Another Person Life

Another Person Life
Terkikis Seiring Berjalannya Waktu


__ADS_3

Jay terlihat sangat kelelahan, sedangkan Amber yang melihat langsung bergerak membantu Jay untuk berdiri.


Rea ikut berdiri dan berpamitan pada kedua orang tuanya "mama, ada yang harus aku lakukan jadi aku akan kembali ke kamar" ucap Rea sambil meninggalkan Amber dan Jay.


Sedangkan Jay yang tampak kelelahan hanya bisa menunduk dan tidak menjawab perkataan Rea.


Amber tidak tau harus berbuat apa, sambil berjalan, ia mencoba berpikir "sayang, bagaimana kalau kita bertemu Quirin?" tanya Amber dengan tersenyum.


Jay yang masih menunduk kini menoleh kearah Amber, "apakah menurutmu itu baik?, aku yakin dia pasti tidak akan menerima kita, mengingat kita tidak pernah muncul di hadapannya" gumam Jay dengan raut wajah sedih.


"Tenang saja, kita tidak akan mendekatinya, kita hanya perlu memantaunya jauh dari kejauhan, biarkan Rea yang menjaga kakaknya" ucap Amber sambil tersenyum.


"Aku berharap dengan melihat wajah Quirin, rasa penyesalan mu akan terkikis seiring berjalannya waktu" batin Amber


...****************...


Quirin yang tidak ingin memikirkan Rea langsung kembali ke kamarnya, ia membuka laptop dan memakai headphone di telinganya.


Quirin kemudian memiliki ide untuk menjenguk bibi nya itu, ia pun mulai membuka Cctv dan mencari tau kemana ayahnya membawa Calis.


Setelah memeriksa semua cctv, senyuman manis terbit dibibirnya. ia seperti mendapat hal yang menyenangkan.


Quirin mematikan laptop dan melempar headphone nya di atas tempat tidur begitu saja.


Quirin bergegas keluar dari kamar dan pergi keruang bawah tanah, ia mengambil kunci yang tergantung di dinding dan mulai membuka pintu itu.


Terlihat Calis sudah tergeletak di lantai yang sangat kotor "Beymi, bagaimana keadaan diluar?" tanya Calis dengan suara lemah tanpa berniat melihat kearah pintu.

__ADS_1


"Bibi" jawab Quirin sambil berjalan mendekati Calis.


Calis yang mendengar suara Quirin merasa terkejut, ia mencoba duduk dan membenarkan posisinya.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Calis dengan mengeram marah tanpa melihat wajah Quirin.


"Tentu saja ingin melihat keadaan mu bibi, aku menyesal sudah membuatmu menjadi seperti ini bibi, maafkan aku" ujar Quirin sambil berjongkok di hadapan Calis dengan suara lemah.


Calis yang mendengar suara lemah itu langsung berpikir untuk memanfaatkan Quirin, lalu ketika Grizo memaafkan dan mulai membebaskannya, maka saat itu juga akan membalaskan semua perbuatan Quirin padanya.


Calis mendongakkan wajahnya dan menatap Quirin, ia bisa melihat mata itu seakan merasa bersalah padanya "Quirin, tolong katakan pada ayahmu untuk mengeluarkan bibi dari sini, bibi tidak melakukan apapun untuk menebusnya" ucap Calis memohon dengan suara rendah.


Quirin mengernyitkan dahinya, ia mulai mengembangkan senyuman manis di hadapan Calis.


"Bibi, apa luka di tanganmu sudah pulih?" tanya Quirin sambil menumpu kedua sikunya di lutut lalu menopang dagunya di kedua tangannya.


Perubahan wajah Quirin membuat Calis terkejut, tapi Calis tetap menjawab pertanyaan Quirin dengan jujur "tidak, luka ini tidak akan pernah bisa pulih" jawab Calis sambil menunduk melihat telapak tangannya yang memiliki luka terbuka.


Calis yang mendengar itu langsung mendongakkan wajahnya dan menatap Quirin dengan mata yang sudah membulat sempurna "penawar ... racun?, A-apa maksudmu?" tanya Calis dengan tubuh yang mulai gemetar.


"Aduh bibi, tidak perlu gemetar seperti itu, bukankah otakmu selalu bisa memikirkan rencana untuk masuk kedalam keluarga ini?, lalu bagaimana bisa kau tidak mengerti apa yang telah aku katakan?" tanya Quirin mengerucutkan bibirnya.


"I-tu kau?" ucap Calis terbata-bata dan mulai menunjuk kearah Quirin.


"Tentu saja aja aku ... " ucap Quirin dengan bangga "Bibi, tidak baik menunjuk orang seperti ini, dimana sopan santun mu sebagai nyonya Alister?, oh benar juga ... semenjak kau merebut ayah dari ibuku, kau sama sekali tidak memiliki sopan santun" lanjut Quirin sambil tersenyum lalau memegang tangan Calis dan menurunkannya secara perlahan.


Seketika, Quirin merubah ekspresinya lalu menghempaskan tangan Calis dengan kuat hingga membuat pundak wanita itu berbunyi.

__ADS_1


"Be-beraninya kau!" teriak Calis dengan marah sambil memegang pundaknya yang terasa sakit.


"Tentu saja aku berani, bahkan aku orang yang sangat berani" ucap Quirin sambil mengambil tangan Calis yang terluka, lalu Quirin membalikkan telapak tangannya menghadap kebawah dan dengan cepat menyeret tangan Calis menyapu lantai.


Arghhhhhhh


Calis menitikkan air mata dan dengan cepat menarik tangannya sekuat tenaga, ketika tangan itu terlepas, Quirin tersenyum melihat lantai itu sangatlah bersih.


Setelah berteriak dengan keras, Calis tidak berani melihat kearah tangannya, ia tau butiran debu itu pasti menempel di tangan yang terluka.


Merasa tangannya berdenyut, Calis memberanikan diri untuk melihat kondisi tangannya, ia berdesis kesakitan, tatapan jijik terlihat jelas di wajah Calis.


Tapi karena itu tangannya sendiri, Calis memberanikan diri membersihkan debu yang menempel di luka yang terlihat sangat menjijikkan itu.


"Bibi, itu pasti sangat menyakitkan" gumam Quirin dengan menampilkan ekspresi takut.


Bersambung ...


......................


Teruntuk kalian yang bertanya,


Kenapa lama sekali balas dendamnya?. Kenapa di awal lama banget bab di rumah sakit?, Kenapa gak langsung di bongkar aja kejahatannya?. Kenapa part Quirin asli hanya sedikit?.


Mohon maaf readers, sejak awal author sudah membuat plotnya seperti ini, dan disini pembalasan dendamnya itu bermain-main dan tidak langsung membunuh, jadi author berharap kalian harus bersabar 🙏


Dan author sangat berterimakasih, berkat kalian novel ini berkesempatan masuk kedalam HOF.

__ADS_1


Sekali lagi author ucapkan terimakasih 🙏



__ADS_2