Another Person Life

Another Person Life
Serangan Balik 2


__ADS_3

Setelah mereka semua sudah melaksanakan perintah Quirin, Staren dan Arnius memulai menjauh dari tubuh Jeslyn "sudah nona" ucap Staren yang mulai berdiri di samping Quirin.


"Ambilkan aku air" perintah Quirin sambil melipat kedua tangannya.


Arnius dengan sigap bergerak dan mengambil air, didalam ruangan itu terdapat toilet khusus yang di lengkapi dengan selang. Biasanya mereka membersihkan darah dengan menyemprotkan air itu agar memudah kan pekerjaan mereka.


Quirin yang melihat selang itu benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa mereka membuat segalanya menjadi lebih mudah?, namun Quirin tidak terlalu memikirkannya karena ia tau bahwa hal itu terlihat sangat mudah di mata tuan muda Zee.


Quirin mengambil selang itu di menempatkannya depan wajah Jeslyn, ia pun mulai menyemprotkan air ke wajah gadis itu.


Tiba-tiba saja Jeslyn terkejut dan terbangun sambil berteriak keras.


"Arghhh"


"Hentikan!, Hentikan!, apa yang kau lakukan!" teriak Jeslyn sambil menggoyangkan kepalanya ke kiri dan kekanan untuk menghindari air yang sedang di arahkan padanya.


Quirin mematikan air itu lalu melempar selang ke sembarang arah.


Jeslyn merasa air itu sudah berhenti mengenai wajahnya, ia pun mengedipkan matanya berulang kali agar air yang tersisa di bulu matanya terjatuh.


Jeslyn merasa tangan dan kakinya tidak bisa di gerakkan, lalu ia pun menunduk dan terkejut karena melihat tangan dan kakinya sudah terikat.


Jeslyn menengadahkan kepalanya dan melihat ke sekeliling, ia pun menatap orang-orang yang ada di hadapannya satu persatu. Hanya dua wajah saja yang dia kenal.


"Kau?, kenapa kau berada disini?" tanya Jeslyn sambil tersenyum kearah Vano.


Vano yang mendengar pertanyaan itu memutar bola matanya dengan malas. Ia pun tidak menjawab pertanyaan dari Jeslyn.


"Wah, bos Vano, dia tidak hanya mengenalmu, dia bahkan tersenyum ketika bertanya padamu" gumam Arnius tertawa kecil.


Jeslyn yang tidak mengerti situasinya langsung menoleh ke satu wanita yang berdiri tidak jauh dari hadapannya "Quirin?!"


Semua orang tampak terkejut, tak terkecuali Quirin "kau mengenalku?" tanya Quirin dengan satu alis yang sudah terangkat.


Jeslyn tersenyum mengejek "tentu saja, siapa yang tidak mengenalmu, anak sulung keluarga Alister yang tidak berguna" jawab Jeslyn dengan percaya diri.


"Lihat lah, bahkan anak pelayan saja bisa merendahkan ku" ucap Quirin dengan tatapan tajam.

__ADS_1


Jeslyn mengeram marah, ia mengepalkan kedua tangannya "kau tidak berhak mengatakan itu padaku!" Jeslyn melotot dengan tajam.


"Lalu?, apa kau berhak mengatakan itu padaku?" tanya Quirin nada datar dan tegas.


"Haha ... kau hanyalah nona muda yang terabaikan, untuk apa bertanya seperti itu padaku?" ucap Jeslyn di sela tawanya.


"Baiklah, sepertinya kau melupakan rasa sakit yang pernah kau rasakan saat di hajar oleh pada wanita-wanita itu, jadi sekarang aku memilih untuk memberimu pelajaran sendiri" ucap Quirin menatap Jeslyn dengan tajam.


Jeslyn merinding melihat tatapan Quirin, ia yang sebelumnya sangat percaya diri kini diam seperti patung. "a-apa?, kau yang melakukan itu padaku?" tanya Jeslyn dengan gugup.


Quirin tersenyum smirk "kasihan sekali kau, karena ulah ibumu lah kau berada disini" ucap Quirin sambil menyeringai


Jeslyn yang mendengar perkataan Quirin merasa sangat binggung "apa maksudmu?, lebih baik kau kau melepaskan aku?!" teriak Jeslyn, karena dirinya benar-benar tidak mengetahui apapun.


Lalu Jeslyn menoleh kearah Vano "kau, kemarin kau menyelamatkanku, kenapa sekarang kau tidak membantuku lagi?" tanya Jeslyn mulai merendahkan suaranya.


Vano menatap Jeslyn dengan malas "apa kau belum mengerti dengan situasi mu sekarang?" tanya Vano dengan nada datar


Jeslyn sempat mematung, ia melihat semua orang tengah menatapnya sambil tersenyum smirk.


Setelah mencoba mencerna dengan baik, akhirnya Jeslyn mengerti "apa kalian yang merencanakan ini semua?" tanya Jeslyn merasa tidak percaya.


Setelah panggilan itu tersambung, Quirin langsung bertanya pada orang yang ada diseberang sana "hai, bagaimana kabarmu?.


Orang yang yang ada di ujung sana begitu terkejut "nona Quirin?" tanya Beymi di seberang sana.


"Tentu saja ini aku, aku kira kau melupakan suara ku, oh ya, bagaimana dengan hadiahku, apa kau suka?" tanya Quirin sambil menatap Jeslyn yang sedang menatapnya dengan tajam.


"Hadiah?, hadiah apa yang nona bicarakan?"


"Aku sudah membuatmu terkenal, bukankah itu hadiah yang kau berikan padaku?, tapi karena aku tidak suka dengan hadiahku, maka aku yang membuatmu terkenal" tanya Quirin tersenyum senang.


"A-aku tidak melakukan apapun nona muda, aku bersumpah!" ucap Beymi yang terdengar sangat percaya diri.


"Kau tidak mau mengakuinya?, bagaimana dengan ini ... !"


Lalu tiba-tiba Quirin mengangkat kakinya dan menendang tubuh Jeslyn hingga terjatuh ke lantai.

__ADS_1


"Arggghhhh, ibu!"


"Jeslyn!" teriak Beymi di telepon.


Quirin memperbesar volume ponselnya "bagaimana bisa putriku bersamamu nona?, apa yang kau lakukan pada putriku?!" teriak Beymi dengan keras.


"Hanya membalas semua perbuatanmu padaku, itu saja" jawab Quirin dengan santai.


Jeslyn bisa mendengar suara Beymi "ibu!, selamatkan aku bu!" teriak Jeslyn dengan tubuh yang sudah terjatuh bersamaan dengan kursi.


Beymi yang mendengar suara Jeslyn langsung berteriak sangat keras "jangan sakiti Jeslyn" teriak Beymi dengan suara bergetar.


"Lalu kau dengan seenaknya menyakitiku?" tanya Quirin dengan santai.


"Lepaskan aku anak pembawa sial!" teriak Jeslyn yang sudah tidak memperdulikan tatapan orang-orang yang ada di ruangan itu.


Quirin mengeram marah sambil menendang kursi itu sampai terjungkal dan membuat kepala Jeslyn terbentur oleh lantai.


"Arghhhh, sakit!" teriak Jeslyn, ia tidak bisa menggerakkan tangan untuk memegang kepalanya.


Arnius, Staren dan Vano hanya bisa menganga lebar melihat perlakuan Quirin pada Jeslyn.


Mereka tidak menyangka bahwa tenaga wanita itu sangatlah kuat hingga bisa membuat kursi terjungkal.


Jeslyn terkejut karena tindakan Quirin, ia merasakan sakit di kepalanya dan ia hanya bisa pasrah dengan mengikuti alur saja. Keberanian Jeslyn untuk melawan sudah hilang, ia tidak berani untuk mengeluarkan umpatan yang sudah menumpuk di hatinya.


"Hiks, ibu!" ucap Jeslyn sambil menangis.


"Jeslyn" ucap Beymi dengan suara bergetar.


"Aku sudah memperingatkan mu, tapi kau tidak mendengarkan ku, karena kau menantang ku maka terima saja jika anak mu mati!" ucap Quirin dengan tegas.


"Tidak nona!, jangan sakiti anakku!, dia tidak bersalah nona!" ucap Beymi dengan menangis.


"Apa aku bersalah padamu?, kau bahkan memperlakukanku seperti binatang Beymi. Kau bahkan tau aku tidak mengenal anak mu, tapi dia justru mengenalku lalu mengejekku dengan sombong."


"Nona, jangan lakukan itu nona" ucap Beymi sambil menangis dan memohon.

__ADS_1


Arnius, Staren, Vano dan Zee hanya bisa menonton, mereka tidak ingin ikut campur dalam pembalasan Quirin.


Bersambung ...


__ADS_2