
Melihat Xura memegang tangan Vano, membuat Zee tampak sangat marah. Kini Leva pun mulai mendekati sang anak.
"Apa kau masih tidak bisa memilih?," tanya Leva sambil menepuk pundak Zee.
Zee terdiam dan mulai menunduk, Leva yang melihat sang anak hanya menunduk mulai mengenal nafas dengan kasar "mama sungguh tidak bisa membantumu, kau sudah dewasa, dan kau seharusnya sudah bisa memikirkan masa depanmu sendiri" ucap Leva dengan memutar tubuhnya berlalu pergi dengan raut wajah kecewa.
Zee sempat melihat raut wajah Leva, ia terkejut karena dirinya baru pertama kali melihat wajah kecewa dari Leva.
Tiba-tiba Zee teringat dengan Gilma yang baru saja jatuh dari balkon, ia pun berlari dan diikuti oleh Al dan Xeno.
Mereka melihat Gilma tengah terkapar dilantai dengan darah yang sudah mengelilinginya, Al dengan segera menghubungi rumah sakit, karena mereka tidak bisa mengangkat tubuh itu begitu saja.
Kejadian ini mengingatkan Zee pada pertemuannya dengan Xura, ia juga menemukan Xura dalam keadaan mata tertutup serta tubuh yang bersimbah darah.
Setelah ambulance datang, mereka membantu mengangkat tubuh Gilma, lalu mereka mulai mendorong tempat tidur itu masuk kedalam ambulance.
Al harus ikut masuk kedalamnya, karena dirinya seorang dokter, dan tugas seorang dokter adalah untuk membantu merawat orang yang sakit.
"Aku sangat membenci wanita ini, tapi apa boleh buat, aku harus mengurusnya karena aku tidak boleh melanggar sumpahku" gumam Al dengan pelan sambil menghela nafas dengan pelan.
Sedangkan Zee tidak ingin ikut, kepalanya terasa sangat pusing, karena hari-harinya tengah di penuhi rasa amarah.
"Kalian pergi saja, aku ingin beristirahat di rumah" ucap Zee sambil memasuki mansion nya dan berjalan kearah kamarnya.
"Aku juga tidak ikut, pekerjaanku menumpuk" ucap Xeno sambil memegang dahinya.
__ADS_1
Al berdecak kesal karena mereka tidak ikut, mau tidak mau, ia nanti harus menghadapi Gilma sendirian.
Ambulance itu mulai berjalan dan keluar dari mansion.
Sedangkan Zee yang baru saja sampai di kamar, langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dan tidak terasa ia susah memejamkan matanya.
"Aku ingin mencoba membawa mobil ini, apa kau mengizinkannya Zee?" tanya Gilan sambil tersenyum.
"Tentu saja, kau bebas memakai mobil apapun yang kau suka" ucap Zee sambil tersenyum.
Lalu saat Gilan tengah menjalankan mobil itu, tiba-tiba saja ...
Duarrrr
Suara keras itu terdengar dari mobil yang tengah dikendarai oleh Gilan.
"Kenapa aku selalu bermimpi tentang kejadian itu?" gumam Zee dengan nafas yang tersengal-sengal.
Zee kini menutup wajah dengan kedua tangannya, ia benar-benar merasa bersalah pada Gilan, padahal Gilan adalah orang yang sangat baik.
Saat itu, Zee sedang tidak membawa pengawal, ia pun berjalan sendirian dengan santai, tapi siapa sangka, langkah Zee di cegah oleh beberapa orang berandalan dan saat Zee ingin melawan, tiba-tiba saja Gilan datang dari arah belakang dan langsung memukul para berandalan itu.
Sejak saat itu, Zee berteman dengan Gilan, bahkan Ia juga memperkenalkan Al dan Xeno pada Gilan.
Dan Gilan juga tidak lupa untuk memperkenalkan adiknya yang bernama Gilma pada Al, Xeno dan Zee. Lalu saat Al dan Xeno sedang memiliki pekerjaan, maka Zee pasti akan berkunjung ke rumah Gilan.
__ADS_1
"Maaf, semua ini karena aku" ucap Zee dengan air mata yang mulai menetes.
"Jika saja aku tidak membiarkanmu mencoba mobil itu, maka kau pasti masih berada di sekitar kami" ucap Zee dengan air mata yang terus mengalir.
Zee adalah orang yang sangat lembut, sikap itu hanya di tunjukkan pada orang terdekat saja, ia bisa merasa sedih ketika orang terdekatnya menghilang untuk selamanya.
"Aku sungguh tidak bisa melupakanmu" ucap Zee sambil menghapus air matanya.
Sedangkan Xura sedang menatap layar laptop, ia sedang duduk di taman dengan di temani oleh Vano.
Tapi ketika Xura membuka laptopnya, ia sedikit menjauhkan dirinya dari Vano, karena menurut Xura, melihat cctv tanpa izin adalah hal yang salah. Ia merasa untuk saat ini, hanya boleh dirinya saja yang bisa melihat rekaman itu.
Vano berdiri di bawah pohon, sedangkan Xura tengah duduk di ayunan.
Dari kejauhan, Vano melihat Xura sedang menatap layar laptop, tapi ekspresi yang di keluarkan Xura adalah tatapan sedih.
"Ada apa dengan nona?" batin Vano sambil melangkahkan kakinya mendekati Xura.
Vano yang sangat penasaran mulai mempercepat langkahnya, dan Vano langsung menjatuhkan tubuhnya di samping Xura.
Xura terkejut melihat Vano duduk di sampingnya, lalu Xura pun dengan spontan langsung menutup laptop itu dan ia juga tidak lupa untuk menggeser tubuhnya.
"Menjauh lah Vano, bukankah aku sudah memperingatkan mu untuk tidak mendekati ku saat aku sedang bekerja?" ucap Xura dengan mengernyitkan mata nya.
"Bukan seperti itu nona .... " ketika Vano ingin menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba Vano menoleh kearah Xura.
__ADS_1
Dan ternyata Xura bahkan sudah membulatkan matanya, seketika saja Vano terdiam dan memilih mengalah "baiklah nona, aku akan menjauh" ucap Vano sambil bergerak keluar dari ayunan itu.
Bersambung ....