Another Person Life

Another Person Life
Perdebatan


__ADS_3

Setelah Xeno selesai menghubungi bawahannya, ia masuk kedalam mobil dan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Suasana didalam mobil terasa begitu hening, tidak ada dari keduanya yang ingin memulai percakapan.


Namun wanita yang duduk disebelah Xeno begitu penasaran, dan ia ingin mengetahui bagaimana bisa orang yang terkenal kompeten dalam berbagai hal bisa begitu ceroboh sehingga menabrak mobilnya.


"Tuan, boleh aku bertanya?, kenapa kau melamun saat mengendarai mobil?" tanya wanita itu, ia sudah tidak bisa menahan mulutnya untuk tidak bertanya.


Xeno menghela nafas lalu menjawab dengan nada datar "nona Rea, nona tidak perlu meminta izin, karena nona sudah melakukannya terlebih dahulu, tapi aku juga tidak mempunyai kewajiban untuk menjawab pertanyaanmu"


Rea begitu terkejut, ia langsung menutup mulutnya dengan rapat, Rea membenarkan perkataan orang-orang, pria yang terkenal ketampanannya serta pekerja kompeten disampingnya ini begitu susah untuk didekati. karena dirinya sudah merasakan apa yang pernah gadis-gadis lain rasakan.


Suasana didalam mobil kembali hening, tak terasa kini mereka telah sampai di rumah keluarga Alister.


Para penjaga langsung menghadang mobil Xeno, namun Xeno langsung memperkenalkan diri dan memberitahu maksud dan tujuannya.


Setelah itu para penjaga mempersilahkan Xeno masuk.


Rea merasa kebingungan, ia berpikir untuk apa mereka berada di rumah keluarga Alister, ketika Rea menoleh kearah Xeno dan ingin bertanya, Xeno justru lebih dulu mengetahui isi kepala Rea "jangan bertanya apapun nona, cukup diam dan ikuti saja" tegas Xeno sambil keluar dari mobil ?


Rea mengangguk, ia juga semakin heran bagaimana bisa Xeno mengetahui apa yang ada didalam kepalanya.


Xeno segera keluar dari mobil, Rea yang melihat itu langsung ikut keluar dan berjalan di belakang Xeno, keduanya melihat para penjaga ada di setiap sudut rumah.


"Konyol, untuk apa mereka berjaga?, sedangkan pembunuhnya saja ada di dalam rumah ini" batin Xeno sambil menggelengkan kepalanya.


Xeno mengetuk pintu, tampak seorang wanita paruh baya membuka pintu "tuan dan nona ingin mencari siapa?" tanya pelayan Beymi yang sedikit merasa heran, karena dirinya merasa asing dengan wajah keduanya.


"Tolong panggilkan nona tertua keluarga ini"


Beymi memutar bola mata dengan malas "silahkan masuk tuan dan nona, saya akan segera memanggilkan Quirin" ucap pelayan Beymi lalu berbalik dan ingin pergi.


Rea menaikkan satu alisnya, ia begitu terkejut melihat ekspresi pelayan itu, bahkan dirinya mendengar pelayan dari keluarga terkenal memanggil majikannya dengan nama secara langsung tanpa menyebut nona.


Saat pelayan Beymi ingin berbalik, Rea bertanya dengan nada menusuk sehingga pelayan Beymi menghentikan langkahnya dan kembali menoleh kebelakang "apa peran mu disini?" tanya Rea dengan mata tajam


Pelayan Beymi yang melihat tatapan itu langsung terkejut dan menunduk "kepala pelayan nona"


"Lalu kenapa kau menyebut nama majikanmu secara langsung?"


"I-itu, mungkin nona salah mendengar" bantah Beymi


"Kenapa tatapannya sama seperti Quirin" batin Beymi takut

__ADS_1


Rea yang mendengar itu semakin kesal "aku yang salah?, dia juga mendengar apa yang telah kau katakan" ucap Rea sambil menunjuk kearah Xeno


"Aku tidak mendengar apapun" ucap Xeno dengan datar


Rea yang mendengar itu merasa tidak percaya, perkataan itu sukses membuat Rea menatap Xeno dengan rasa heran.


Xeno tidak memperdulikan tatapan Rea, menurutnya itu bukan lagi urusan yang harus dirinya Lakukan "panggilkan dia" ucap Xeno dengan datar


Seketika Rea merubah wajahnya menjadi datar, ia bahkan tidak menyukai sikap Xeno yang tidak membela hal yang benar.


Pelayan Beymi tersenyum lalu ia menyuruh kedua orang itu untuk menunggu di sofa


Keduanya menuruti pelayan Beymi dan duduk berjauhan, bahkan keduanya menampilkan wajah datar.


Tidak berapa lama, Quirin turun dan melihat keduanya sedang duduk berjauhan "kalian?" ucap Quirin lalu duduk di hadapan keduanya.


"Langsung saja, aku ingin memberikan ini" ucap Xeno datar sambil menyerahkan sebuah flashdisk yang ada di tangannya.


Quirin melihat tangan Xeno, lalu matanya kembali melihat kearah Xeno "Zee yang menyuruhmu datang kesini?"


"Menurutmu?"


"Kenapa kau balik bertanya?" ucap Quirin sambil mengerutkan dahinya


Kalimat yang di ucapkan oleh Xeno membuat Quirin merasa heran, tidak biasanya Xeno mengatakan hal yng menyakitkan pada Quirin.


"Sepertinya telah terjadi sesuatu" batin Quirin menatap Xeno dengan curiga


"Dan Rea?, kenapa kau bersamanya?" tanya Quirin mengalihkan pembicaraan


Rea merasa senang karena Quirin bertanya padanya "aku tidak tau, seseorang telah menabrakku dan orang itu tidak ingin bertanggung jawab, jadi aku mengikutinya kemari" ucap Rea sambil tersenyum pada Quirin


"Okay" ucap Quirin sambil melirik keduanya secara bergantian


Xeno tidak ingin berlama-lama berada di dekat Quirin, hal itu akan membuatnya semakin membenci Quirin "urusanku sudah selesai" ucap Xeno datar, ia berdiri dan langsung keluar dari ruangan itu.


Rea yang melihat itu juga ikut berdiri lalu berpelukan pada Quirin "pelayanmu sungguh lancang, dia tidak memanggil mu dengan sebutan nona, melainkan hanya menyebut namamu saja, jika aku jadi kau, aku pasti akan membalasnya seribu kali lipat, ingat!, aku siap membantumu kapan saja" ucap Rea sambil melepas pelukannya lalu meninggalkan Quirin di ruangan itu.


Quirin mulai mengepalkan kedua tangannya "beraninya dia terang-terangan menunjukkan rasa tidak hormatnya itu di depan teman-temanku" gumam Quirin sambil menoleh kearah dapur.


Quirin berjalan ke dapur dengan langkah lebar, ia langsung masuk dan menarik rambut Beymi dengan kasar.


Arghhhhh

__ADS_1


Beymi berteriak histeris, piring yang ada di tangannya terjatuh dan menimbulkan suara yang begitu besar.


Beymi merasa rambutnya seakan lepas dari kepalanya, ketika Beymi menoleh, ia melihat wajah Quirin yang sedang tersenyum padanya.


Senyum yang di tujukan padanya itu bukanlah senyum kebahagiaan, melainkan senyum kemarahan yang tak langsung.


"Tolong lepaskan nona!"


"Sakit" teriak Beymi sambil memegang tangan Quirin


Quirin langsung menyeret Beymi keruang tengah dan tidak membiarkan Beymi mengucap sepatah katapun selain berteriak meminta melepaskan rambutnya.


Setelah itu Quirin menghempas Beymi dengan sangat kuat, hingga membuat Beymi tersungkur kelantai "kenapa nona melakukan ini pada saya?" tangis Beymi sambil memegang kepalanya yang sakit, air mata mulai mengalir di sela sudut matanya.


Ketiga orang yang berada di lantai atas bergegas turun kebawah "ada apa Quirin?, ayah mendengar suara pecahan piring" tanya Grizo dengan nafas tersengal-sengal.


Grizo datang bersama Calis dan Lura, mereka yang baru saja berlari tampak mengambil nafas dengan rakus.


Karena tidak mendapat jawaban dari putrinya, mata Grizo kini teralih pada Beymi yang sedang menangis di lantai, ia bahkan baru sadar jika Beymi berada di samping kaki Quirin "ada apa ini?" tanya Grizo heran


"Tanyakan sendiri padanya" ucap Quirin sambil melipat kedua tangannya


"Saya tidak melakukan apa-apa tuan, saya juga terkejut ketika nona tiba-tiba menarik rambut saya" ucap Beymi sambil menangis dan masih memegang kepala.


Calis menaikkan satu alisnya, menurutnya perlakuan Quirin benar-benar keterlaluan "kau sungguh keterlaluan Quirin, kau tidak malu menindas pelayan Beymi?, dia bahkan tidak tau kesalahan apa yang telah dia buat, kenapa kau tega melakukan itu pada pelayan Beymi?" tanya Calis yang berada di belakang Grizo


"Kali ini bibi jangan ikut campur!, kesabaran ku benar-benar ada batasnya!" Quirin mengatakan dengan tegas, ia bahkan mengatakannya tanpa ekspresi sambil melirik tajam kearah Calis.


Calis yang dilirik tajam langsung terdiam dan tidak berkutik lagi, Grizo yang melihat itu merasa tidak enak hati pada Calis "bicaralah yang sopan pada ibumu!, kau semakin kurang ajar pada ibumu!" Grizo berkata dengan wajah marah.


Quirin beralih melirik Grizo "tidak!, sekali lagi aku mempertegasnya ayah!, dia bukan ibuku!, jadi jangan memaksaku memanggil sebutan mulia itu untuknya!"


Grizo yang mendengar itu benar-benar marah "Kenapa kau sangat keras kepala?" teriak Grizo dengan wajah yang sudah memerah.


Quirin melotot sempurna kearah Grizo "kau meneriakiku?!" Quirin ikut berteriak, suaranya bahkan terdengar begitu menggelegar keseluruh rumah.


Calis, Lura dan Beymi terkejut mendengar keduanya saling bertautan, tapi rasa terkejut itu tidak bertahan lama karena sekarang mereka tengah tersenyum melihat keduanya bertengkar hebat.


"Kenapa kau berubah menjadi seperti ini?, aku sudah membesarkan mu dengan baik, tapi lihatlah kelakuanmu ..." Grizo menjeda perkataannya dan mencoba menggambil nafas dengan panjang, ia tidak ingin melanjutkan perkataannya, karena jika itu di lanjutkan makan bisa berakibat fatal untuk dirinya sendiri.


Quirin masih menatap Grizo, tapi kali ini tatapannya tidak melotot seperti tadi "jangan bertanya padaku, tapi tanyakan pada dirimu sendiri, ayah!" Quirin mempertegas di akhir perkatannya.


Grizo mengernyit binggung, ia merasa gagal mendidik putrinya, bahkan dirinya merasa jika yang ada di depannya bukanlah putrinya lagi.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2