
Max pun tersadar lalu bangkit secara perlahan, namun ia kembali terjatuh karena merasa punggungnya sedikit ngilu "saat ini rasanya badanku hampir remuk" ucap Max sambil memegang punggungnya
"Tuan, apa tuan tidak tau, jika wanita itu adalah wanita yang di tolong oleh tuan muda, bahkan dia juga wanita pertama yang di bawa pulang tuan muda kemansion ini dan semua fasilitas yang di kenakan olehnya juga pemberian tuan muda sendiri" ucap Alica sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Max berdiri
Max menerima uluran tangan Alica "bagaimana bisa seperti itu?" tanya Max heran sambil mencoba bangkit untuk yang kedua kalinya
"Saya tidak tau cerita lengkapnya, tapi selama saya mengenalnya dia adalah wanita yang sangat lembut serta sedikit keras, bahkan dia terang-terangan berani memerintah tuan muda di hadapan kami, apa wanita seperti itu menggoda tuan muda?" tanya Alica lagi pada Max, ia mengatakan itu agar Max tidak salah paham pada Quirin dan menanggung amukan tuan mudanya.
Max berpikir sejenak "benar yang dia katakan, saat aku mencoba menjauhinya dari Zee, dia bahakan dengan berani mengatakan tidak punya hubungan didepan Zee" batin Max
"Apa kalian setuju mempunyai nyonya seperti dia?" tanya Max dengan menoleh kearah Alica
"Kami bahkan lebih setuju jika dia menjadi nyonya kami, karena sepertinya hanya dia yang bisa melawan si nenek sihir itu" ucap Alica mengerucutkan bibirnya
Max yang melihat itu terkejut karena Alica berani menjelekkan wanita itu. bahkan secara langsung Alica mengeluarkan ekspresi tidak sukanya.
Alica tersentak kaget karena dirinya baru mengutarakan isi hatinya secara spontan "eh ... maafkan saya tuan muda" ucap Alica sambil membungkuk berkali-kali di hadapan Max, ia bahkan sudah berani menghina wanita itu didepan orang seperti Max.
"Pffttt ... kau tau, kau adalah wanita pertama yang berani mengejeknya" ucap Max sambil tertawa
"Dia sungguh Lucu" batin Max
"Maafkan saya tuan" ucap Alica sangat merasa bersalah
"Tidak apa-apa, tapi aku memperingatimu untuk tidak mengatakan apapun ketika wanita itu berada disini, karena jika dia sudah berada disini bahkan Zee juga tidak bisa berbuat apa-apa" ucap Max dengan pelan
"Baik tuan" ucap Alica menghembuskan nafas dengan kasar, karena ia sedikit mengira kalau max adalah orang dari wanita itu, tapi dirinya salah mengira, bahkan mungkin Max lebih membenci wanita itu
"Nyonya, kami semua telah mengakuimu, tolong selamatkan tuan muda dan secepatnya menyingkirkan wanita itu" batin Alica memohon
__ADS_1
Max seperti mengingat sesuatu yang sempat ia lupakan "tapi bagaimana kau bisa berada disini?" tanya Max dengan heran
Alica tersentak kaget, jika ia mengatakan jujur maka itu bisa sangat melukai harga diri Max, namun jika dia tidak mengatakannya maka Max akan marah padanya. karena bagi para maid kemarahan Max sangatlah menakutkan
"Tuan, tolong jangan tersinggung, saat saya ingin lewat, saya tidak sengaja melihat tuan dibanting oleh nona" ucap Alica sambil menahan tawanya
"Apa?!" teriak Max, sekarang harga dirinya sangatlah hancur karena ulah wanita itu
"Maafkan saya tuan" ucap Alica sambil membungkuk berulang kali
"Siapa namamu?" tanya Max dengan wajah menyeramkan
"Tidak berani tuan, saya permisi" ucap Alica yang langsung berlari dengan kecepatan penuh karena tidak berani menghadapi wajah menakutkan Max
"Sialan!" teriak Max dengan kesal
Quirin tersentak kaget "Hei, jangan sembarangan merusak rambutku, aku juga sedang tidak memikirkannya, dia orang yang tidak penting" ucap Quirin acuh sambil membenarkan rambutnya yang telah dirusak oleh Zee
"Baiklah, sekarang kita menjenguk Xia lalu ketempat wanita menyebalkan itu" ucap Zee dengan raut wajah yang tidak suka setelah membicarakan Clamy
Quirin mengangguk setuju, mereka berjalan kebelakang mansion untuk menggambil sebuah mobil.
Zee memilih mobil yang akan mereka gunakan "pakai ini saja, agar tidak terlihat mencolok" ucap Zee sambil memasuki mobilnya
"Apa dia bodoh?, dia mengatakan agar tidak mencolok, namun mobil yang akan digunakannya ini sudah bisa di katakan sebagai mobil bangsawan" gumam Quirin yang tidak habis pikir oleh kebodohan Zee
Zee yang berada didalam mobil langsung menurunkan kaca mobil Quirin, dan menyuruh Quirin agar segera masuk kedalam mobil
Quirin hanya bisa pasrah dan masuk kedalam mobil dengan wajah yang tertekuk.
__ADS_1
Didalam mobil, keduanya hanya diam, lalu Quirin mengingat sesuatu yang ingin ia tanyakan "aapa lagi yang di katakan oleh Quiran?" tanya Quirin sambil menempelkan satu tangannya diatas pintu mobil lalu menumpu dagunya
"Hanya itu saja" ucap Zee sambil mengemudi dengan kecepatan sedang
"Apa menurutmu aku aneh?" tanya Quirin lagi dengan tatapan mengarah luar jendela
"Tidak aneh" ucap Zee
"Menurutku sangat aneh, gadis dengan memiliki alter ego, semua orang akan menjauhi orang sepertiku, tapi kau tidak, mengapa?" tanya Quirin yang masih menatap keluar
"Karena hutangmu sangat banyak, jadi aku terpaksa harus mempertahankanmu" ucap Zee dengan santai
"Benar, dia adalah pembisnis, seorang pembisnis harus memiliki keuntungan dan tidak ingin ada kerugian" batin Quirin tersenyum pahit
"Aku sudah bisa menebaknya" ucap Quirin
"Bagus jika kau sadar, dan aku juga perlu mengingatkanmu, pengobatan Xia juga tidak gratis" ucap Zee sambil tersenyum tipis
"Aku tahu itu" balas Quirin yang masih menatap keluar, ia tidak berniat melihat wajah Zee yang menyebalkan.
"Hah, sepertinya aku akan tinggal lebih lama di negara ini" batin Quirin sambil menghembuskan nafas kasar
Setelah sampai dirumah sakit, Quirin langsung berlari agar bisa segera sampai di ruangan Xia "aku tidak akan mengizinkanmu pergi dari sisiku" gumam Zee sambil melihat punggung Quirin yang sedang berlari
Quirin sampai di lantai atas, disana ia melihat para pengawal Zee menjaga kamar Xia dengan ketat
"Sepertinya aku tidak perlu khawatir, Zee benar-benar sangat membantuku, dan aku rela membayar mahal untuk pengobatan Xia serta pengawalan yang dia berikan" gumam Quirin sambil tersenyum
Bersambung ...
__ADS_1