
Setelah menyuntik obat bius, mata Quirin yang tadinya terbuka, secara perlahan-lahan tertutup rapat
Dokter Al berbalik dan berjalan mendekati Zee "Ayo tinggalkan dia, pasti musuhnya lagi memantau" ucap dokter Al sambil tersenyum melihat kearah Zee
Zee sebenarnya tidak ingin melihat Quirin terluka, akan tetapi demi mengungkapkan sebuah rahasia, ia hanya bisa mengangguk setuju, ia dan dokter Al keluar dari ruangan dan berjalan beriringan, mereka sengaja meninggalkan Quirin sendirian agar bisa membuktikan perkataan dokter Al
Darla pun tersenyum saat melihat dari kejauhan, ia melihat dokter Al dan Zee keluar tanpa ada Quirin di samping mereka, Darla sangat menantikan peluang besar menghampiri dirinya
"Setelah lama menunggu, akhirnya mereka keluar juga, sepertinya wanita itu masih didalam diruangan dokter Al" ucap Darla tersenyum jahat
Darla berjalan gontai mendekati ruangan, tetapi ia langsung menghentikan langkah kakinya "Sebaiknya aku menunggu beberapa menit lagi, aku takut mereka kembali dengan cepat" gumam Darla sambil memutar tubuhnya
Darla berjalan dilorong rumah sakit, ia tidak sengaja mendengar seorang perawat berucap pada temannya "Apa kau tau?, dokter Al dan tuan muda Zee sedang memeriksa laporan keuangan rumah sakit?"
"Iyaa, tuan muda sangat tampan, aku sangat ingin memiliki tuan muda"
"Aku tidak sedang membahas tuan muda yang tampan, tapi aku membahas laporan keuangannya" ucapnya kesal, lalu meninggalkan temannya yang berdiri sedang mendambakan sesuatu yang sangat susah di gapai semua orang di inggris
Darla yang mendengar semuanya langsung tersenyum smirk, ia berbalik arah dan berjalan mendekati ruangan dokter Al, ia membuka pintu secara perlahan, dan mengintip sedikit kedalam ruangan, ia melihat Quirin tertidur pulas diatas brankar
__ADS_1
Darla berjalan mendekati brankar Quirin, mencolek keras pipi Quirin, hingga kepala Quirin terayun kekanan dan kekiri, Darla mengulangi perbuatannya berkali-kali, hingga pipi yang tadinya seputih salju kini menjadi sedikit berwarna merah
"Akhirnya aku mempunyai kesempatan membalaskan perbuatanmu yang sudah mempermalukanku beberapa bulan lalu" ucap Darla kesal, tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, ia menampar pipi kanan Quirin dengan sangat keras
"Huh, aku sangat membenci muka wanita ini" ucap Darla kesal, ia sangat iri dengan wajah Quirin yang sangat cantik
"Tidak ada yang bisa menolongmu kali ini, karena dokter Al dan tuan muda Zee akan sangat lama mengurus laporan keuangan itu" ucap Darla sambil tertawa
Darla mengambil ponselnya, dan dengan cepat memanggil dua orang suruhannya "Segera datang keruangan dokter Alvey " ucap Darla singkat langsung mematikan sambungan ponselnya
Mereka berdua menyelinap memasuki rumah sakit dengan menggunakan baju dokter dan memakai masker, mereka mengikuti instruksi Darla, berjalan menyusuri lorong rumah sakit, melihat kekanan dan kekiri untuk mencari ruangan dokter Al, lorong yang biasanya ramai kini begitu sepi dan tidak ada orang yang berlalu lalang
"Tumben rumah sakit sesepi ini" ucap salah satu, sambil melihat kearah temannya
Mereka lanjut berjalan dan sesampai didepan ruangan yang bertuliskan dokter Alvey Kavindra, mereka sedikit ragu untuk memasuki ruangan itu, namun karena bayaran tinggi, mereka menepis jauh keraguan pada diri masing-masing
Dengan cepat mereka membuka pintu, memasuki ruangan secara perlahan, terlihat Darla sudah berdiri di samping brankar
Darla menoleh kebelakang, ia sedikit takut, saat mengetahui siapa yang datang ia langsung menghembuskan nafas lega "Bawa dia ke gudang" perintah darla
__ADS_1
Kedua orang itu mondorong brankar Quirin keluar ruangan, lorong yang saat itu mereka lewati terasa sepi kini sudah terlihat ramai, kecurigaan mereka sedikit berkurang
Mereka membawa Quirin kedalam gudang yang terlihat kumuh dan tidak terawat, Darla menyuruh kedua orang itu untuk memasukkan brankar Quirin kedalam
"Emm, apa yang harus aku lakukan dengannya?" gumam Darla sambil berfikir
Bersambung...
Para pembaca jangan lupa tinggalkan jejak 👇
✓ Favorite
✓ Like
✓ Vote
✓ Gift
✓ Comment
__ADS_1
✓ Rate
Author sangat berterimakasih 🙏