
Pintu itu bahkan menghantam dinding dengan sangat keras sehingga membuat orang-orang yang ada disekitar tersentak kaget.
Quirin sontak langsung menoleh"baguslah ada yang mengalihkan pembicaraan Xia, tapi kenapa harus membuka pintu sekasar itu" geram Quirin.
Orang-orang yang ada di dalam juga mengikuti arah pandangan Quirin.
Orang yang membuka pintu itu terlihat mengeluarkan banyak keringat dan mengambil nafas dengan rakus, bahkan ia terlihat sangat kelelahan seperti berlari dengan jarak beberapa kilometer.
Walau wajah itu terlihat sangat kelelahan, tapi eskpresi antusiasnya bahkan tampak terlihat sangat jelas.
"Kau menginginkan mati?" kesal Quirin dengan melotot kearah Vano.
Vano yang belum berhenti mengambil nafas justru sedikit terkejut mendengar suara Quirin "ma-maafkan aku nona, a-aku terlalu terburu-buru" ucap Vano dengan nafas tersengal-sengal.
Xeno yang sudah tidak menyukai Quirin seperti memiliki kesempatan untuk mengusiknya "kau tidak memiliki hak untuk memarahinya" sahut Xeno tanpa menoleh kearah Quirin.
Posisi keduanya terhalangi oleh Al dan Zee. Quirin berada di sebelah kanan Xia, Al berada di samping kanan Quirin, serta Zee berada di samping kanan Al, lalu Xeno berada di samping kanan Zee. Mereka berdiri dengan jarak yang tidak terlalu jauh.
Al, Vano dan Xia bahkan lebih terkejut mendengar perkataan Xeno daripada suara hentakan pintu yang ditimbulkan oleh Vano tadi, mereka tidak menyangka Xeno mengeluarkan kata-kata seperti itu. Mata ketiga orang itu bahkan seakan ingin keluar dari tempatnya.
Al menoleh kearah Zee untuk meminta penjelasan kenapa Xeno bisa berubah seperti itu, tapi Zee justru memutar bola matanya dengan malas.
"Ada yang salah dengan kedua orang ini, aku harus bertanya pada mereka nanti," batin Al sambil terus melirik kearah Xeno dan Quirin secara berulang.
Quirin yang berada di samping Xia menatap punggung Xeno dengan tajam "aku tidak berbicara denganmu!" ucap Quirin dengan tegas.
Al bahkan sangat fokus dengan cara bicara Quirin dan Xeno, sedangkan Xia justru sangat terfokus dengan kedatangan Vano, ia merasa tidak menyangka bahwa Vano akan mengunjunginya"kenapa dia datang dengan tampilan seperti itu?, apa dia benar terburu-buru untuk mengunjungiku?" batin Xia.
Xeno yang mendengar perkataan Quirin mengepalkan tangannya, tapi dirinya tidak mungkin lagi membalas perkataan itu, karena waktunya tidaklah tepat.
Melihat semua orang terdiam Vano bergabung dan berdiri di samping kanan Xeno, Alhasil mereka semua berdiri dengan mengelilingi tempat tidur Xia.
Xia dan Vano saling menatap, lalu karena merasa malu Vano dengan cepat mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Ada apa dengannya?" batin Xia terlihat kesal.
Quirin yang melihat interaksi itu tersenyum tipis "Al, butuh berapa lama lagi dia berada dirumah sakit?" tanya Quirin sambil menoleh kearah Al.
"Hanya membutuhkan 3-4 hari dan untuk saat ini, sebaiknya biarkan dia istirahat, jika kita berkumpul disini pasti akan menggangu istirahat Xia" ujar Al sambil berpindah kearah Quirin untuk memeriksa alat-alat yang terpasang di tubuh Xia.
Quirin mengangguk dan menatap kearah Xia "Aku masih harus mengurusi masalah di mansion, aku berjanji, besok akan mengunjungimu lagi" ucap Quirin sambil memegang tangan Xia.
__ADS_1
"Baiklah Quirin" ucap Xia sambil tersenyum.
"Al, aku titip Xia" ucap Quirin sambil menepuk pundak Al, ia langsung berbalik dan keluar dari kamar Xia.
Al, Xeno dan Vano juga berpamitan keluar agar Xia bisa mengunakan waktunya untuk beristirahat, sedangkan Zee hanya mengikuti langkah mereka tampa mengatakan apapun.
Begitu sudah berada diluar, Al mengajak ketiga orang untuk mengikutinya.
Saat berada di ruangan pribadi Al, ia langsung menatap ketiganya dengan tajam "bagaimana bisa dia mempermainkan ku seperti ini?, apa kalian bekerja sama?"tanya Al dengan kesal.
Xeno membuang wajahnya ke sembarangan arah, sedangkan Zee hanya menaikkan kedua bahunya.
"Kau tidak mungkin tidak tau Zee, karena kau lah yang memanggil ku untuk kerumah itu" kesal Al sambil menatap Zee dengan horor.
"Dia meminta bantuan ku" ucap Zee singkat.
#Flashback On
Ting
Sebuah pesan muncul di ponsel Zee, ia yang sedang memiliki waktu luang membuka ponselnya.
Zee membaca pesan itu, ia tampak berpikir, baginya Al sudah dianggap saudara, tapi karena Al sudah membuat Xia terbaring dirumah sakit itu, Zee sempat berpikir untuk membalasnya. Karena sangat pantas mendapat hukumannya,
[Baiklah]
Zee membalas dengan sangat singkat, tapi di balik itu, ia tengah tersenyum karena Quirin terus bergantung padanya dan hal itu bisa menjadi bumerang untuk Quirin.
Zee dengan segera mencari nomor Al, setelah panggilan itu tersambung, Zee tanpa basa basi langsung memerintahkan Al.
"Segera datang ke rumah itu, Quirin sedang memerlukan bantuan mu"
"Apa?, sebelumnya kau menyuruhku untuk memeriksa sebuah rumah sakit, kenapa sekarang kau menyuruhku datang kerumah itu?, apa kau pikir aku tidak memiliki pekerjaan lain?" ucap Al kesal
"Ikuti atau pergi ke kutub Utara?"
Al sempat mematung, ia tidak sanggup berjauhan dengan orang terdekatnya "aku akan berangkat sekarang" ucap Al dan langsung mematikan ponselnya.
#Flashback Off
"Bagaimana bisa Clamy berada di rumah itu?, saat aku membantu Clamy di rumah sakit, aku tidak melihat nona Quirin disana, lalu tiba-tiba aku melihatnya di rumah itu, bukankah itu tidak bisa disebut sebuah kebetulan" ucap Al mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Dia berada di parkiran menunggu petinggi rumah sakit melancarkan aksinya, setelah itu, kau masuk kerumah sakit dan terjadilah hal itu, dan ketika kau keluar, wanita itu masuk untuk membawa Clamy kerumah Zee" jelas Xeno dengan datar.
Al membelalakkan matanya "apa!, bagaimana mungkin?, kau yakin dia melakukan itu semua?"
"Tentu saja, apa kau tidak merasa dia dengan sengaja melakukan ini?"
Al kembali mengingat-ingat, "aku sudah katakan, kejadian ini memang tidak bisa di sebut kebetulan, jadi aku berpikir sepertinya di melakukannya dengan sengaja, aku bahkan bertanya-tanya bagaimana bisa bisa aku bertemu dengan Clamy dua kali berturut dalam satu hari, ternyata ini lah alasannya"
"Ya dokter Al, itu adalah nyata, dia bahkan melakukan hal yang sama padaku, dia membalas kita karena sudah membuat Xia terbaring di rumah sakit, dia melakukannya dengan menggunakan tangan orang lain"
Al menganggukkan wajahnya "ternyata dia orang yang sangat pendendam" gumam Al sambil menatap kedua orang yang ada didepannya.
"Tidak sampai disitu, dia bahkan membunuh neneknya sendiri dengan cara yang sangat keji" imbuh Xeno dengan datar.
Vano dan Al bersamaan menoleh kearah Xeno, mereka tidak menyangka Quirin dengan tega melakukan itu.
"Jangan sembarangan bicara Xeno, kau hanya melihat sisi kejamnya, jika dia membalas mu, aku benar-benar tidak akan ikut campur," ucap Zee dan berdiri dan meninggalkan ruangan Al.
Al dan Vano terpaku mendengar Zee berbicara, tidak biasanya manusia kaku itu memperingati Xeno "hei Xeno, ada apa dengan mu?" tanya Al heran.
"Aku sudah mengatakannya padamu, aku juga berniat untuk menjauhkan wanita itu dari Zee" Xeno sudah bertekad untuk menjauhkan mereka berdua.
"Xeno?, apa kau tidak menyesali keputusanmu?, itu adalah keluarganya, atas apa yang dia lakukan, semua itu tidak ada sangkut pautnya denganmu. Aku juga yakin dia pasti memiliki alasan tersendiri, dia bukan orang yang sembarangan membunuh, jika itu terjadi maka aku sudah tidak berada disini lagi" ucap Al berbicara dengan lebar.
Mendengar penuturan Al, kini giliran Vano yang mengeluarkan pendapatnya "tuan Xeno, aku juga setuju pada tuan Al, ketika Clamy di bawa keruang penyiksa, dia lebih dulu bertanya padaku, dia memberiku kesempatan untuk membalas wanita itu, menurutku mereka orang yang seperti tuan pikirkan"
"Tunggu!, saat aku meninggalkan rumah itu, apa dia masih seorang Quiran dan dia mengatakan identitasnya sendiri padamu?" tanya Al terkejut, pasalnya Quiran sangat tidak ingin orang lain mengetahui identitas dirinya.
"Dia masih seorang Quiran tuan, tapi dia bukan mengatakannya padaku, melainkan pada Clamy, aku bahkan terkejut setengah mati mendengar perkataannya itu" ucap Vano sambil mengelus dada nya.
"Aku tidak perduli, bagiku dia orang yang sangat keji, dia tidak memiliki belas kasihan pada keluarganya" ucap Xeno dengan memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
Al mengerutkan dahinya, tidak biasanya Xeno marah dengan hal yang tidak berhubungan dengannya "apa yang dia lakukan hingga membuatmu seperti ini?" tanya Al dengan serius.
"Dia menyiksa neneknya, aku tidak perlu menjelaskannya padamu, kau sendiri memiliki gambaran atas kata penyiksaan ketika itu bersangkutan dengannya, apalagi karena dia memiliki alter ego"
Al sangat mengerti arti kata penyiksaan yang dikatakan oleh Xeno, baginya Quirin atau Quiran adalah malaikat pencabut nyawa. Dari luar wanita itu terlihat sangat cantik tapi ketika dia marah maka orang yang membuatnya marah pasti tidak ada yang selamat.
Al mengerutkan dahinya "lalu, pada saat itu apa kau tidak bertindak keji pada kedua orang tua kandungmu?" pertanyaan menohok itu mampu membuat Xeno terpaku.
Bersambung ...
__ADS_1