
"Wow, dia sangat mengerikan, tapi jika dilihat dari dekat seperti ini dia jauh lebih tampan," batin Quirin sambil mendongakkan kepalanya menatap lekat wajah Zee.
Zee menurunkan pandangannya dan melihat Quirin, Xeno melihat kearah keduanya, ia masih tidak menyangka Zee tidak menyuruh Quirin pergi dari pangkuannya.
"Jika saja wanita lain yang ada di pangkuannya, maka nyawa wanita itu sudah tidak ada didunia ini lagi" batin Xeno
"Ekhem, ekhem," Xeno berdehem untuk melepas kecanggungan yang ada di dalam ruangan
Setelah keempatnya keluar, Rea dan ayahnya mendengar suara, dan keduanya melihat kearah Zee.
Quirin langsung tersadar dan mulai berdiri dari pangkuan Zee, sedangkan Zee hanya menatap datar dan tidak perduli suara yng ada di belakangnya.
"Kita bisa melanjutkan kerja sama" ucap Zee datar
Keduanya sungguh terkejut, mereka tidak menyangka berkat perkataan Quirin, mereka masih bisa melanjutkan kerjasama.
"Terimakasih tuan muda" ucap tuan Vermilion sambil membungkukkan sedikit tubuhnya, diikuti oleh Rea
"Bicarakan itu pada kekasihku" ucap Zee datar
Tuan Vermilion menatap Quirin "Berkat nona kami masih bisa melanjutkan kerja sama ini, terimakasih nona" ucap tuan Vermilion sambil membungkukkan badannya untuk yang kedua kalinya.
Quirin menatap mereka dan hanya mengangguk saja, biarpun yang menolong lebih muda darinya, tuan Vermilion tidak ragu-ragu untuk membungkukkan badan dan tidak malu untuk berterima kasih.
Tuan Vermilion masih menatap Quirin dengan lekat, ia sangat penasaran dengan wanita yang berdiri disamping Zee.
Sedangkan Quirin juga menatapnya, ia merasa ada yang aneh dengan tatapan tuan Vermilion "ada apa dengannya?, dia menatapku dengan penuh kesedihan" batin Quirin sedikit heran
Zee melihat tuan Vermilion menatap Quirin, ia sangat tidak suka dengan tatapan Tuan Vermilion "Apa ada yang salah dengan kekasihku?" ucap Zee dengan menatap tajam tuan Vermilion
Tuan Vermilion langsung tersadar, ia mengarahkan pandangannya pada Zee "Ah, maafkan saya tuan muda, saya merasa nona itu sangat mirip dengan kerabat saya" ucap Tuan Vermilion mengalihkan pandangan kesembarang arah dan menundukkan kepalanya
Karena teguran dari Zee, Rea menatap sang ayah yang ada di sebelahnya, ia merasa ada yang aneh dengan sang ayah "Tidak biasanya ayah seperti ini" batin Rea
"Aku Mengampunimu kali ini" ucap Zee datar
Quirin tidak ambil pusing, ia tidak memikirkan perkataan tuan Vermilion "Tidak perlu dipikirkan perkataan tuan itu, lebih baik aku berfokus pada balas dendam ini, lalu aku harus membantu memberesi hama yang ada disingapura" batin Quirin
Quirin merasa semuanya sudah terselesaikan "Sepertinya semua sudah selesai, aku akan kembali sekarang" ucap Quirin melangkah keluar
Zee melihat Quirin "sayang duduk lah, kami akan membahas sesuatu" ucap Zee sambil memainkan matanya naik turun untuk menyuruh Quirin duduk
Semuanya yang ada di ruangan itu terkejut, mereka baru kali ini mendengar Zee memanggil seorang wanita dengan selembut itu.
Xeno menatap Zee tidak percaya sedangkan Quirin berbalik dan menatap Zee dengan membulatkan mata karena rasa terkejutnya.
Quirin menetralkan keterkejutannya dan hanya menghela nafas pelan, ia menuruti perintah Zee dan mulai duduk disebelahnya.
__ADS_1
Mereka mulai berdiskusi tapi Quirin hanya mendengarkan semua yang dibicarakan oleh Zee dan tuan Vermilion.
Setelah semuanya selesai, Tuan Vermilion dan Rea pamit undur diri, lalu dipersilahkan oleh Zee dan juga Xeno.
"Nona Rea tunggu" ucap Quirin sambil berlari kecil
Setelah mendengar namanya, Rea dan tuan Vermilion menghentikan langkahnya, mereka membalikkan badan dan melihat Quirin berlari kecil kearahnya.
Zee dan Xeno sedikit heran, karena Quirin mengetahui nama dari putri tuan Vermilion dan sekarang memberhentikan mereka.
Setelah Quirin diantara keduanya, ia langsung bertanya pada tuan vermilion "Aku ingin berbicara dengan nona Rea, bisakah tuan menunggu?," ucap Quirin sopan sambil melihat kearah tuan Vermilion
Rea mendengar ucapan Quirin hanya bisa berpikir "Sepertinya aku tidak membuat kesalahan" batin Rea
Tuan Vermilion terkejut, ia masih tidak mengira jika nona didepannya ini bisa berkata dengan sopan "Bisa nona, saya akan menunggu disini" ucap tuan Vermilion tersenyum
Quirin membawa Rea keluar, mereka berjalan menjauhi ruangan rapat itu. Sambil berjalan Quirin menanyakan hal yang membuat Rea malu "Aku akan berterus terang, apa kau menyukai Xeno?" tanya Quirin datar
Rona merah muncul dipipi Rea, ia tidak tau harus menjawab apa karena orang didepannya ini bisa mengetahuinya dengan cepat "bagaimana nona bisa tau?, aku sangat menyukainya nona, tapi sepertinya dia tidak suka didekati oleh wanita" ucap Rea menghela nafas kasar
Quirin melihat semua gelagat Rea "Saat melihatnya pertama kali, dia sangat berbeda dengan wanita lainnya, pribadi yang baik serta lembut, yang paling utama tidak mengincar Zee ku" batin Quirin tersenyum tipis
Quirin terkejut, ia akhirnya tersadar dengan apa yang telah dipikirkannya "Aku tidak mengatakannya, jadi tidak masalah" batin Quirin santai
"Aku melihat dari gerak gerikmu, jadi aku memutuskan akan membantumu mendekati Xeno" ucap Quirin sambil tersenyum
"Benarkah?, Terimakasih nona" ucap Rea tersenyum senang sambil membungkukkan sedikit badannya.
Keduanya berjalan beriringan, mereka kembali keruang rapat, disana terdapat tiga orang yang menunggu dengan sedikit lama.
"Xeno, tolong antarkan tuan Vermilion dan juga nona Rea " perintah Quirin pada Xeno
Rea yang mendengar itu tersenyum tipis, ia tidak menyangka Quirin benar-benar membantunya untuk berdekatan dengan Xeno.
Quirin melupakan jika Xeno adalah bawahan dari Zee "Maaf nona, saya selalu mendengarkan perintah tuan muda, bukan nona ataupun lainnya" ucap Xeno sedikit lantang
Quirin melihat Xeno dengan datar dan senyum mengerikan terbit dibibir ya, Xeno yang melihat itu sedikit merinding.
Zee melihat kearah Quirin, ia takut Quiran keluar di saat seperti ini, jadi ia langsung menyuruh Xeno untuk menuruti perintah Quirin.
Rea dan tuan Vermilion berpamitan untuk pulang, Xeno menghela nafas panjang, ia dengan segera menemani dan menjadi penuntun jalan untuk tuan Vermilion dan juga Rea.
Zee menatap Quirin yang ada disebelahnya "Bagaimana kau mengetahui nama nona Vermilion?" tanya Zee heran
Quirin tidak memandangi Zee, ia mengalihkan pandangannya dan terfokus pada perabotan yang ada di ruangan itu "Sangat mudah, saat aku jalan, aku melihat di gelangnya terdapat nama dan nama keluarganya" ucap Quirin sambil menaikkan kedua bahunya
"Dia sangat pintar dan juga sangat mudah memahami situasi" batin Zee tersenyum tipis
__ADS_1
"Untuk apa menyuruh Xeno mengantar wanita itu?" tanya Zee lagi
Quirin bangkit dari duduknya dan mendekati rak buku yang tersusun rapi "Itu juga sangat mudah, Rea sangat menyukai Xeno" ucap Quirin acuh tak acuh
"Bagaimana kau tau?, dan untuk apa kau berbicara berdua padanya?" tanya Zee sedikit penasaran
"Itu lebih mudah, aku melakukan itu untuk mengetahui sifatnya, jika sifatnya jelek maka aku akan menjauhkannya dari Xeno, setelah berbicara padanya aku melihat sifatnya yang baik, jadi aku memperbolehkan dia mendekati Xeno" ucap Quirin sambil memegangi buku-buku itu
Zee benar-benar tidak menyangka, Quirin bisa melakukan segalanya, termasuk membaca sifat seseorang melalui sikap yang di tunjukkan, tapi dia tidak senang jika Quirin berdekatan dengan Xeno.
"Kenapa kau sangat baik pada Xeno?" tanya Zee dengan mengubah suaranya menjadi datar
"Dia orang terdekatmu dan aku hanya ingin melindungi orang-orang di sekitarku" ucap Quirin dengan acuh tak acuh
Zee menghela nafas pelan, ia tidak bisa memaksa Quirin menjauh dari orang-orang disekitarnya.
"Bagaimana dengan Keluarga Alister?" tanya Zee dengan tangan yang berdiri tegak di atas pegangan kursi kebesarannya serta genggaman terkepal dan menopang dagunya.
Quirin melihat satu buku yang membuatnya tertarik, ia membuka lembar perlembar buku itu dan tetap menjawab pertanyaan dari Zee "Aku belum mengatasinya, aku menunggu waktu yang tepat" ucap Quirin sambil menunduk karena membaca buku
"Kapan waktu yang tepat itu?," tanya Zee santai
"Entahlah, aku juga tidak tau" ucap Quirin acuh tak acuh, ia sendiri tidak tau kapan waktu yang tepat itu datang padanya.
"Jangan bermain terlalu lama, balas dendam berikutnya masih jauh dari Inggris" ucap Zee santai sambil menatap Quirin
Quirin terkejut mendengar ucapan Zee, ia mengangkat kepalanya dan memandang Zee dengan intens.
"Apa maksudmu?" tanya Quirin dengan rasa penasaran yang tinggi.
"Tidak ada" ucap Zee cuek sambil mengambil berkas di hadapannya dan mulai membuka selembar demi selembar.
Bersambung...
Para pembaca jangan lupa tinggalkan jejak 👇
✓ Favorite
✓ Like
✓ Vote
✓ Gift
✓ Comment
✓ Rate
__ADS_1
Author sangat berterimakasih 🙏