Another Person Life

Another Person Life
Kematian Jean


__ADS_3

Jean tidak habis pikir, bukankah tujuan Quirin untuk membunuhnya. tapi disaat dirinya sudah sangat pasrah Quirin justru menolaknya.


Jean yang sedang duduk di lantai memberanikan diri untuk mendongakkan wajahnya, keduanya saling berhadapan, ia seolah menelusuri bola mata yang tengah menatapnya. dan terlihat jelas dendam yang selalu di pendam seakan sedang membara di kedua bola mata itu.


Jean cukup terkejut dan langsung menyembunyikan wajahnya disela kedua kakinya "kau takut?, sekarang bukan waktunya untuk takut nenek, karena amarah yang selalu ku pendam selama bertahun-tahun ini telah membuahkan hasil, dia hadir didalam tubuhku dan menjadi sosok yang seharusnya tidak pernah ada didunia ini, dan semua ini karena ulahmu" ucap Quirin sambil menunjuk jarinya kearah jean.


Jean tidak melihat jari Quirin yang sudah berada didepan wajahnya "apa maksudmu?" tanya Jean sambil menangis menahan sakit di kakinya.


Rasanya Jean benar-benar tidak kuat untuk menahan rasa sakit itu, ia bahkan tidak sanggup untuk melihat keadaan jari kakinya yang sudah hancur.


"Benar juga, kau tidak tau apapun, cukup aku saja yang menyimpannya sendiri, karena aku tidak mengizinkannya untuk keluar khusus hari ini" ucap Quirin memutar bola mata malas.


Quirin mengatakan seolah dirinya tidak mengizinkan Quiran keluar, kenyataannya Quirin tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri. Quirin berhasil membalaskan dendamnya pada Jean berkat dirinya yang kuat bisa menahan segala emosi yang sudah berada diujung tanduk.


Quirin menahan emosinya sekuat tenaga agar dirinya bisa menepati janji pada Quirin asli dan memberikan Jean hukuman yang pantas dengan tangannya sendiri.


Tanpa pikir panjang Quirin mengangkat martil yang ada di tangannya lalu memukul jari-jari kaki Jean yang masih utuh.


Argghhh


Jean kembali berteriak sambil menangis dengan menutup matanya, ia tidak sanggup melihat kedua kakinya yang hancur.


Jean telah dikelilingi oleh genangan darahnya sendiri, bau amis kini menyeruak di seluruh ruangan itu, tapi Quirin justru tidak memperdulikannya, ia bahkan tampak tidak perduli meski Jean tengah menangis.


"Jangan melamun, siksaan ini masih berlanjut" ucap Quirin lalu berdiri dan melihat-lihat barang yang ada diatas meja


Jean hanya bisa menangis dan meratapi nasibnya, ia tidak pernah membayangkan apa yang telah terjadi padanya adalah nyata.


"Semua ini karenamu Calis!, aku menyesal telah membawamu dan anak haram itu masuk kedalam keluargaku, jika aku bisa keluar dari sini, aku tidak akan mengampunimu" batin Jean


Quirin masih melihat-lihat benda apa yang akan dia pakai selanjutnya, tiba-tiba ia mendengar suara jean "tidak bisakah kau memaafkan nenek?" tanya Jean sambil tangis dan meringkuk tak berdaya.


Quirin menghentikan tangannya lalu menatap lurus kedepan "tidak!" jawab Quirin tegas


Jean kecewa mendengar jawaban tegas yang keluar dari mulut Quirin "Jangan lakukan ini padaku, aku berjanji akan mengusir wanita iblis itu keluar dari keluarga kita dan kita akan memulai hidup baru" ucap Jean lagi tanpa menyerah


Jean masih berusaha mendapatkan maaf dari Quirin tapi perkataan yang keluar dari mulutnya justru semakin membuat Quirin tidak ingin menghentikan niatnya untuk menyiksa Jean.


Quirin menatap lurus dengan datar "tampa bantuanmu aku bisa mengurus mereka dengan tangan tanganku sendiri"


Jean lagi-lagi kecewa dengan jawaban yang di berikan oleh Quirin "bagaimana caranya agar kau bisa memaafkan nenek?" tanya Jean penuh sesal


"Tidak ada cara lain selain mati di tanganku" ucap Quirin tanpa menoleh kebelakang


Quirin memilih gergaji yang terletak di depannya, ia mengangkat dan melihat-lihat sambil memegang setiap inci gergaji itu.


"Sepertinya benda ini cukup bisa memuaskanmu" gumam Quirin tersenyum menyeringai


Jean tidak melihat kedepan, ia masih menutup mata sambil menangis terus menerus.


Quirin berjalan menghampiri Jean "hei, lukamu belum ada apa-apanya dibanding rasa sakit yang telah aku alami selama bertahun-tahun" gumam Quirin sambil menarik kuat kaki kiri Jean


Arghhh

__ADS_1


Jari-jari yang hancur ikut tertarik dan membuat darah semakin keluar dengan deras.


Jean meringis kesakitan dan ia juga sangat terkejut ketika kaki kirinya ditarik begitu kuat, Jean melihat Quirin memegang benda yang tidak seharusnya dipegang oleh wanita.


"Ini baru menarik"


Bola mata Jean seakan ingin melompat dari tempatnya "jangan!, jangan lakukan itu!" teriak Jean histeris


"Eii nyonya besar, kau sedang tidak dalam kondisi bisa menolak" ucap Quirin sambil membolak-balik gergaji yang ada di tangannya


"Apa kau gila!, buang benda itu!" teriak Jean dengan berderai air mata


"Ya aku gila!, lalu kau mau apa?!" teriak Quirin dengan suara menggelegar


Jean yang terlihat histeris langsung terpaku mendengar teriakan Quirin, selama terkurung bersama Quirin, ini pertama kalinya Jean mendengar Quirin berteriak keras.


Dengan perasaan terkejut Jean menatap Quirin tidak percaya dan semakin takut untuk menghadapi Quirin, tapi dalam situasi sekarang ia harus bisa bertahan apapun caranya "apa yang mau kau lakukan dengan benda itu!"


Quirin menatap Jean datar "tentu saja ingin memisahkan seluruh anggota tubuhmu"


"A-pa!"


"Kau tidak menduga dengan apa yang aku lakukan, jadi terima saja karena aku benar-benar muak melihat wajah menyebalkanmu" ucap Quirin memutar bola mata dengan malas


Jean tak kuasa menahan rasa takutnya, cucunya benar-benar sangat menyeramkan, hal ini jauh dari bayangan Jean.


Dalam pandangan Jean, cucu yang selama ini bersamanya begitu lemah lembut, tapi sekarang sangatlah berbeda, kini cucu lemah lembut itu sudah tidak adalagi, sekarang dia bagaikan seorang monster.


"Singkirkan benda itu dariku!, kenapa kau berubah menjadi seperti ini!" teriak Jean sambil menyeret mundur tubuhnya.


"Sakit sekali" batin Jean merintih kesakitan


Karena Jean menyeret tubuhnya lurus kebelakang, darah yang keluar dari kedua kaki itu kini mengikuti arah sang pemilik tubuh.


Darah yang tergenang dilantai mulai mengering dan aroma darah yang pekat kini menyeruak keseluruh ruangan. hal itu tidak membuat Quirin menyerah untuk membalaskan dendamnya pada jean.


"Kau masih ingat bagaimana kondisi tubuh paman Wiliam?" tanya Quirin datar


Jean yang masih fokus menyeret tubuhnya tersentak kaget "itu benar-benar ulahmu?, kenapa kau membunuhnya?" tanya Jean mendongakkan wajahnya menatap Quirin


Quirin mengernyitkan dahinya, wanita tua ini tidak bisa berpikir atau benar-benar bodoh "tentu saja, karena dia telah mengkhianati ibuku serta dia juga yang membuat ibuku meninggal" ucap Quirin santai


Jean berpikir sejenak "bukankah dia yang membunuh ibumu, lalu kenapa kau berbuat seperti ini padaku?" ucap Jean dengan nada rendah, ia tidak mempunyai tenaga lagi untuk berteriak. karena menurutnya yang membunuh adalah Wiliam tapi kenapa dirinya ikut disiksa.


"Kau benar-benar menjengkelkan" ucap Quirin sambil berjongkok di hadapan jean lalu memegang kakinya dengan kuat dan mulai meletakkan gergaji itu pada Jean.


Jean meronta agar kakinya di lepas oleh Quirin, tapi semua usaha Jean sia-sia "tidak!, tidak!, singkirkan benda itu!" teriak Jean kembali histeris


Quirin mulai menggerakkan gergaji itu tepat di lutut Jean


Aarrghhh


Teriakan Jean seakan tidak di hiraukan oleh Quirin, ia tetap melanjutkan mengayunkan gergaji itu kedepan dan kebelakang hingga memperlihatkan tulang putih Jean.

__ADS_1


Kaki Jean tidak terbentuk lagi, kesepuluh jarinya telah hancur dan kini lutut kirinya telah terpisah dari tubuhnya


Jean berteriak sekuat-kuatnya, ia benar-benar tidak sanggup menahan sakit diseluruh kakinya, ia juga tidak kuat melihat kakinya lagi, sedangkan darah segar mulai mengalir keluar dari lutut "Dasar gila!, aku menyesal telah membesarkanmu!" teriak Jean sambil menangis dan menutup kedua mata dengan tangannya.


Jean tidak henti-hentinya menangis, wajah itu terlihat sangat kusam dengan mata bengkak serta terdapat dua luka goresan di samping matanya.


Quirin berdecih "Cih, gunakan otak mu!, kau sama sekali tidak merawatku, kau hanya memperdulikan anak haram itu, kau tau?, jika aku memperlihatkan video dimana kau menyiksaku, maka aku akan melakukan hal yang sama padamu, jadi tutup saja mulutmu itu!" ucap Quirin jengah.


Jean menutup mulutnya rapat-rapat, karena dirinya sadar bagaimana ia dulu menyiksa Quirin, selama bertahun-tahun ia selalu membuat Quirin kesusahan bahkan membuatnya sering terpojok oleh ayahnya sendiri.


Quirin melihat jean menutup mulutnya "susah sampai ketahap ini, kau masih tidak menyadari kesalahanmu, bahkan kau dengan berani melemparkan semua kesalahanmu pada orang lain" ucap Quirin datar


"Baiklah, aku malas berlama-lama disini, kau punya kata-kata terakhir?" tanya Quirin dengan wajah datarnya.


Jean yang mendengar itu langsung mengerti jika dirinya sudah tidak bisa berlama-lama didunia ini, ia bahkan terlihat senang karena Quirin mau mengakhiri permainannya karena dirinya sudah sangat lelah untuk berteriak dan menangis.


Jean mengambil nafas dalam-dalam, ia menunduk sambil menangis "aku minta maaf padamu dan juga pada ibumu, tolong jaga anakku, dia tidak salah dalam hal ini, akulah yang bersalah telah masukkan wanita ular itu kedalam rumah kita, jangan biarkan anaka wanita itu merebut semua milikmu" ucap Jean pelan namun suara itu masih terdengar oleh Quirin.


Quirin menjatuhkan tubuh Jean hingga membuatnya tidur terlentang "jangan berpikir kau bisa mati tanpa rasa sakit, itu tidak mungkin terjadi" ucap Quirin menatap Jean tajam


Quirin mulai mengayunkan gergaji di tangannya untuk membelah perut Jean


Arrgghhh


Darah itu muncrat kewajah Quirin, namun Quirin tidak memperdulikannya, ia bahkan menggoyangkan gergaji itu semakin dalam.


Jean yang melihat wajah Quirin terkena darahnya sungguh sangat menyesal, penyesalannya adalah telah membuat cucu kandungnya berakhir seperti monster.


Bagi Jean, apa yang di dapatnya hari ini adalah sebagai penebus dosa sang menantu dan juga cucunya.


Dari mulut Jean mengeluarkan darah, namun tidak membuat Jean berhenti mengucapkan kata maaf "maafkan nenek, hiduplah bahagia bersama tuan muda" gumam Jean dengan pelan sambil tersenyum


Setelah mendengar perkataan Jean, tanpa sadar Quirin meneteskan cairan bening di pipinya, ia mendengar dengan jelas apa yang di katakan oleh Jean "jangan lakukan hal bodoh itu, karena aku tidak bisa mengampuni perbuatanmu padaku" gumam Quirin sambil mengayunkan gergaji itu


Jean menitikkan air mata, ia bisa melihat dengan jelas bahwa Quirin tengah menangis "ja-ngan men-angis, ini se-mua salah ne-nek, to-long maafkan ne-nek" ucap Jean pelan dengan terbata-bata


"Aku tidak menangis sialan!" teriak Quirin sambil menekan gergaji itu dengan dalam.


Uhuk uhuk


Darah keluar dengan deras dari mulut Jean, sebagian organ dalam Jean telah terlihat oleh Quirin.


Lalu Quirin menoleh kearah Jean, ia melihat Jean tetap mengembangkan senyum di bibirnya "ma-afkan ne-nek" ucap Jean sambil tersenyum dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.


Quirin terduduk dengan gergaji yang sudah berlumuran darah, ia membuang gergaji itu sembarang arah "sial!, kenapa disaat seperti ini aku mengeluarkan air mata?" umpat Quirin sambil menghapus cairan bening dipipinya.


Quirin memegang dadanya "seharusnya aku senang telah membalaskan dendam ini, tapi kenapa rasanya dadaku terasa sakit?" ucap Quirin menahan tangis sambil memukul dadanya


"Sakit sekali" ucap Quirin menangis sesegukan sambil memukul dadanya berulang kali


"Aku tidak bisa memaafkannya, tapi setelah aku membalas perbuatannya kenapa rasanya sesakit ini?, apa sekarang aku menyesal?" ucap Quirin dengan berderai air mata.


Quirin terduduk disamping mayat jean sambil memeluk kaki lalu menenggelamkan wajahnya di antara kedua lutut.

__ADS_1


Bersambung ...


Author yang nulis juga gak kuat dan ikut berderai air mata 😭


__ADS_2