
Quirin terus menggerakkan jarinya dengan lincah, ia pun dengan segera mengirim sebuah pesan pada Max.
Setelah selesai berkutat dengan ponsel, Quirin menengadahkan kepalanya dan menoleh kesamping "Zee, kita juga harus menonton pertunjukkan ini, dan .... " ucapan Quirin pun terjeda lalu ia menoleh kedepan "untuk kalian ... jangan melupakan patung itu, lalu di bungkus dengan rapi menggunakan kotak besar, aku akan mengirim hadiah spesial itu pada seseorang, jadi lakukan lah yang terbaik" lanjut Quirin sambil tersenyum.
Staren dan Arnius pun saling memandang satu sama lain, mereka benar-benar tidak tau harus berkata apa setelah mendengar perkataan Quirin.
"Patung?"
"Hadiah Spesial?"
Sedangkan Vano justeru terfokus pada sesuatu yang langka "nona, berhentilah tersenyum pada kami, karena bagi kami senyuman nona sangat menakutkan, jadi lebih baik nona berwajah datar saja agar jiwa kami bisa lebih tenang" ucap Vano dengan santai.
Benar saja, ketika melihat Quirin tersenyum, entah kenapa mereka seakan merasa sangat merinding, karena itu bukanlah senyuman yang tulus, melainkan senyuman yang mengartikan akan ada sebuah pertunjukan yang menarik.
Dalam sekejap, Staren dan Arnius melupakan kata patung dan Hadian dari mulut Quirin, kini tatapan mereka tertuju pada Vano.
Seketika senyum Quirin menghilang dalam sekejap. Arnius dan Staren tidak menyangka Vano akan mengatakan isi hatinya dengan jujur pada wanita di samping Zee.
"Kau!" kesal Quirin sambil melototkan matanya.
Zee yang melihat interaksi mereka pun tersenyum tipis "sudahlah, jika kau tidak bisa tersenyum janganlah tersenyum, jelek bukanlah salahmu, tapi senyum adalah kesalahanmu" ucap Zee sambil melirik wanita di sampingnya itu.
Vano, Arnius dan Staren seakan ingin mengeluarkan tawanya dengan keras, sudah kesekian kalinya Zee mengeluarkan kata-kata yang mematikan untuk Quirin.
Sedangkan Quirin yang mendengar itu menatap Zee dengan tajam.
Ketiga orang itu pun sudah tidak bisa menahan tawa mereka lagi "haha ... " gelak tawa ketiganya pun keluar dengan sangat keras sehingga menimbulkan gema di seluruh ruangan.
__ADS_1
Vano yang jarang sekali tertawa kini mengeluarkan suara yang begitu menggelegar, mendengar tawa itu membuat Zee dan Quirin melihat kearah mereka.
"Hei!, kalian menertawakan ku?" tanya Quirin dengan tatapan melotot.
"Tidak nona, kami hanya menertawakan senyuman mu saja" ucap Arnius di sela tawanya sambil memegang perut.
"Haha ... benar sekali nona, kami tidak menertawai nona" ucap Staren sambil tertawa terpingkal-pingkal.
Quirin yang mendengar itu pun tersenyum licik "ah, aku senang sekali melihat kalian tertawa dari lubuk hati yang terdalam, tapi sepertinya kalian belum mendapatkan hukuman seperti Vano dan Al" ucap Quirin sambil memegang dagunya.
Sontak saja ketiga orang itu pun berhenti tertawa dan beranjak bersama "tuan dan nona muda, sebaiknya kami permisi" ucap Staren sambil berlalu pergi dengan wajah serius.
Sedangkan Vano dan Arnius, membungkukkan tubuh mereka lalu mengikuti langkah Staren.
Ruangan itu pun hening seketika, rasa canggung pun mulai teras di antara Quirin dan Zee.
Zee melirik kearah Quirin, ia pun menghela nafas pelan "sebaiknya kita menyusul mereka, permainan ini akan sangat menarik, bukankah kau tidak ingin melewatkannya?" ucap Zee sambil beranjak dari tempat duduknya.
Quirin pun mengangguk dan langsung menyimpan ponsel Zee di dalam saku pakaian nya.
Sama seperti sebelumnya, mereka mengendarai dua mobil. Zee dan Quirin berada di dalam mobil yang sama.
Sedangkan Arnius, Staren dan Vano berada dalam mobil ke dua, dan jangan lupakan patung hadiah Quirin.
Kali ini, mobil Vano akan berada di belakang, karena mereka harus mencari peralatan untuk membungkus patung itu untuk di masukkan kedalam kotak sebagai hadiah spesial.
"Menyebalkan, karena nona mataku jadi ternodai dengan tubuh tepos itu" gerutu Staren sambil menyetir mobil.
__ADS_1
"Benar, mataku yng suci ini kini sudah terkena dosa. Nona benar-benar kejam pada kita. Aku bahkan tidak menyangka dia akan melakukan itu dengan wajah datar" ucap Arnius sambil mengucek matanya yang tidak sakit.
Vano yang mendengar itupun menghela nafas pelan "aku bahkan melihat yang jauh lebih mengerikan dari apa yang sudah nona lakukan saat ini" ucap Vano sedikit bangga.
Arnius langsung melihat kearah Vano, sedangkan Staren melirik sesekali karena dirinya harus menyetir mobil.
"Serius?, bos melihat yang seperti apa?" tanya Arnius dengan penasaran.
"Aku tidak bisa mengatakannya, sebaiknya kalian jangan pernah membuat nona kesal, karena konsekuensinya akan sangat mengerikan" ucap Vano sebagai peringatan untuk mereka.
Arnius dan Staren pun merasa kecewa mendengar jawaban Vano, keduanya pun memutar bola mata dengan malas "padahal dia yang sering membuat nona kesal" batin keduanya secara bersamaan
"Sudahlah, jangn bahas ini lagi, aku merinding ketika kalian menyebut namanya" ucap Vano sambil menoleh kesamping untuk melihat sebuah pemandangan.
...****************...
"Padahal aku hampir saja tiba di mansion Alister, tapi kenapa orang ini menyuruhku mampir ke sebuah cafe ini?" gumam Axel dengan mengendarai mobilnya.
Dengan cepat, Max menuju ke lokasi yang di kirim oleh Quirin melalui ponsel Zee.
Setelah sampai, Max memarkirkan mobilnya dan mulai memasuki cafe. ia pun mulai menelusuri seluruh pengunjung untuk mencari keberadaan Zee.
Namun siapa sangka, ternyata penglihatan Max tertuju pada salah seorang pengunjung cafe, dan sangat kebetulan orang itu juga melihat Max.
Kedua mata mereka saling bertatapan, namun mata pengunjung itu terlihat seakan menahan sebuah amarah.
"Max!" bentak seseorang itu.
__ADS_1
Bersambung ...