
Quirin menangis sejadi-jadinya, ia mulai mengangkat kepala dan menatap mayat Jean. ia seakan menyesali perbuatannya
"Rasanya aku akan menyerah dengan pembalasan dendam ini" gumam Quirin di sela tangisnya
"Tidak perlu menyesalinya"
Quirin terkejut mendengar suara itu, ia langsung menoleh kekanan dan kekiri, namun tidak menemukan siapapun "suara itu terasa familiar" gumam Quirin
Quirin kembali menatap mayat jean dengan dalam, tapi tatapan itu menunjukkan ketidakpeduliannya "benar, aku tidak boleh menyesalinya, mereka yang membuatku seperti ini, jadi mereka harus menerima akibat dari perbuatan mereka sendiri" gumam Quirin sambil menghapus jejak air mata di pipinya.
Quirin mulai bergerak merogoh saku Jean, ia mengambil kunci dan hendak pergi meninggalkan Jean, tapi Quirin mengingat seseorang dan ia pun melakukan sesuatu yang bisa membuat semua orang harus waspada.
Setelah selesai, Quirin langsung membersihkan tangannya "darahnya sungguh menjijikkan" gumam Quirin sambil menggelap tangannya di baju hingga tidak menimbulkan jejak di manapun. tapi satu yang Quirin tidak tau yaitu kedua pipinya telah terkena noda darah saat menghapus air matanya.
Quirin berdiri dan bergerak menuju pintu "baiklah, kedepannya aku tidak akan pernah menyesal dengan apa yang aku lakukan dan tetap bertekad membalaskan dendam pemilik tubuh" gumam Quirin sambil bersemangat kembali
Quirin kembali mengunci pintu itu, ia melihat Cctv tepat di sudut dinding, ia pun tersenyum dan berlalu pergi
Quirin kembali ke kamarnya dengan memanjat dinding balkon, setelah memasuki kamarnya Quirin melihat tangannya terdapat coretan panjang serta di kedua telapak tangan dan kakinya terdapat luka-luka kecil, hal itu membuat Quirin benar-benar kesal "sial!, semua ini karena pelayan rendahan itu!, aku pastikan kau tidak akan hidup damai di rumah ini!"
Saat Quirin didepan cermin, ia terkejut melihat wajahnya "siapa dia?, wajahnya jelek sekali?"
"Ck, itu aku?, aku tidak percaya ini, betapa jeleknya dirikuu bahkan sampai tidak mengenali wajah sendiri" gumam Quirin sambil meraba wajahnya
Quirin mengambil perlengkapan mandi dan langsung memasuki kamar mandi, setengah jam berlalu, Quirin yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung mengingat sesuatu "benar, ruang rahasia lainnya" gumam Quirin
__ADS_1
Ia pun langsung berlari ke lemarinya dan memeriksa dinding-dinding lemari "aku yakin ibu menyimpannya disini juga" gumam Quirin, saat meraba Quirin merasa ada yang mengganjal tangannya, ia langsung membukanya dan menemukan tumpukan berkas peninggalan sang ibu.
Quirin duduk di atas tempat tidurnya, ia membaca satu persatu berkas, tangan yang membolak-balikkan berkas itu bergetar hebat dan betapa syoknya Quirin "Mereka mengatakan ibu miskin, jika ibu miskin lalu mereka itu apa?, setumpuk sampah?, lihatlah mereka bahkan tidak ada apa-apanya di banding dengan ibu" gumam Quirin dengan mata yang hampir melompat keluar
"Aku tidak bisa membayangkan ini" gumam Quirin menutup berkas itu sambil mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskan dengan perlahan.
Faktanya saat melihat seluruh rekaman itu, Quirin hanya melihat ibunya menyembunyikan dibalik kasur, ia bahkan lebih terkejut karena ibunya menyimpan berkas itu kembali tapi di tempat yang berbeda. saat di bagian itu Quirin mempercepat rekamannya karena rasa penasaran melanda hatinya, dan ia menemukan fakta bahwa bukan hanya Calis saja yang terlibat, tapi juga seluruh anggota keluarga dan para pelayan.
Quirin menyimpan kembali berkas yang ada di tangannya, karena jika Calis sampai mengetahuinya, maka seluruh aset sang ibu akan direbut oleh Calis dan Grizo pasti akan menyetujui permintaannya.
"Ibu orang yang sangat misterius, pantas saja ibu bisa menghindari segala ancaman dengan mudah, tapi kenapa ibu tidak bisa menghindari kematian ibu dari para berdebah seperti mereka?" gumam Quirin sambil menjatuhkan tubuhnya dan menutup kedua matanya dengan salah satu lengannya.
"Biarpun aku bukan anak kandungmu melainkan jiwa yang sedang menumpang, tapi aku cukup pantas untuk memanggilmu ibu" gumam Quirin sambil memejamkan mata secara perlahan.
Suara hentakan kaki itu begitu terasa memenuhi seluruh rumah, semua orang keluar dari kamar mereka masing masing.
Grizo dan Calis langsung membuka pintu kamar mereka "ada apa?, kenapa kau berteriak seperti itu?" tanya Grizo sambil dengan menahan kantuk
Clamy dan Lura yang mendengar teriakan itu langsung membuka pintu kamar mereka secara bersamaan, tapi tidak untuk satu orang, ia mengumpat kesal karena dirinya baru saja memejamkan mata.
"Sial!, belum 1 menit menutup mata tapi sekarang justru mendengar teriakan orang itu, apa dia mengira rumah ini hutan?" gumam Quirin menggeretakkan giginya
"Nyo-nyonya besar tuan" gumam Beymi sambil gemetar ketakutan dan diselingi wajah panik tak menentu, bahkan Beymi sudah mengeluarkan air matanya.
Grizo merasa ada yang tidak beres setelah mendengar perkataan Beymi "tenanglah, katakan dengan jelas, ada apa dengan ibu?" tanya Grizo dengan menatap tajam Jean
__ADS_1
Beymi mengambil nafas dalam-dalam "tu-tuan saya tidak bisa menjelaskannya, tapi mari coba ikut dengan saya dulu" ucap Beymi menunduk dan meninggalkan kedua orang itu yang sedang kebingungan.
Calis yang melihat Beymi seperti orang ketakutan memutuskan untuk mengikuti apa yang dia katakan "sayang, kita ikuti saja dia" ucap Calis sambil menepuk bahu Grizo dan keduanya berjalan di belakang Beymi
"Ada apa dengan mereka semua?" pikir Clamy, ia yang tidak mendengar pembicaraan mereka merasa penasaran dan mulai melangkahkan kakinya.
Clamy melewati kamar Lura dan mendapati Lura yang sedang berdiri didepan kamarnya sambil melihat kearah kedua orang tuanya "apa kau mendengar yang mereka katakan?" tanya Clamy pada Lura
Lura tersentak kaget mendengar suara Clamy, ia menoleh kebelakang "mana aku tau, kenapa kau bertanya padaku?, aku sediri tidak mendengarnya" ucap Lura kesal
Clamy menaikkan satu alisnya "apa pendengaran mu telah rusak?, jarak kalian tidaklah jauh tapi kau justru tidak bisa mendengar perkataan mereka, lucu sekali kau, kalau saja jarak kamarku tidak terlalu jauh dari kalian semua, pasti aku tidak akan bertanya padamu" balas Clamy sambil melanjutkan langkahnya
Lura terlihat sangat kesal "dia hanya tamu tapi sudah berani sekali berkata seperti itu padaku, dia sama seperti kakak, sama-sama menyebalkan" gumam Lura sambil mengikuti langkah Clamy
Saat Beymi berjalan mereka melewati kamar Quirin, ia berjalan sambil menunduk dan melihat kaki seseorang sedang berdiri didepan kamar.
Beymi mengangkat wajahnya dan betapa terkejut melihat Quirin masih dalam keadaan baik-baik saja.
Keringat dingin terus keluar di dahi Beymi, air matanya juga kian mengalir dengan deras. apalagi sekarang Quirin sedang menampilkan seringai tajam dibibirnya, hal itu membuat Beymi semakin gemetar ketakutan hingga membuat kakinya terasa lemas dan jatuh di hadapan Quirin.
Quirin hanya melihat Beymi jatuh di hadapannya, ia tak berniat membantu "ada apa ribut-ribut?, teriakannya sangat mengganggu" gumam Quirin sambil menguap
Grizo semakin percaya perubahan anaknya benar-benar drastis, biasanya ia melihat anaknya selalu menolong orang yang sedang kesusahan, tapi kali ini ia membiarkan Beymi begitu saja.
Bersambung ...
__ADS_1