Another Person Life

Another Person Life
Kembalinya Kepala Pelayan Keluarga Alister


__ADS_3

Didalam ruang keluarga, semua orang tengah tenggelam dalam pikiran masing-masing "aku tadi mendengar suara dari arah taman, tapi bagaimana bisa kita tidak menemukan siapapun?" ucap Calis pada keluarganya


Keluarga yang lain hanya menggeleng tanda tidak perduli karena mereka benar-benar terfokus pada perbuatan Quirin saja.


"Kenapa aku memiliki firasat buruk tentang suara itu?" batin Calis sambil berfikir


Melihat Calis memikirkan itu, Grizo menarik nafas dalam-dalam "kemungkinan besar kau salah dengar" ujar Grizo sambil menepuk punggung Calis yang berada disampingnya.


Sedangkan pria satunya terlihat cukup kesal karena sedaritadi telah diabaikan oleh keluarga Alister "lupakan tentang masalah suara itu, bagaimana kelanjutan pertunangan ku?" tanya pria itu dengan nada tinggi


Grizo mulai memijit pelipisnya "aku minta maaf atas ketidaksopanan putriku, bisakah kita membicarakan ini dilain waktu?" ucap Grizo memohon


"Baiklah, buatlah keputusan sesegera mungkin, karena kalau tidak, aku akan memberitahukan kepada orang tuaku dan kalian pasti akan mendapatkan masalah besar jika mereka tau tentang masalah ini" ancam pria itu dengan marah


Calis terkejut mendengar ancaman pria itu, karena keluarga pria itu bisa dibilang pengusaha terkemuka, jika keluarga Alister bisa menjalin kerjasama dengan keluarga pria itu terus menerus maka sudah dipastikan reputasi keluarga Alister semakin melejit "tolong jangan lakukan itu, kami akan berusaha membujuknya" ujar Calis pani


Pria itu berdiri lalu membenarkan jas nya "aku akan menunggu kabar dari kalian, kalau tidak?, aku benar-benar akan melupakan semua hubungan lama kita" ancam pria itu lalu pergi meninggalkan rumah keluarga Alister tanpa berpamitan


Nenek merasa perdebatan telah usai, ia menarik nafas dalam-dalam "kau terlalu memanjakan gadis tidak tau diri itu, dia persis seperti ibunya" ujar nenek sambil meninggalkan ruangan itu


Grizo tampak diam, ia tidak tau harus berkata apalagi, karena Quirin hampir menghancurkan kerja sama yang sudah dibangun oleh Grizo.


Lura tersenyum senang karena sang kakak mendapat penghinaan dari seluruh anggota keluarga "ayah, jangan marahi kakak, karena bagaimanapun semua yang ayah dan ibu lakukan berdasarkan pikiran kalian, dan itu juga tanpa meminta persetujuan dari kakak" ucap Lura mencoba mencari perhatian Grizo


"Sudahlah Lura, jangan selalu membela kakakmu, kau pasti lelah, sekarang masuk kedalam kamar dan istirahatlah" ucap Calis sambil tersenyum licik


Keduanya saling melempar senyum karena telah berhasil mempengaruhi Grizo


Lura meninggalkan sepasang pasutri, Grizo dan Calis masih berada disana, keduanya tampak diam sambil berpikir "sudah aku katakan, jangan terlalu memanjakannya, lihatlah sekarang, dia membangkang seluruh anggota keluarga, bahkan pada aku dan ibu" ucap Calis berpura-pura sedih


Grizo hanya diam sambil memijit pelipisnya "benar, semakin aku diam, dia semakin berani, bahkan mencoba mengajukan pemutusan kerja sama pada tuan muda, apa yang dipikirkan anak ini" batin Grizo


Calis tersenyum melihat kebingungan Grizo "dia harus di beri hukuman, jika tidak maka perlahan perusahan akan hancur di tangannya" ujar calis lalu berdiri dan meninggalkan Grizo sendirian disana.


"Apa yang harus aku lakukan?, jika aku berbuat seperti dulu, anak itu pasti akan semakin jauh, tapi jika aku tidak menghukumnya dia akan membuat perusahaanku hancur" gumam Grizo sambil menarik nafas panjang.


Tak ingin memikirkannya, Grizo segera pergi meninggalkan ruangan itu dan kembali ke kamarnya.


Calis mengambil air dan meneguknya, ia berdiri di depan meja dapur sambil memikirkan suara yang berasal dari taman "aku sangat penasaran dengan suara itu" gumam Calis

__ADS_1


Calis menggelengkan kepalanya lalu pergi meninggalkan dapur, ia tidak ingin memikirkan hal yang tidak penting.


Semua orang berada di dalam kamar masing-masing, mereka tampak tidak tidur karena memikirkan hal yang sudah terjadi, di pikiran mereka hanya ada menyingkirkan Quirin tapi pikiran itu tidak berlaku untuk satu orang, yaitu Grizo, ia hanya memikirkan cara mengatasi masalah putrinya dengan adil tanpa membuat putrinya dendam padanya.


Keesokan paginya, seorang datang kedalam kediaman Alister, dia adalah kepala pelayan keluarga Alister, selama ini dia mengambil cuti di karenakan putri semata wayangnya sedang sakit.


"Nyonya besar, nyonya serta tuan, terimakasih sudah membiarkan saya mengambil cuti beberapa hari" ucap kepala pelayan itu sambil membungkukkan badannya


Nyonya besar yang di maksud kepala pelayan adalah sang nenek, karena dia orang tertua di keluarga Alister "Apa putrimu sudah sehat?" tanya nenek pada kepala pelayan


"Dia sudah sembuh nyonya besar, semua ini berkat bantuan nyonya besar" ucap kepala pelayan itu tersenyum


sang nenek hanya mengangguk "kembalilah, buatkan kami sarapan yang enak" perintah nenek


Kepala pelayan itu bergegas pergi kedapur untuk menyiapkan sarapan untuk keluarga Alister.


Setelah beberapa jam menunggu, semua makanan sudah tertata rapi di atas meja, mereka semua berkumpul di meja makan, hanya dua orang yang tidak menampakkan wajahnya.


Tapi pelayan hanya tau satu orang saja "nyonya, saya akan memanggil nona Quirin" ucap kepala pelayan membungkuk hormat.


"Panggil dia dengan cepat karena kami sudah kelaparan, dan juga dia sudah pindah ke kamarnya yang lama" ucap nenek tanpa melihat kearah kepala pelayan


Lura mengepalkan kedua tangannya yang berada dibawah meja, ia masih belum merelakan kamar sebesar itu kepada Quirin.


Kepala pelayan bergegas pergi untuk memanggil Quirin, setelah sampai di depan pintu Quirin, kata hatinya berkata untuk tidak masuk kedalam kamar itu, tapi kepala pelayan menepis firasat buruknya.


Kepala pelayan langsung membuka pintu kamar dan betapa terkejut dirinya melihat dekorasi yang bagus dengan perpaduan warna yang cukup elegan serta dilengkapi dengan fasilitas canggih.


"Apa kau tidak memiliki sopan santun?, aku belum menyuruhmu masuk" ucap gadis yang terbaring dan masih menutup matanya.


Kepala pelayan bergidik ngeri mendengar suara tajam dari gadis itu, namun ia mencoba menetralkan ekspresinya "ehm ... Quirin, nyonya besar menyuruhku membangunkan mu untuk sarapan, sekarang bersiaplah, jangan membuang waktuku" ucap kepala pelayan dengan angkuh


Quirin yang masih memejamkan matanya kini terbuka dengan sempurna, ia bangun dan mencari benda di atas mejanya.


Quirin langsung melempar sebuah pena kearah bahu sang pelayan sehingga membuatnya terkejut dan berdiri terpaku.


Lemparan Quirin sedikit meleset kesamping sehingga hanya mengenai dinding dan menancap tegak disana.


"Lancang sekali kau memanggil namaku, apa posisimu terlalu tinggi di rumah ini?" tanya Quirin dengan tatapan tajam disertai suara menusuk.

__ADS_1


kepala pelayan benar-benar terkejut, ia melihat Quirin dengan rasa tidak percaya, seakan Quirin bukanlah Quirin, ia berubah total bahkan merasa Quirin lebih berani daripada bisanya.


Sebelum insiden itu terjadi, Quirin sangat takut dengan tatapan kepala pelayan hingga membuatnya menurut dan mengangguk apapun yang di katakan oleh kepala pelayan itu.


"Ka-kau ... !" ucap Kepala pelayan ketakutan, karena jika tidak meleset sudah pasti bahu kepala pelayan itu akan berlubang.


"Masih tidak tau diri" ucap Quirin tersenyum smirk


Quirin bangun dan berjalan mendekati kepala pelayan, ia langsung mencengkram leher kepala pelayan hingga membuat pelayan itu tidak bisa mengeluarkan suara.


Kepala pelayan meronta-ronta tapi tangannya tidak cukup kuat untuk melepaskan tangan Quirin.


"Bagaimana mungkin manusia lemah ini berubah?, apa yang terjadi selama aku tidak berada disini?" batin kepala pelayan


"Kau mengira posisi kepala pelayan bisa mengalahkan posisi Putri tuan yang sedang kau layani?, dan dengan lancang berani memanggil nama putrinya hanya nama tanpa menggunakan nona?, darimana keberanian mu itu berasal?" tanya Quirin dengan tatapan menusuk


Kepala pelayan merasa ketakutan mendapat tatapan tajam dari Quirin, ia bahkan sudah berkeringat dingin hingga tidak bisa berkata-kata.


"Ketahuilah posisimu, atau haruskah aku mengingatkan tentang masa lalu mu sampai kau bisa di angkat menjadi kepala pelayan di rumahku?"


"A-apa maksud nona?, jangan-jangan ... " batin kepala pelayan


Kepala pelayan langsung menggelengkan kepala dengan pelan sambil mengeluarkan air matanya, ia bahkan tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun untuk menyangkal perkataan Quirin dan ia sungguh tidak bisa bernafas karena Quirin mencengkeramnya dengan sangat kuat.


Quirin melepaskan cengkeramannya lalu mendorong kepala pelayan dengan sangat kuat sehingga punggung kepala pelayan menghantam dinding dan mengenai pena yang di lempar oleh Quirin.


Arghhhh


uhuk uhuk uhuk


Quirin memutar bola mata dengan malas "kau pasti mengira aku masih Quirin yang lemah dan mudah ditindas itu, sangat tidak tau diri" ucap Quirin merubah ekspresinya menjadi datar


"Ti-tidak nona" ucap kepala pelayan sambil memegang punggungnya yang sakit.


Kepala pelayan itu langsung merubah panggilannya kepada Quirin, karena dirinya melihat Quirin benar-benar sudah berubah.


"Hanya pelayan rendahan saja sudah berani tidak sopan pada pemilik rumah" gumam Quirin sambil berbalik dan duduk kembali di atas tempat tidurnya.


"Pergi sekarang atau aku akan menghancurkan tulang lehermu" usir Quirin dengan santai.

__ADS_1


Padahal Quirin berbicara dengan santai, tapi berbeda dengan respon yang ditunjukkan oleh kepala pelayan, ia gemetar ketakutan ketika Quirin menatapnya "ba-baik nona" ucap kepala pelayan berusaha berdiri dan berlari keluar.


Bersambung ...


__ADS_2