Another Person Life

Another Person Life
Mengagumi ibu Quirin?


__ADS_3

Quirin juga baru mengetahui bahwa Arcy adalah seorang pelukis, karena saat dirinya memeriksa cctv itu, ia hanya berfokus pada perusahan, mansion dan galeri saja.


"Artinya seluruh lukisan yang ada di ruang bawah tanah di belakang kebun adalah milik ibu?, dan jika seperti itu, berarti ibu adalah F.V, sang pelukis terkenal yang selalu memakai topeng?, Jadi selama ini aku mengagumi ibu Quirin?"


"Selama aku mendapatkan berkas-berkas ini, aku selalu memikirkannya, tapi aku tidak tau harus memulai darimana. Jadi aku berpikir untuk mendahulukan balas dendam Quirin yang ternyata ternyata semua jawaban yang kuinginkan ada di dalam rekaman ini."


"Sampai saat ini, orang-orang terus mencari keberadaan pelukis F.V. Mereka sangat kesal karena F.V menghilang tanpa jejak. Tapi aku justru dengan mudah mengetahui identitas besar ini. walau bukan hanya aku saja yang mengetahuinya, karena ada orang yang telah merusak cctv di ruang tersembunyi itu. Aku bisa memastikan bahwa orang itu juga mengetahui semua kebenaran ini. Aku sungguh penasaran, apakah ibu yang merusak cctv itu atau orang lain?" batin Quirin..


Quirin terus menatap Grizo, sedangkan Grizo terus menatap layar televisi, ia memandangi wajah istrinya yang sedang tertekan.


"Apa selama ini kau sungguh mendapat perlakuan kasar dari ibuku?, tapi kenapa kau tidak memberitahuku?" gumam Grizo dengan menumpahkan air mata dengan sangat deras.


Quirin yang mendengar gumaman itu pun terlihat benar-benar kesal "tentu saja dia tidak bisa mengatakannya karena dia sangat mencintaimu. Dia bahkan tidak ingin kau bertengkar dengan ibumu. Apa kau masih tidak mengerti setelah melihat semua ini?" ucap Quirin dengan kesal sambil melangkahkan kakinya seperti ingin menghajar Grizo.


Zee yang melihat pergerakan Quirin langsung memegang lengan wanita itu


"Untuk apa kau menghalangiku?," teriak Quirin dengan menghunuskan tatapan tajam itu pada Zee.


"Berhentilah, ini bukan saat yang tepat untuk melakukan balas dendam mu, tunjukkan lebih banyak penyesalan itu, maka dia perlahan-lahan akan hancur tanpa harus mengotori tanganmu" ujar Zee sambil melihat kearah Quirin.


"Kau benar!" ucap Quirin lalu menetralkan rasa amarahnya.

__ADS_1


"Lihatlah Xeno, padahal saat itu dirinya masih segumpal darah, tapi kehidupan wanita yang kau hakimi itu bahkan jauh lebih rumit daripada dirimu" batin Al sambil melirik Xeno yang sudah terpaku menatap layar besar itu.


Lura yang melihat itu bahkan tidak percaya bahwa Quirin memiliki ibu yang luar biasa, bahkan saat masih di dalam kandungan, wanita itu bahkan lebih kaya dari Keluarga Alister.


"Kenapa hidupnya penuh dengan keberuntungan?" batin Lura mengeram marah.


Tit - Quirin kembali menjalankan layar itu, lagi-lagi mata semua orang terfokus kelayar lebar itu.


Rasa penasaran kembali memenuhi pikiran mereka, banyak pertanyaan yang sudah menggumpal disana, namun mereka harus melihat kelanjutan dari rekaman itu.


Arcy tetap bersikukuh untuk berdiri di samping Grizo, Mengetahui perbuatan Arcy, Jean pun terus mencerca perkataan menyakitkan pada Arcy.


Rekaman itu terus menunjukkan perbuatan Kasar Jean pada Arcy, walau dalam keadaan berbadan dua, Arcy tidak pernah mengeluh pada Grizo.


Namun, sang suami justru smaa sekali tidak mengetahui perbuatan ibunya itu.


Hari demi hari terus berlalu, sikap Jean semakin semena-mena pada menantunya itu, apalagi saat itu Arcy sudah hamil tua. Namun Jean tetap tidak memperdulikannya.


Tepat ketika Jean mengangkat tangannya, Grizo justru baru sampai dirumah, hal itu membuat Jean menarik kembali tangannya lalu menyambut putranya dengan senyuman manis.


Grizo terkejut melihat ibunya sedang berada di rumahnya "Ibu di sini?, kenapa ibu tidak menghubungiku, jika aku tau, aku pasti akan menjemput ibu" ujar Grizo sambil berjalan duduk di sofa.

__ADS_1


"Tidak perlu, ini juga rumah anak ibu, jadi ibu bisa sesuka hati datang kerumah ini" ucap Jean sambil menghampiri Grizo dan duduk di depan Grizo yang hanya terhalang oleh sebuah meja.


Saat Grizo terfokus pada Jean, Arcy berlari ke dapur dan memegang dadanya yang berguru sakit. Air matanya bahkan terus mengalir layaknya rintikan hujan.


"Sakit sekali!" gumam Arcy sambil menangis tersedu-sedu.


"Apa yang harus kulakukan?, jika aku memberitahu mereka identitas ku, maka keluarga itu pasti datang dan menghancurkan semua usahaku" gumam Arcy sambil bersandar di dinding.


Arcy mengingat bahwa Grizo baru saja pulang dari kantor, ia harus membuatkan sesuatu untuk sang suami.


Ia dengan cepat menghapus bekas air mata itu dan mulai membasuh wajahnya.


Walau sudah membasuhnya, tetap saja wajah Arcy terlihat memerah dan kedua matanya tampak membengkak.


Arcy pun menyiapkan secangkir teh untuk sang suami, saat menaruh gelas itu, tiba-tiba Jean mengatakan hal yang membuat Grizo mengernyit kan dahinya.


"Loh?, kau tidak membuatkan ibu juga, Arcy?, padahal tadi kau sudah melihat ibu datang" ucap Jean sambil tersenyum.


Arcy yang menunduk tidak memperlihatkan wajahnya, "maaf ibu, aku akan membuatkannya sekarang" ucap Arcy yang langsung membalikkan tubuhnya dan kembali ke dapur.


"Tidak biasanya Arcy bisa melupakan sesuatu, apa ada hal yang terjadi yang tidak ku ketahui?." batin Grizo

__ADS_1


Bersambung ...


Mohon berikan dukungan untuk novel ini ya, terimakasih 🙏


__ADS_2