
Quirin keluar dari mobil dan melihat gerbang yang tidak terlalu tinggi. Mereka yang melihat Quirin keluar mobil juga ikut keluar dan berjalan mendekati nya.
"Nona, apa yang harus kita lakukan?" tanya Alpha sambil melangkah mendekati Quirin.
"Tentu saja masuk kedalam" ucap Quirin sambil melihat-lihat rumah itu.
Quirin yang memegang laptopnya langsung membuka laptop itu, "lihat lah, dia tengah bersantai di taman itu" ucap Quirin sambil menunjukkan cctv yang baru di buka nya.
"Quirin, sebenarnya pekerjaan apa yang kamu lakukan?" tanya Feryun yang sedikit heran.
Sedangkan Kiryu hanya diam karena ia memang tidak tau harus berbuat apa, dan juga Feryun sudah mengatakan pada Kiryu alasan mereka berhenti di jembatan itu.
Quirin menoleh dan melihat Feryun kebingungan "Kakak ikuti aku saja" ucap Quirin sambil berjalan lalu memanjat pagar yang menjulang tinggi.
Quirin bahkan melakukannya dengan satu tangan, dan tangan lainnya sedang memegang Laptop.
Melihat Quirin seperti itu, Feryun tampak sangat ketakutan, tapi setelah Quirin turun, Feryun pun langsung bernafas lega, tanpa banyak tanya, Zee, Alpha, Kiryu dan Feryun langsung ikut memanjat dan masuk kedalam rumah itu.
Penjagaan di sana tidak terlalu ketat, Quirin bahkan dengan leluasa masuk kedalam dan mencari di mana letak taman itu.
Tidak terlalu sulit mencarinya, karena Quirin bisa melihat setiap sudut rumah itu melalui cctv.
"Haha ... aku sangat puas melihat wanita itu terbaring di rumah sakit. Aku merasa bahwa dia sangat mirip dengan Miria. Apa jangan-jangan dia memanglah wanita itu?. tapi ... itu tidak mungkin, karena aku sudah memutuskan rem mobil yang di gunakan oleh Miria. Beruntung aku mengacak-ngacak perusahaan Alpha dan membuatnya pergi ke perusahaan, jika tidak, maka pria yang ku cintai juga akan ikut pergi bersamanya" gumam Vini yang sedang duduk dan tersenyum.
Zee, Kiryu, Feryun dan Quirin menoleh kearah Alpha. Mereka melihat alpha tengah mengeram marah dan kedua tangannya sudah terkepal dengan kuat.
Ketika Alpha ingin melangkah, tiba-tiba sebuah tangan tengah menghentikan pergerakan Alpha. ketika Alpha menoleh, ternyata Quirin lah yang sedang menghentikannya, lalu Ia melihat Quirin yang tengah menggelengkan kepala nya.
Cairan bening itu sudah tampak tak terbendung lagi di mata Alpha, semua orang melihat dengan tatapan iba. Namun Alpha masih mau menuruti perkataan Quirin.
"Tunggu lah sebentar lagi" bisik Quirin.
__ADS_1
"Tapi, apa benar dia adalah Miria?, wajah mereka benar-benar tampak sama, hal itu sungguh membuatku binggung" gumam Vini sambil bangkit dari tempat duduknya dan menoleh kebelakang.
Brukkk
Terdengar bunyi yang sangat kuat, ternyata Quirin langsung menendang wajah Vini dengan sangat kuat sehingga membuat wanita itu terjatuh dengan punggung yang mengenai lantai.
"Wanita seperti mu tidak pantas untuk di cintai, kau bahkan membunuh kekasihnya dengan sangat kejam, dan sekarang kau melukai Xura" ucap Quirin dengan nada meninggi.
Vini merintih kesakitan, i pun memegang wajah ya, lalu duduk dan memegang punggung nya "Sshhhh" rintih Vini.
"Siapa kau?, bagaimana kau bisa memasuki rumahku?," ucap Vini tanpa melihat, ia terus menunduk dan berfokus pada rasa sakit yang ada di wajah nya.
Vini tidak mendapat jawaban apapun, ia pun langsung mengangkat wajah nya, dan matanya langsung terfokus pada orang yang sangat di kenal nya.
Matanya kini tertuju pada Alpha "tu-tuan" ucap Vini gugup.
Mata Alpha bahkan sudah menitikkan air mata, bahkan Vini tampak sangat ketakutan, ia bahkan tidak menyangka bahwa Alpha datang ke rumah nya.
"Tentu saja untuk membayar hutangmu!" jawab Quirin dengan mata yang tajam.
"Hu-hutang!, apa maksudnya?" ucap Vini yang sedang berpura-pura tidak tau.
"Berhentilah berpura-pura menjadi orang bodoh, kau pasti sangat tau apa yang sedang kami katakan" ucap Quirin sambil menatap Quirin dengan tajam.
Quirin mendekatkan dirinya dan menggandeng tangan Alpha. Mata Zee dan Vini tertuju pada tangan keduanya, sedangkan Alpha terus menatap Vini dengan bola mata yang hampir keluar dari tempat nya.
"Singkirkan tangan mu darinya!" teriak Vini dengan amarah yang mengebu-ngebu.
Quirin tampak tidak perduli, ia bahkan tersenyum smirk melihat kemarahan yang sangat terlihat jelas di wajah Vini.
Tapi, Quirin telah melupakan satu orang, namun tampak nya Zee tidak mau menghalangi rencana Quirin walau diri nya sedikit merasa kesal.
__ADS_1
"Apa kau tidak tau bahwa aku lah pacar Alpha, bukan wanita yang sedang terbaring di rumah sakit" ejek Quirin agar Vini semakin marah.
"Bagaimana mungkin?, aku melihatnya terus menempel pada Alpha" teriak Vini dengan nafas yang sudah memburu.
Quirin tersenyum smirk, tangan nya semakin erat memeluk lengan Alpha "Haha ... apa kau bodoh?, aku baru saja kembali dari inggris, dan Xura adalah temanku, aku menyuruhnya menjaga pacarku dari wanita sepertimu. dan lihatlah, kau menghalalkan segala cara untuk mendapatkan pacarku ini" ucap Quirin sambil memegang dada Alpha dengan tangan satunya.
Padahal mereka semua tau bahwa Quirin adalah pacarnya Zee, namun Kiryu dan Feryun tidak mengerti kenapa Quirin memprovokasi Vini dengan mengatakan bahwa Alpha adalah pacarnya?.
Vini yang mendengar itu merasa sangat marah, amarah nya bahkan semakin memuncak "Kau!, harus mati!" teriak Vini dengan sebilah pisau yang ada di tangan nya. Ia langsung berlari dan menodongkannya pada Quirin.
Feryun yang melihat itu ingin berlari, namun siapa sangka, Zee menepuk pundak nya "biarkan dia yang mengatasi nya" ucap Zee dengan datar.
"Dia adikku!," teriak Feryun dengan mata melotot.
Zee sedikit takut melihat kemarahan yang ada di mata Feryun, ia tidak ingin berselisih dengan Feryun, karena menurut Zee, keluarga tersembunyi sangatlah menakutkan, namun ia tetap harus menghentikan Feryun. Dan tiba-tiba saja suara teriakan terdengar di telinga merek semua.
Sssrrrrtttt
Arghhhh
Brukkk
Semua mata yang ada di sana tertuju pada Vini yang tengah terjatuh dengan darah yang keluar dari lengan nya.
Feryun bahkan tercengang melihat Vini terjatuh, bahkan Kiryu juga bereaksi yang sama seperti Feryun.
"Bos, apa dia benar adik mu?" tanya Kiryu yang sangat tidak percaya dengan apa yang di lihat nya.
Feryun bahkan tidak menjawab pertanyaan itu karena ia masih dalam keterkejutannya.
"Ka-kau!" teriak Vini dengan memegang lengan nya yang terasa sangat sakit.
__ADS_1
Bersambung ...