bersama" ucap Zee dengan datar sambil melihat kearah Quirin
"Tidak perlu" ucap Quirin berbalik dan mulai berlari keluar kamar
"Perjanjian kontrak" ucap Zee dengan datar
__ADS_1
Quirin membelalakkan matanya, ia tidak menyangka jika Zee masih mengingat perjanjian kontrak mereka, langkah kaki Quirin berhenti seketika, ia menghela nafas dengan panjang "Silahkan tuan muda es" ucap Quirin dengan senyum terpaksa sambil membungkukkan badannya lalu membuat gestur tangan kanan mempersilahkan dan tangan kiri berada di belakang punggung
Zee tersenyum tipis melihat tingkah Quirin "Kau keluarlah, aku akan berganti pakaian" ucap Zee mengusir sambil menggerakkan tangannya
"Kau mengusirku?" ucap Quirin terkejut
Zee mengangguk lalu menggerakkan tangannya lagi "Dasar tidak tau terimakasih" ucap Quirin dengan kesal
"Atau kau ingin melihatku berganti pakaian"? tanya Zee tersenyum tipis dengan menggoda Quirin
Quirin membelalakkan matanya, wajah kesal itu sudah tidak bisa disembunyikannya lagi, ia langsung meninggalkan kamar itu dan menutup pintu dengan kasar
Bersambung ...
Para pembaca jangan lupa tinggalkan jejak 👇
✓ Favorite
✓ Like
✓ Vote
✓ Gift
✓ Comment
✓ Rate
Author sangat berterimakasih 🙏
__ADS_1