
"A-apa, jangan katakan jika dia tau tentang aku membunuh kakak, tapi aku sudah memastikan jika tidak ada seorang pun disana" batin Cassi
Cassi seperti mendengar gumaman Xura "A-apa maksudmu?" tanya Cassi berkeringat dingin dengan ekspresi yang tidak biasa
"Aku hanya mengatakan jika aku mengenal kalian, karena Xura selalu bercerita padaku, ia mengatakan jika adiknya sangatlah baik dan mempunyai pacar yang sangat menyayanginya, tapi aku tidak menyangka setelah kepergiannya kalian telah banyak berubah, bahkan kau sudah berpacaran dengan mantan kakakmu itu, apa kau tidak punya urat malu?" ucap wanita itu panjang lebar sambil menggelengkan kepalanya
"Beruntung dia tidak mengetahui apapun, karena sudah memastikan jika dia bukan kakak, jadi aku bisa tenang"
"Apa mereka berteman sangat akrab?, karena aku melihat semua pergerakannya sangat mirip dengan kakak, bahkan tatapannya juga"
"Ya .. mungkin mereka berteman sangat akrab, sehingga dia bisa meniru kakak, bahkan aku terkecoh mengira dia adalah kakak" batin Cassi
"Sudahlah, dia tidak penting, lagian kakak sudah mati dan aku tidak mengenalnya, jadi aku tidak perlu repot-repot untuk mendengar ocehannya" batin Cassi
Cassi sangat kesal mendengar semua perkataan wanita didepannya "Itu bukanlah urusanmu, kau hanya teman kakak tapi bukan temanku" ucap Cassi dengan sombong sambil menggandeng tangan Kai dan melangkah keluar cafe
#Flashback Off
"Jika saja wajahnya sama dengan kakak, pasti orang yang mengenali mereka tidak bisa membedakannya, sama seperti aku" gumam Cassi
Setelah berfikir cukup lama, Cassi merasa sangat sia-sia, karena ia sudah memikirkan semua perkataan wanita itu dan ia sangat yakin jika itu bukan lah kakaknya "sudahlah, tidak perlu dipikirkan, dia hanya teman kakak ... ya teman kakak" ucap Cassi sambil mengangguk lalu pergi dari ruangannya
***
__ADS_1
"Aku sudah mencarinya kemana-mana, tapi tuan muda es itu belum juga menunjukkan batang hidungnya" ucap Quirin yang sudah keliling mansion tapi belum bertemu dengan Zee
Saat ini ia berada ditaman, siapapun yng melihat
rerumputan itu pasti akan terpesona, dan ketika memandangnya lebih dalam maka bisa menenangkan hati dan pikiran.
"Udara di sini lumayan sejuk" gumam Quirin tersenyum manis
Ia duduk di rerumputan hijau sambil menikmati pemandangan yang menyejukkan mata.
Tiba-tiba seseorang menutupi kepalanya dengan tangan "disini terlalu panas, kulitmu bisa rusak jika berjemur di siang hari" ucap Zee sambil duduk di sebelah Quirin
Awalnya Quirin mendongak, tapi ia hanya melihat sebuah tangan, lalu ia menoleh kesamping "bagaimana kau bisa muncul sekarang?, aku sudah lelah mencarimu, kau tau?, saat aku di kamar, temanmu yang tidak waras itu menyuruhku menjauhimu" celoteh Quirin, tanpa sadar ia sedang mengadu pada Zee
Keduanya bersitatap "aku?, mengadu?, tidak!" bantah Quirin, sambil menunjuk dirinya lalu membuat kedua tangannya seperti tanda silang.
Zee menaikkan alisnya "jika tadi bukan mengadu lalu apa?" tanya Zee tersenyum tipis
"Aku hanya mengatakannya saja bukan mengadu" sarkas Quirin sambil menggelengkan kepalanya, lalu mengalihkan pandangannya lurus kedepan
"Bukankah itu sama saja?, disini aku yang bodoh atau otaknya yang tidak berjalan?" batin Zee heran
Didalam mansion, Max melihat Quirin dan Zee duduk berdampingan, ia berjalan mendekati keduanya "hei, bukankah sudah ku katakan, jangan mendekati Zee!" ucap Max sambil menggeser Quirin agar menjauh dari Zee, lalu Max duduk di tengah-tengah keduanya
__ADS_1
Quirin yang sudah berpindah beberapa meter kini menatap tajam kearah Max "apa kau tidak bisa melihat?, aku duluan yang berada disini, dan tuan muda es mu yang menghampiriku" jawab Quirin dengan kesal
Max yang mendengar itu merasa tidak terima "tidak!, itu pasti karena kau sudah menggodanya!" balas Max dengan menatap Quirin
"Benar-benar menjengkelkan" batin Quirin sambil mengepalkan satu tangannya sambil menutup mata
Max yang melihat kekesalan Quirin tersenyum puas "argh!, aku malas meladeni orang sepertimu, urus orangmu tuan muda, dia benar-benar menyebalkan sekali, bukan!, bahkan berkali-kali!" ucap Quirin sambil menatap Max, lalu ia beranjak dan meninggalkan keduanya
Zee awalnya hanya mendengarkan perdebatan keduanya, melihat Quirin pergi, raut wajah yang awalnya terlihat senang, kini sudah menjadi wajah datar nan dingin "jika lain kali kau menggangguku seperti ini, maka aku akan langsung menugaskanmu ke Afrika" ucap Zee sambil menatap Max dengan tajam, lalu ia berdiri dan meninggalkan Max sendirian di taman itu
Max membelalakkan matanya, ia tidak menyangka Zee akan berkata seperti itu "apa?!, tidak, tidak, jangan lakukan itu!" teriak Max sambil menatap punggung Zee
"Sial, ini semua karena wanita itu, aku benar-benar akan memisahkan Zee dari wanita sepertinya" gumam Max sambil memikirkan sebuah cara
"Sebaiknya aku menghubungi Xeno dan bertanya, apa saja yng telah dia lakukan selama berada disamping Zee" gumam Max sambil mengeluarkan ponselnya lalu mencari nomor Xeno dan menghubunginya
Setelah kedua ponsel itu tersambung, Max tanpa basa basi langsung mencerca Xeno dengan berbagai pertanyaan "Apa kau tau ada wanita yang mendekati Zee?, bahkan sekarang ini wanita itu telah berada dimansionnya, aku bertanya-tanya, selama berada disamping Zee bagaimana kau tidak mengetahuinya?, apa saja yang kau lakukan selama ini?, kau bahkan tidak bisa melindungi Zee dari wanita itu" ucap Max dengan kesal, ia bertanya dan mencela Xeno tanpa tau apa yang telah terjadi.
Xeno yang berada di ujung sana langsung mematikan sambungan ponselnya "dia berbicara seolah dia mengetahui apa yang telah terjadi, benar-benar menyebalkan, lihat saja, jika aku telah sampai di mansion dan melihat dia masih berada disana, maka aku akan mengasah pisau dengan sangat tajam lalu memotong lidahnya itu" gerutu Xeno sambil melihat ponselnya dan menggenggamnya dengan sangat erat
"Ha?, dia langsung mematikan sambungannya tanpa menjawab pertanyaanku?, berani sekali dia" gumam Max kesal
Max mengatur nafasnya dengan baik "baiklah, jika dia tidak bisa melindungi tuan muda, maka aku bisa melindunginya sendiri" ucap Max sambil berdiri dari taman lalu berjalan masuk kedalam mansion
__ADS_1
Bersambung ...