Another Person Life

Another Person Life
Pelajaran Yang diDapat Clamy


__ADS_3

Mereka keluar ruangan dan bersiap-siap untuk menerobos kerumunan, awalnya Vano tampak sangat melindungi Clamy, namun saat kerumunan itu terus memukulnya, akhirnya Vano memilih untuk meninggalkan Clamy.


Quirin terkejut melihat Vano berjalan kearahnya tampa kehadiran Clamy "dimana Clamy?"


"Aku tidak tau nona, mereka sangat banyak, tubuhku mengalami memar, aku tidak sanggup menahannya sendirian"


"Sialan!"


Quirin berlari kearah penjaga, ia pun langsung meminta pertolongan kepada penjaga untuk membantu Clamy.


Setelah mereka selesai membubarkan orang-orang itu, ternyata Clamy sudah tengah terkapar di tanah dengan darah yang mengalir disekujur tubuhnya.


Mereka melihat kulit Clamy mengalami luka sobek "sial!, cepat bantu aku membawanya kemobil" teriak Quirin.


Para penjaga itu langsung mengangkat tubuh Clamy dan memasukkannya kedalam mobil, lalu Quirin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Quirin membawanya kerumah sakit, setelah melewati masa-masa kritis, Clamy terbangun dengan perban di seluruh tubuhnya "dimana ini?" tanya Clamy dengan mengerjabkan matanya.


"Rumah sakit" jawab Quirin datar


Clamy kembali teringat dengan kejadian yang menimpanya "nona?, apa kau sengaja melakukannya padaku?" tanya Clamy dengan wajah serius.


Quirin mengernyitkan dahinya "aku?, sengaja?, jika aku melakukannya dengan sengaja maka aku tidak akan pernah menolongmu dan memilih membiarkanmu mati dengan mengenaskan di depan para penjaga itu" Quirin kesal mendengar tuduhan yang di lontarkan oleh Clamy.


"Vano, masuklah" teriak Quirin dengan wajah datar.


Vano menuruti perkataan Quirin, ia masuk kedalam dan berdiri tepat disamping Quirin.


Quirin yang terlihat kesal langsung memutar tubuh Vano dan mengangkat baju Vano "kau lihat?, pengawalku mengalami memar yang cukup parah karena melindungimu, dan sekarang kau mengatakan aku melakukannya dengan sengaja?, apa otakmu sudah rusak?" kesal Quirin sambil menunjukkan memar yang ada di punggung Vano.


Clamy terlihat termenung, lalu seketika wajahnya berubah menjadi murung "maafkan aku nona"


"Cih, kau urus saja masalahmu sendiri, aku tidak ingin terlibat denganmu lagi, dasar manusia tidak tau berterimakasih, ayo Vano kita tinggalkan rumah sakit ini" ucap Quirin sambil mengajak Vano keluar dari ruangan itu.


Clamy tampak terkejut, ia awalnya berpikir optimis jika Quirin akan selalu berada di pihaknya, tapi kini pikiran itu tampak pupus.


"No-na, tunggu!" teriak Clamy


Teriakan Clamy tampak sia-sia saja, Clamy berpikir jika Quirin benar-benar sangat marah padanya.

__ADS_1


"Nona, nona Quirin!" teriak Clamy lagi, ia bahkan sampai jatuh dari tempat tidur, selang infus yang dipasang juga ikut terjatuh bahkan mengenai kepala Clamy dan selang itu bahkan terlepas dari punggung tangannya sehingga mengeluarkan banyak darah.


Clamy meringis kesakitan, ia pun langsung mencoba berdiri, namun usahanya sangat sia-sia.


"Sial!, kenapa aku membuatnya marah, disaat seperti ini aku harus mempunyai perlindungan" gumam Clamy


Seorang perawat yang kebetulan lewat mendengar suara benda jatuh, ia pun langsung membuka pintu kamar dan melihat Clamy sudah terduduk dilantai dengan darah yang mengalir dari tangannya.


Sang perawat membantu Clamy untuk duduk dan membantunya memperbaiki alat infus, lalu i juga membaringkan tubuh Clamy.


Tiba-tiba pintu kamar Clamy didobrak oleh seseorang, keduanya yang berada didalam benar-benar terkejut.


"Kau wanita tidak tau diri!, bagus sekali kau dirawat di rumah sakit ini, bukankah waktu itu aku sudah berjanji akan merobek wajahmu?, sekarang aku datang untuk menepati janjiku" teriak wanita itu dengan penuh amarah.


Wanita itu berjalan dengan sangat cepat lalu menarik selang infus dengan sangat kasar. tangan yang awalnya sudah di pasang infus kini kembali mengeluarkan darah bahkan lebih banyak dari sebelumnya.


Arrghhh


Clamy berteriak dengan angkat keras, seluruh tubuhnya sakit, dan sekarang ia harus menerima tindakan kekerasan dari wanita yang ia sendiri tidak tau asal usulnya.


"Rasa sakit yang kau terima ini belum bisa di katakan sakit, aku kan membiarkanmu merasakan rasa sakit yang sesungguhnya" teriak Wanita itu


Tanpa aba-aba wanita itu langsung menarik rambut Clamy dengan sangat kasar, Clamy yang tidak memiliki keseimbangan terjatuh dari tempat tidur.


Arrgghhh


"Hentikan!" teriak Clamy yang sudah meringis kesakitan.


"Apa kau pikir aku akan berhenti?, mimpi saja kau wanita ja*lang!" teriak sang wanita sambil menarik rambut Clamy dengan sangat kuat.


"Ini menyakitkan!" ucap Clamy dengan air mata yang sudah mengalir dengan deras.


Satu tangan wanita itu menarik rambut Clamy "kau mengatakan ini menyakitkan?, lalu kau pikir aku tidak sakit melihat perbuatanmu dengan suamiku?!" geram sang wanita sambil meremas lengan Clamy dengan tangan satunya.


Clamy meringis kesakitan, lengan yang baru saja di balut kini terbuka kembali "aku tidak pernah mengenal suamimu!" ucap Clamy dengan berderai air mata


"Kau benar-benar menjengkelkan, apa karena banyak pria yang sudah tidur denganmu, lalu dengan mudahnya kau mengatakan tidak mengenalnya?, lalu siapa yang ada di dalam foto ini?!" teriak sang wanita dengan menunjukkan ponselnya di depan wajah Clamy.


Clamy sangat terkejut, ternyata wanita yang sedang menghajarnya adalah salah satu wanita dari pria itu.

__ADS_1


"Kau mengingatnya?!" tanya wanita itu dengan marah


Clamy tampak mematung, pikirannya kosong, bahkan ia tidak mempunyai tenaga untuk menjawab pertanyaan wanita itu.


Wanita itu pun langsung mencakar wajah Clamy beberapa kali hingga kuku panjangnya menembus kulit Clamy.


Arrgghhhh


"Apa yang kau lakukan pada wajahku!" teriak Clamy sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Aku hanya menepati janjiku!" ucap wanita itu lalu menendang perut Clamy hingga membuat tubuh Clamy tersungkur.


Wanita itu pergi begitu saja, ia tidak memperdulikan tatapan orang lain padanya.


Sedangkan para penonton, bagi mereka Clamy sangat pantas mendapatkan hukuman itu, karena wanita seperti dialah yang sangat tidak disukai para wanita baik.


"Ck, tadinya aku sangat bersimpati padanya, ternyata setelah mendengar perkataan kata-kata wanita itu aku semakin merasa dia pantas mendapatkannya"


"Wanita penggoda seperti itu patut di beri pelajaran"


"Jika aku menjadi wanita tadi, aku pasti tidak akan semudah itu memaafkannya"


"Sudahlah kita pergi saja dari sini, tidak perlu menolong wanita penggoda sepertinya" ucap perawat, dokter, dan para pengunjung lainnya.


Clamy yang mendengar cemoohan orang-orang menangis sejadi-jadinya, ia sudah memastikan karirnya akan hancur, bahkan sekarang tubuh dan wajahnya mulai mengikuti nasibnya.


"Semua sudah hancur" gumam Clamy di sela tangisnya. Bahkan rasa sakit yang ditubuhnya tidak bisa lagi ia rasakan.


Semua orang mulai membubarkan diri, saat itu hanya tersisa satu perawat, ia merasa kasihan melihat Clamy tidak dipedulikan oleh siapapun, padahal tugas dokter dan perawat adalah membantu pasien yang sedang terluka, bukan malah ikut campur dalam urusan pribadinya.


Sang perawat memilih masuk kedalam "untuk apa kau mendekatiku?, apa kau belum puas mengejekku?! teriak Clamy dengan air mata mengalir, cairan bening itu kini berubah menjadi merah karena akibat cakaran yang di lakukan wanita itu.


"Awalnya aku sangat kesal padamu, karena tidak ada wanita didunia ini yang menginginkan prianya meniduri wanita lain. Tapi, setelah berpikir panjang, aku adalah seorang perawat, prioritas utamaku adalah merawat pasien yang terluka dan di dalam sumpahku tidak ada kata-kata untuk mencampuri urusan pribadi pasien. Jadi aku disini murni hanya untuk membantumu saja" ucap perawat itu sambil membantu Clamy duduk di tempat tidur.


Perawat itu memasang kembali selang infus, lalu membuka tangan Clamy yang menutupi wajahnya.


Sang perawat sangat terkejut melihat bekas luka yang di tinggalkan wanita itu "aku akan memanggil seorang dokter yang bersedia membantumu" ucap perawat itu dengan panik lalu berlari keluar untuk memanggil seorang dokter.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2