Another Person Life

Another Person Life
Memisahkan Tubuh Lura


__ADS_3

"Ja-ngan kak, aku tau aku salah, maafkan aku" ucap Lura di sela tangisnya.


Di bagian tangan Lura mulai terlihat warna yang berbeda. Di sana terdapat warna biru dan juga merah.


Pukulan yang di berikan Quiran hanya membuat kulit Lura berubah warna. Quiran ingin sedikit lebih lama bermain-main dengan Lura, tapi sepertinya waktu Quiran berada di luar cukup singkat.


Quiran tidak memperdulikan teriakan Lura, ia menarik rambut Lura dan menyeret tubuh itu dengan kasar.


"Kau dulu begitu sombong karena mendapatkan perhatian ayah bodoh itu, sekarang lihat lah, dia bahkan tidak memiliki keberanian untuk menolong mu" ucap Quiran sambil menendang tubuh Lura dengan kuat.


Brukkk


Brukkk


"Nggh"


Quiran terus menendang punggung Lura sehingga ia menahan rasa sakit di punggungnya.


"Kau dan ibumu sudah terlalu lama menikmati hasil jerih payah ibu Quiran, jadi sekarang waktunya untuk membalaskan semua dendam di hati Quirin." ucap Quiran dengan keras.


Setelah puas menendang tubuhnya, Quiran teringat sesuatu yang belum di ketahui oleh Lura.


"Apa kau tau siapa dalang di balik pelecehan yang menimpa mu?, semua itu adalah rencana kami haha .... " ucap Quiran lalu tertawa keras lalu menahan tubuh Lura dengan kakinya.


Lura yang mendengar itu terkejut, ia mulai mengingat dan menyusun semua rentetan dimana Quirin yang sedang memegang Laptop tapi yang terputar adalah video horor miliknya. Lura mulai mengeram marah dan ia pun langsung memegang kaki Quiran dengan tangannya.


Ia menyingkirkan kaki Quirin, lalu bangkit dan menoleh kearah para pria itu, Max yang sedang berada di balik dinding merasa kalau dirinya telah di panggil.


Max masuk dan tersenyum lebar "Hai" sapa Max dengan santai.


"Kalian!" teriak Lura dengan mata yang sudah melotot.


Quiran merasa kesal melihat kakinya di pegang oleh Lura "Lepaskan!" balas Quiran sambil menggerakkan kaki untuk menghempas tangan Lura dengan kasar.


Lura tersungkur dan membuat tangannya terseret kelantai.


"Menyebalkan sekali, jangan menyentuhku dengan tangan kotor mu itu, apa kau tau bahwa tubuhku ini sangat tak ternilai" ucap Quiran sambil menancapkan Besi yang masih di tangannya ke tangan Lura.


"Arghhhhh" teriak Lura dengan sangat keras.


"Aku tidak punya waktu lagi, jadi aku akan menyelesaikan tugas ini dengan cepat" ucap Quiran dengan menampilkan senyuman menakutkannya itu.


Quiran kembali menusuk besi itu ke tangan Lura, lalu ia menyebutnya dan menancapkan nya lagi di pergelangan tangan, Quiran mengulanginya mencabut dan menusuk kembali namun dengan beberapa jarak dari atas pergelangan tangan.


"Arghhh"


"Sakit"


"Hiks, hentikan" teriak Lura dengan keras.

__ADS_1


Kali ini Quiran tidak menjawab ataupun menghentikan tangannya, ia menusuk terus menerus bahkan sampai ke pundak Lura.


Lubang yang di buat kini berderet di tangan Lura, orang yang memiliki tangan itu bahkan sudah tidak sanggup untuk melihat tangannya lagi.


Darah sudah merembes kemana-mana, Lura bahkan terlihat sudah kehilangan banyak darah. Wajah pucat itu bahkan tidak mampu membuat Quiran merasa kasihan.


Lura ingin mengangkat tangannya, tapi tidak bisa, karena Tulang tangan kirinya telah hancur karena besi yang di tancapkan oleh Quiran.


"Kenapa kau melakukan ini pada ibu dan aku?, kami telah membuatmu hidup, lagipula kami hanya menyakiti Quirin dan tidak pernah menyinggung mu" ucao Lura yang sudah tergeletak di lantai.


Grizo yang mendengar itu langsung melotot, ia menutup wajah dengan kedua tangannya "apa yang sudah ku lakukan, maafkan aku Arcy." gumam Grizo dengan tangis tersembunyi.


Grizo hanya sedikit mempercayai perkataan Quiran karena mau bagaimana pun dia hanyalah seorang alter ego. Rumor mengatakan bahwa perkataan Alter ego sangat sulit untuk di percaya, tapi ketika Lura membenarkan perkataan Quiran, dalam sekejap saja jantung Grizo berdegup dengan kencang.


Quiran mengernyitkan dahinya,"Oh kau belum mati juga?, kau tau?, aku pernah mendengar bahwa orang jahat akan sangat lama mati, dan sekarang aku mempercayainya" ucap Quiran sambil menganggukkan wajahnya berkali-kali, ia bahkan tidak menjawab pertanyaan Lura.


Quiran mengambil sebuah pisau yang ada disana, ia pun kembali dan memegang pisau itu.


Lura melototkan matanya, "kenapa kau tidak langsung membunuhku saja?," tanya Lura dengan pasrah.


"Bukankah aku sedang melakukannya?, apa kau tidak melihatnya?, tapi nyawamu itu masih saja melekat di tubuh menjijikkan ini," ucap Quiran dengan jijik.


Quiran merobek seluruh pakaian Lura, "apa yang kau lakukan!" teriak Lura dengan sisa tenaganya


"Untuk apa malu? bukankah kau sudah mengeksposnya kemarin?," tanya Quiran dengan mengerutkan dahinya.


"Arghhhhhh"


"Sakittt"


"Jangan"


Lura terus berteriak, namun sang pemegang pisau tidak menanggapinya sama sekali.


"Bukankah ini terlihat bagus?," tanya Quiran dengan menato punggung Lura.


"Hiks, hiks. aku tidak mau lagi, lebih baik kau bunuh saja aku." lirih Lura dengan berderai air mata.


Quirin melukiskan sebuah bunga mawar dengan pisau yang cukup tajam itu, kini seluruh punggung Lura benar-benar seperti mawar merah.


"Hahaha ... sepertinya aku telaj menepati janji itu. apa kalian penasaran? .... baiklah, aku berjanji pada diriku sendiri untuk membuat mereka lebih memilih mati daripada hidup, dan sekarang ... semuanya terkabul begitu saja" ucap Quiran tersenyum senang.


Semua orang yang menonton disana ada yang mengerutkan dahinya, ada yang terlihat binggung, ada yang menahan tawa dan ada yang terlihat cuek.


Faktanya, Quiran bertanya dan ia menjawab pertanyaannya iru sendiri. Jika ada yang jawab mereka takut maka roh yang ada di tubuh mereka akan di keluarkan paksa oleh Quiran.


Quiran melirik kekanan dan kekiri, ia melihat sebuah mesin pemotong rumput yang tergeletak disana dan juga sudah sedikit berubah warna.


Quiran mengambilnya dan mencoba menghidupkannya.

__ADS_1


Drrrrtttt


Bunyi mesin itu begitu sangat kuat, hingga membuat semua orang melorotkan matanya, sedngkan Grizo terkejut dan mengangkat wajahnya, ia melihat Quiran sedang tersenyum dan memegang mesin itu.


"Jangan ... " teriak Grizo dengan keras.


Namun sayang, mendengar larangan itu, justeru membuat semangat Quiran semakin membara, ia mulai menggerakkan benda itu ke arah kaki, lalu dengan cepat kedua pergelangan kaki itu kini sudah terpisah dari bagian tubuh Lura.


"Drrrttt"


"Aarghhhh"


Suara jeritan dan mesin menjadi satu, darah dengan lancar keluar dari pergelangan kaki itu, terdengar sangat kejam, namun bagi orang-orang yang sudah melihat seluruh kejadian itu, mereka justru akan berpikir bahwa ibu dan anak itu memang pantas mendapatkannya.


Setelah selesai, Quiran kembali memotong kedua lutut Lura.


"Drrrttt"


"Aarghhhh"


Setelah kedua lutut itu berpisah, Quirin bahkan menginjak nya dengan kesal. Quiran bahkan tidak perduli dengan darah yang sudah mengenai tubuhnya.


"Tolong berhenti, aku sudah tidak kuat" lirih Lura dalam tangisnya.


Quiran yang mendengar lirihan itu justru semakin bersemangat, kini ia mulai menaikkan sasarannya, yaitu di bagian pinggang Lura.


"Ma ... "


"Drrrttt"


"Aarghhhh"


Perkataan itu tidak bisa di selesaikan nya karena mesin itu tengah bergerak memotong tubuhnya.


Akhirnya Lura telah menghembuskan nafas terakhirnya dengan tubuh yang telah terpisah dengan bokong. Bahkan seluruh isi perut Lura sudah keluar semua, namun Quiran tidak merasa jijik sama sekali.


Quiran yang tidak mendengar suara jeritan lagi merasa sangat kesal. "Cih, menyebalkan!, cepat sekali dia mati" decihnya.


Karena merasa kesal, Quiran melancarkan aksinya lagi, ia memotong kepala Lura menjadi dua, kini seluruh bagian dalam kepala Lura terlihat sangat jelas.


Tidak puas sampai disana, Quiran terus menggunakan alat itu untuk memotong tubuh Lura.


"Ini baru yang di namakan seni .... Haha" ucap Quiran sambil tertawa keras.


Pria-pria itu dan juga Rea berlari keluar, mereka semua seperti ingin mengeluarkan isi perutnya, sedangkan Vano tersenyum karena dirinya tidak melihat hal yang menjijikkan itu.


"Beruntung aku keluar terlebih dahulu" batin Vano tersenyum senang.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2