
Zee yang mendengar itu mengepalkan kedua tangannya, hawa dingin bahkan bisa dirasakan oleh kedua wanita itu.
Wajah kesalnya juga terlihat sangat jelas, ia
mulai tidak perduli siapa wanita yang sedang berdiri di hadapan nya, ia bahkan tidak memiliki rasa takut sedikitpun.
Zee yang benar-benar sangat kesal mengeluarkan benjolan yang ada di leher dan kening nya "Apa kau yang melakukan semua ini?!" teriak Zee dengan marah.
Zee tidak pernah sekalipun berteriak ataupun marah, tapi sekarang, ia mulai mengeluarkan emosi yang sejak awal tertahan pada arwah yang sedang berdiri di hadapan nya.
Wanita itu tidak terkejut lagi, ia sangat menyadari kesalahannya itu "Maafkan aku, aku tidak memiliki pilihan lain, karena sejak awal kalian memang miliki takdir yang saling berhubungan, jika aku tidak mengubah nya, maka yang akan menderita adalah Xura dan Quirin" jelas wanita itu dengan air mata mengalir.
Zee seketika terpaku mendengar perkataan wanita itu, ia tidak tau maksud dari perkataan wanita itu, Zee bahkan tidak tau harus berkata apa, karena dirinya juga tidak ingin Xura mendapatkan masalah.
"Menderita?, apa maksudmu?" tanya Zee dengan menurunkan nada bicara nya.
Wanita itu mulai bercerita pada Zee, sedangkan Zee mendengarkan dengan seksama, berbagai ekspresi terlihat jelas di wajah Zee.
Zee memasangkan semua perkataan wanita itu dengan Feryun, kini teka teki yang ada di kepala Zee mulai di susun dengan rapi.
Zee kini tau alasan kenapa keluarga tersembunyi selalu mencari keberadaan Xura, hal itu membuat Zee tidak bisa berkata-kata.
Sedangkan paranormal yang menemani Zee tidak ingin ikut campur dengan mereka, ia bahkan tidak bisa memberitahukan pada Zee seperti apaa masa depannya nanti.
"Maafkan aku Leva, aku tidak bisa mengubah takdir anak mu, biarlah ini menjadi perjalanan mereka tanpa ikut campur dari manusia seperti ku" batin Paranormal itu sambil melihat raut wajah Zee yang sudah mengeluarkan keringat dingin di dahinya.
Di tempat lain,
Aarrgghhhh
__ADS_1
Ketika membuka mata, Quirin berteriak dengan sangat kuat, Feryun yang tidur di kamar sebelah terkejut mendengar teriakan Quirin.
Feryun membuka mata nya dan langsung berlari keluar, ia pun bergegas membuka pintu kamar Quirin yang tidak di kunci dan menerobos masuk.
Feryun melihat Quirin tengah menangis sambil terduduk dengan melihat kedua tangannya.
"Aku sudah membunuhnya"
"Aku membunuhnya dengan tanganku sendiri"
Feryun tampak terkejut melihat kondisi Quirin, ia bahkan mendengar apa yang di katakan oleh Quirin, Feryun melihat Quirin seperti terguncang dengan kematian Cassi.
"Hei, ada apa denganmu?" ucap Feryun yang langsung duduk di atas tempat tidur lalu memegang tangan Quirin yang sedang gemetar.
Quirin tidak menjawab perkataan Feryun, ia juga bahkan tidak membalas rangsangan tangan Feryun.
Feryun yang tidak mendapat respon itu langsung memeluk tubuh Quirin dan mengelus punggungnya.
Feryun menghela nafas pelan "Tenanglah, kakak ada di sini" ucap Feryun mencoba menenangkan Quirin.
Quirin yang mendengar itu langsung memeluk tubuh Feryun dengan sangat erat "kakak, kenapa aku bisa ada disini?, bagaimana dengan Cassi?" ucap Quirin sambil menenggelamkan wajahnya di pundak Feryun.
Feryun yang mendengar itu bisa mengerti bahwa jiwa yang ada di dalam tubuh adiknya belum stabil, sedetik yang lalu ia mengatakan sudah membunuh Cassi, lalu sedetik kemudian ia menanyakan bagaimana dirinya bisa berada di rumah dan menanyakan kabar Cassi.
Feryun dengan sabar dan perlahan menyampaikan pesan Quiran padanya.
"Quiran hanya menyampaikan permintaan maaf karena dia membunuh Cassi dengan cara yang sama seperti apa yang Cassi lakukan padamu" ucap Feryun dengan perlahan.
Quirin tersentak kaget, ia menyadari Feryun sudah mengetahui sisi lainnya, ia pun langsung menangis dengan sangat kuat.
__ADS_1
Hwaaa
Tangis Quirin semakin pecah, ia dulu sangat menyayangi adik nya, tapi sekarang ia bahkan membunuh Cassi dengan tangannya sendiri.
"Apa kau menyesal?" tanya Feryun yang masih memeluk Quirin.
"Kakak, aku menyayanginya, walau bagaimanapun dia tetaplah adikku" ucap Quirin yang semakin terisak.
Feryun menghela nafas pelan, ia tidak menyangka jiwa yang ada di dalam tubuh adiknya itu berhati lembut, ia juga menyadari bahwa rumor yang beredar tidak sepenuhnya benar.
Hati kecil feryun bahkan tidak ingin melihat wanita yang ada di depannya menangis.
"Apa kau lupa dengan apa yang telah dia lakukan terhadap mu dan juga papa mu?" tanya Feryun sambil melepaskan pelukan mereka dan memegang kedua pundak Quirin.
Quirin yang sedang menunduk kini tersadar dengan omongan itu, ia pun langsung mengangkat wajahnya dan menatap Feryun.
"Berhentilah menyalahkan diri sendiri, semua ini terjadi karena perbuatan Cassi sendiri, dia pantas mendapatkan nya, jadi kau tidak perlu merasa bersalah dan memikirkannya lagi" ucap Feryun sambil mencium kening Quirin.
Seketika saja tangisan Quirin terhenti, ia pun langsung menghapus air mata nya dan menatap Feryun yang tengah tersenyum.
"Terimakasih, terimakasih" ucap Quirin sambil menghapus air matanya yang terus mengalir terus tiada henti.
Quirin kembali mengingat masa lalunya, sebagai Xura, ia tidak memiliki kerabat lain bahkan tidak pernah merasakan kasih sayang seorang kakak, karena itu lah dirinya tidak ingin sang adik kekurangan kasih sayang dan ia selalu berusaha untuk mencurahkan kasih sayangnya pada sang adik. Tapi balasan yang di terimanya adalah kematian.
Hancur?, Kecewa?, itu sudah pasti. Dan setelah sekian lama, akhirnya Xura bisa merasakan kasih sayang dari seorang kakak, bahkan ketulusan Feryun tampak terlihat sangat jelas.
"Terimakasih, terima ... " perkataan Quirin terpotong karena Feryun kembali memeluknya.
"Tidak perlu berterimakasih, aku tidak membencimu walau kau memiliki alter ego karena aku sudah menganggap mu seperti adikku sendiri" ucap Feryun memeluk dengan erat.
__ADS_1
Quirin bisa merasakan kehangatan yang di berikan oleh Feryun, ia bahkan membalas pelukan itu dengan sangat erat.
Bersambung ...