
Quirin berusaha sekuat tenaga untuk menggali, ia tidak memperdulikan penampilannya yang sudah lesuh dan juga kotor.
Karena dirinya sedikit merasa sedikit kesusahan, mulut yang tadinya diam kini berkomat-kamit sendiri "Astaga, aku lebih baik membunuh daripada harus menggali tanah" gumam Quirin dengan keringat diseluruh tubuhnya
"aku sudah menggali ini sedari tadi, tapi aku tidak menemukan sisi ujungnya, seberapa lebar pintu ini?, aku sudah tidak sanggup menggali ini lagi!, nenek tua design mu ini sungguh merepotkan, jika kita bertemu maka aku akan mengajakmu bertarung" celoteh Quirin sambil menggali tanah itu terus menerus
Ia hanya bisa berceloteh saja untuk mengungkapkan rasa kesalnya, meski begitu, tidak menghentikan aktivitas yang sedang dilakukannya.
Beberapa jam telah berlalu, akhirnya perjuangan Quirin membuahkan hasil, semua sisi besi itu terlihat dengan sempurna.
Senyuman indah kini terbit dibibir Quirin "Akhirnya selesai, ternyata aku cukup hebat bisa menggali ini sendirian" gumam Quirin sambil menyombongkan diri
Quirin mencoba mencari pegangan di besi itu, tapi tidak menemukan apapun, lalu Quirin berfikir sejenak "Aku melupakan jika nenek tua itu terlalu modern sebelum pada masanya" gumam Quirin sambil menepuk jidatnya pelan.
Quirin yang sedang berjongkok kini berdiri untuk meregangkan semua otot-ototnya, ia melihat kesemua sisi, tapi firasatnya mengatakan jika kunci dari pintu itu tidak berada di sekitarnya.
Namun Quirin tidak mempercayai firasatnya begitu saja, ia kemudian berjalan jongkok untuk mencari letak tombol rahasia di semua sisi pintu itu "Huh, sungguh merepotkan, aku tidak menemukan dibagian manapun" gumam Quirin sambil melihat kekanan dan kekiri namun dirinya tidak menemukan sebuah kunci tersembunyi itu.
Mata Quirin berhenti pada Gazebo "Apa berada disana?" batin Quirin
Quirin berlari kecil agar tidak membuang waktu, ia langsung meraba-raba dinding gazebo sambil menekannya dengan kuat
Tittttttt
Mendengar bunyi itu membuat Quirin sangat terkejut, ia refleks mencari arah sumber suara, matanya melihat besi itu terbuka secara perlahan.
Quirin kembali melihat kearah tangannya, ia melihat tangannya seperti menekan sebuah tombol rahasia.
__ADS_1
Dinding gazebo itu ditutupi oleh dedaunan yang menjalar, sehingga terlihat cantik namun menyeramkan.
"Sangat menakjubkan, pintu itu tidak memiliki masalah sama sekali, padahal jika dilihat dengan baik besi itu sudah berubah warna" gumam Quirin sambil melihat pintu itu terbuka
Quirin berjalan mendekati terowongan itu, ia melihat cahaya masuk kedalamnya, tapi cahaya itu hanya memperlihatkan sedikit anak tangga.
"Sangat gelap, bagaimana caranya aku masuk?, aku tidak membawa apapun untuk menerangi jalan" gumam Quirin sambil berfikir
"Jangan lupakan jika nenek tua itu memiliki banyak ide" gumam Quirin
Dengan berani Quirin melangkahkan kakinya satu persatu meskipun ia tidak melihat anak tangga didepannya "aku yakin nenek tau itu membuat tombol rahasia" gumam Quirin sambil meraba dinding sekaligus menekannya
Titttttt
Seketika lampu tangga yang ada di bawah kakinya menyala dengan terang, dan pintu tertutup saat lampu sudah menerangi jalan, Quirin langsung menurunkan pandangannya dan tidak memperdulikan pintu yang tertutup itu
"Wow" gumam Quirin terlihat sangat antusias sambil menuruni anak tangga berikutnya, lampu kembali menyala satu persatu mengikuti alunan langkah kaki Quirin
Quirin melangkah dan terus melangkah, ia tidak mengetahui sudah seberapa lama dirinya melangkah dan sedalam apa dirinya di bawah tanah.
Quirin mendongakkan kepalanya keatas, namun ia tidak bisa melihat apapun, karena cahaya yang ada di tangga langsung meredup jika Quirin tidak menginjak di bagian itu.
Ia sedikit takut karena hanya dirinya didalam ruangan itu, padahal dirinya sendiri tidak mengetahui seberapa dalam ruangan itu
"Menyesal sekarang sudah sangat terlambat, aku sudah melangkah sejauh ini, dan harus mengetahui semuanya" gumam Quirin sambil meneruskan langkahnya
Setelah melangkah cukup jauh Quirin berhadapan dengan sebuah lorong, ia tidak perlu mencari tombol untuk menerangi langkahnya,
__ADS_1
Berbeda dengan yang pertama, lampu bulat ini bergantung miring di dinding dan tetap bercahaya mengikuti langkah kaki Quirin "design yang sangat luar biasa, tapi di mansion ku tidak memiliki ruang bawah tanah" gumam Quirin
Setelah sampai di ujung lorong, Quirin sangat terkejut "Lagi?" gumam Quirin kesal
"Nenek tua itu benar-benar menyusahkan" gumam Quirin, ia mengulurkan tangannya meraih handle pintu, dan mencoba menekan kebawah
Krekkkk
Terdengar suara pintu terbuka "Langsung terbuka?" gumam Quirin terkejut, biasanya ia harus bekerja keras untuk membuka seluruh pintu yang menghalanginya
"Terimakasih nenek tua, aku sangat menghargai hadiah ini" gumam Quirin tersenyum
Ia langsung melangkah masuk kedalam ruangan itu, betapa terkejutnya dirinya melihat ruangan itu.
Bersambung....
Para pembaca jangan lupa tinggalkan jejak 👇
✓ Favorite
✓ Like
✓ Vote
✓ Gift
✓ Comment
__ADS_1
✓ Rate
Author sangat berterimakasih 🙏