
Vano tengah sibuk mencari obat untuk menghentikan pendarahan Clamy, ia yang sudah mendapatkan obatnya langsung memasukkan obat itu kedalam mulut Clamy secara paksa, lalu membekapnya dengan kuat hingga membuat Clamy meronta-ronta.
"Cih, menjijikkan, jika bukan karena nona Quiran, aku sudah membiarkanmu mati membusuk di sini" kesal Vano sambil menatap Clamy dengan tajam.
Clamy tidak bisa berdebat lagi, wajahnya tampak pucat, ia terkulai lemas melihat bagian tubuhnya dilepas secara paksa.
"Kalian orang gila!, kalian manusia keji!, kalian lebih pantas di sebut iblis!" gumam Clamy dengan pelan dan menatap kakinya dengan tatapan kosong.
"Kau sudah menabrak Xia, dia berada di rumah sakit dan sedang koma, tapi aku melihatmu menikmati kemewahan nona Quirin, siapa yang pantas disebut keji?" ucap Vano sambil menggeretakkan giginya.
"Dia telah merebut Al dariku, jadi dia pantas mendapatkannya" gumam Clamy tetap memaksanya pemikirannya.
"Jawaban yang bagus, kalau begitu aku mengembalikan perkataanmu itu, kau juga pantas mendapatkan hukuman ini karena kami semua melindungi Xia" ucap Vano sambil tersenyum smirk
"Aku tidak akan pernah mengampuni perbuatan kalian" ucap Clamy lagi dengan air mata yang terus mengalir.
Vano tidak memperdulikan perkataan Clamy, ia mengambil ponsel dan menghubungi anak buahnya untuk segera datang kerumah megah itu.
Sedangkan Quiran memasuki kamarnya dan duduk di atas kasur "aneh, kenapa aku bisa bertahan lebih lama?" gumam Quiran sambil melihat-lihat tangannya.
Biasanya, Quiran keluar hanya bertahan beberapa menit saja, tapi kali ini sungguh berbeda "kenapa bisa terjadi?" gumam Quiran lagi.
Seketika senyum Quiran mengembang "bagaimanapun aku lebih suka berada di luar" ucap Quiran sambil menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.
***
__ADS_1
Al membawa Grizel kerumah sakit tempatnya bekerja, ia juga tidak lupa menghubungi Zee dan Xeno untuk segera datang menemuinya.
"Aku tidak menyangka akan bertemu Quiran" gumam Al yang duduk di kursi sambil memegang dahinya.
Zee dan Xeno tiba di rumah sakit, mereka berdua melihat Al tengah duduk dengan kepala tertunduk "ada apa denganmu?" tanya Xeno yang begitu tiba-tiba muncul di hadapan Al.
"Saat di rumah itu, aku tidak sengaja menyebut nama Quiran, tapi saat itu masihlah Quirin asli, tapi dalam sekejap, dia benar-benar berubah menjadi Quiran" gumam Al sambil memegang pelipisnya.
"Apa?!, kau jangan bercanda pada kami, kalau dia berubah menjadi Quiran, maka kau tidak akan baik-baik saja seperti ini" ucap Xeno terkejut.
Al mulai menceritakan kejadiannya pada Xeno dan Zee, saat itu juga mereka terkejut karena Quiran bisa bekerja sama dengan Al.
Pasalnya orang yang memiliki alter ego selalu berpikir untuk membunuh siapa saja yang mengetahui identitasnya, tapi kali ini Al lolos dengan sangat mudah, bahkan dia justru membantu pekerjaan Al yang berpikir untuk menyingkirkan Clamy dalam hidupnya.
Setelah mendengar itu, Zee sedikit curiga "tunggu!, berapa lama kau bersama Quiran?"
Zee dan Xeno saling bertatapan, mereka berlari dengan tergesa-gesa dan meninggalkan Al sendirian di kursi tunggu.
"Ada apa dengan mereka" gumam Al yang tidak mau memikirkan masalah kedua orang itu.
Didalam mobil Zee ingin cepat sampai kerumah itu, ia terus mengkhawatirkan Quirin "sial!, aku tidak menduga Quiran keluar dalam keadaan seperti itu"
"Dia keluar karena Al memanggil nama Quiran dan itu memancing emosi, karena Quirin hanya tau bahwa kau yang mengetahui rahasia nya" ucap Xeno sambil menyetir dengan kecepatan penuh
Setelah menempuh perjalanan jauh, Zee langsung turun dan mendobrak pintu dengan kasar, ia mencoba mencari di seluruh ruangan dan di bantu oleh Xeno.
__ADS_1
Walaupun Xeno sedikit tidak menyukai Quirin tapi bukan berarti dia akan membiarkan Zee kesulitan begitu saja.
Zee membuka pintu kamar Quirin, ia melihat wanita itu tengah tertidur dengan wajah dipenuhi noda darah, Ruangan itu tampak di penuhi oleh aroma darah yang sudah mengering.
Zee bernafas lega, dan mulai melangkah mendekati Quirin "hei, bangun!" ucap Zee sambil menepuk pelan bahu Quirin.
Seketika Quirin terbangun dan menoleh, ia melihat Zee sudah berada di depannya "kau!, kenapa kau masuk tanpa mengetuk?" tanya Quirin dengan kesal.
"Berhenti berbicara, sekarang pergilah mandi, aroma mu sangat tidak sedap untuk dihirup" ucap Zee sambil menutup hidungnya.
Quirin membulatkan matanya, ia kesal mendengar perkataan Zee "apa-apaan kau?, aku ini tidak melakukan apapun, jadi tidak mungkin ... " perkataan Quirin terjeda ketika dirinya melihat seluruh tubuhnya sudah di penuhi darah.
"Quiran!" kesal Quirin
Lalu sedetik kemudian, Quirin menatap Zee dengan tajam, ia mengingat Al memanggil nama Quiran "kau yang memberitahukan keberadaan Quiran pada Al?"
"Apa aku terlihat seperti itu?, kau mengetahui bahwa seluruh pekerjaan ku ini akan menyeret mereka kedalamnya, jadi apapun yang ku lakukan akan diketahui oleh mereka," Zee menanggapi perkataan Quirin dengan santai.
Quirin tampak berpikir dan ia tidak terlihat mengeluarkan emosi, semua yang dikatakan Zee memang benar, jadi ia juga harus mengerti "baiklah, jika hanya orang-orang di sekelilingmu aku akan berusaha untuk mengerti, tapi jangan sampai orang luar mengetahui masalah Quiran" ucap Quirin menghela napas pelan.
Quirin berdiri dan mengambil pakaiannya di dalam lemari, ia tau jika Zee sudah menyiapkan keperluannya.
"Sampai kapan kau berada disitu?, tinggalkan kamar ini!" perintah Quirin pergi meninggalkan Zee sendirian.
"Aku mengkhawatirkannya, tapi dia justru mengusirku" gumam Zee memutar bola matanya dengan malas.
__ADS_1
Bersambung ...