
Quirin kembali ke kamarnya, ia teringat jika dirinya tidak ikut kerumah sakit, maka ia akan dicurigai oleh Grizo.
"Aku harus menyusul kerumah sakit sekarang"
Quirin dengan segera mengganti pakaian yang sudah disediakan oleh ayahnya, dan memoleskan wajahnya dengan memakai sedikit bedak, dan tidak lupa membawa tas jinjingannya.
Quirin bergerak cepat menyambar kunci mobil yang terletak diatas meja serta berlari kecil menuju kebawah.
Sesampai dirumah sakit, ia pergi ketempat receptionis untuk menanyakan keberadaan Calis.
Quirin menyusuri lorong rumah sakit, ia menoleh kekanan dan kekiri, saat sudah mendapat ruangan Calis, ia langsung masuk serta menutup pintu dengan pelan lalu berdiri sangat jauh dari mereka, ia juga melihat dokter Al sedang memeriksa Calis.
"Tangannya terkena racun, maaf, kami tidak bisa mengobatinya" ucap dokter Al sedikit menyesal
"Apa?!" ucap Grizo yang terkejut sambil menatap dokter Al
Grizo mengalihkan pandangannya pada Calis yang masih kesakitan "Bagaimana kau bisa terkena racun?" tanya Grizo dengan heran
Calis menggelengkan kepalanya "Aku juga tidak mengetahuinya" ucap Calis yang benar-benar tidak tau
Sedangkan Lura sedikit binggung dengan kejadian itu, ia memutar tubuhnya dan melihat didekat pintu Quirin berdiri santai sambil menyandar dinding.
"Kakak dari mana saja?" ucap Lura sambil menanyakan pada Quirin, karena ia sedikit curiga jika semua ini adalah perbuatan Quirin.
Dokter Al, Grizo serta Calis menatap kearah Quirin yang sedang berdiri
"Aku daritadi duduk diluar, bagaimana tangan ibu?" ucap Quirin santai sambil berjalan mendekati mereka
"Tangan ibu terkena racun, tidak bisa disembuhkan kak" ucap Lura pelan dan masih menatap Quirin dengan curiga
Quirin memiliki ide licik yang bisa membuat Calis takut "Bagaimana bisa seperti itu?, siapa yang bermain dengan racun dirumah kita?" tanya Quirin sambil berpura-pura berpikir
"Sepertinya bukan kakak yang melakukannya pada ibu" batin Lura tetap menatap semua pergerakan Quirin
"Ayah, bagaimana kalau kita memeriksa seluruh rumah dan mencari siapa pelaku yang menyakiti ibu?, aku takut jika kita adalah sasaran selanjutnya" ucap Quirin sambil memperlihatkan ketakutannya.
"Benar, kita harus memeriksa seluruh rumah" ucap Grizo sambil membenarkan perkataan Quirin
Calis membulatkan matanya, jika diperiksa maka obat-obatan yang dia beli akan ketauan begitu saja.
"Ti..tidak perlu Quirin, ibu tidak apa-apa, hanya luka kecil" ucap Calis gugup
Quirin tersenyum menyeringai lalu menetralkan ekspresinya, ia sangat senang melihat ketakutan Calis "Apa benar seperti itu ibu?, jika terjadi lagi maka kita harus memeriksa seluruh rumah" ucap Quirin dengan meyakinkan sang ayah
"Aku tidak salah lihat, aku melihat dia tersenyum, tapi senyum itu sangat mengerikan, apa maksud dari senyumnya itu?" batin Calis
Interaksi keduanya tidak luput dari pandangan Grizo, ia sangat bersyukur keduanya sangat akur tidak seperti masa lalu itu.
"Baiklah ayah, kita dengarkan saja perkataan ibu, tapi jika terjadi yang kedua kalinya, maka kita harus memeriksa rumah itu" ucap Quirin dengan tegas.
Calis merasa lega setelah mendengar ucapan Quirin, artinya ia masih bisa melancarkan aksinya untuk membuat Grizo menurut padanya.
"Dokter Al apa benar tidak ada obat untuk menyembuhkan tangan ibu?" tanya Quirin dengan raut wajah sedih
"Aku baru kali ini melihat racun yang bisa menembus kulit, jadi aku tidak bisa mengobatinya" ucap dokter Al menyesal
"Aku permisi dulu" ucap dokter Al memilih pergi dari ruangan itu
"Terimakasih dokter" ucap Quirin sambil bersalaman dengan dokter Al lalu Quirin membisikkan sesuatu yang membuat dokter Al mematung dan dengan cepat melepaskan tangannya dari Quirin.
Grizo melihat dokter Al mematung "Ada apa dokter?" tanya Grizo merasa heran
"Tidak ada, saya permisi" ucap dokter Al dengan wajah pucat lalu pergi meninggalkan ruangan itu
drrrr drrttttt
Ponsel Quirin berdering, tapi ia tidak melihat nama yang tertera di layar ponselnya "Ayah aku keluar dulu mengangkat panggilan" ucap Quirin sambil meninggalkan ruangan
Quirin mengambil ponsel yang ada diatas meja, ia melihat sebuah nama yang tertera dilayar ponselnya "tuan muda es" ucap Quirin heran
__ADS_1
"Untuk apa dia menghubungiku?" ucap Quirin memutar bola matanya malas
"Tuhan, bisakah biarkan hidup ku sedikit lebih tenang?, aku ingin beristirahat sejenak!" ucap Quirin sambil memohon
Quirin menarik nafas dalam-dalam dan mengangkat panggilan itu, ia berharap mendengar ucapan lembut, tapi kenyataan berkata lain ia malah mendapatkan sebuah perintah.
"Segera datang keperusahaanku" ucap Zee dengan datar diujung sana
Quirin terkejut mendengar perintahnya "Tidak, aku ingin beristirahat!" tolak Quirin acuh tak acuh
Saat Quirin ingin mematikan sambungan itu, ia malah mendapat ancaman yang sangat ingin membuatnya kabur dari inggris "melanggar point pertama" ucap Zee langsung mematikan ponselnya
Quirin membulatkan matanya ia sangat terkejut mendengar itu"Hey!,hey!, apa-apaan sih dia!, tolong biarkan aku bernafas sedikit!" ucap Quirin dengan kesal sambil terus berteriak dengan ponselnya
"Tuhan!, bagaimana mungkin hidup ku yang sekarang memiliki banyak hutang" ucap Quirin mendongakkan kepalanya dan memukul kepalanya
"Sial!, Sial!" ucap Quirin terus memukul kepalanya yang kecil itu
Quirin langsung pergi keparkiran dan menuju perusahaan Zee dengan cepat, ia juga tau jika dirinya sudah berkata tidak, maka hutang itu akan bertambah dan ketika ia tetap melakukan tugas itu maka hutangnya hanya berkurang sedikit.
"Huh, jika aku terus marah maka sekarang diwajahku pasti akan muncul guratan-guratan tanda penuaan" ucap Quirin dengan kesal
"Jika saja didalam tubuhku yang lama, maka perubahan ku tidak akan sedrastis ini" ucap Quirin sambil membuat wajah sedih
"Tetapi tidak apa-apa, aku bisa merawatnya seperti dulu, karena aku sudah tidak menginginkan tubuh itu lagi" gumam Quirin
Ia menyetir mobilnya dengan kecepatan penuh, setelah sampai ia masuk kedalam perusahaan dengan gaya yang sangat elegan.
Semua yang ada di perusahaan itu membungkuk hormat, para karyawan dan pengawal di perusahaan Zee tidak ada yang berani menghalangi Quirin, karena mereka tau Quirin adalah wanita tuan mudanya.
Quirin menaiki lift khusus yang hanya digunakan oleh Zee dan Xeno, salah satu karyawan yang baru turun dari lantai atas ingin menghentikan Quirin namun teman disebelahnya malah menghentikan dirinya.
"Kau disini saja!, Jangan macam-macam!"
"Aku tidak macam-macam, aku hanya ingin satu macam saja, yaitu menghentikan dia menaiki lift khusus tuan muda"
"Apa kau tidak tau?, dia itu wanita tuan muda"
Quirin naik kelantai atas, ia ingin masuk kedalam ruangan Zee, tapi Quirin dihentikan oleh wakil sekretaris baru yang menggantikan posisi Bivia.
"Nona, mohon tunggu sebentar" ucap wakil sekretaris sambil berdiri dan menghampiri Quirin
"Nona ini ada keperluan apa?" tanya wakil sekretaris itu sopan
Quirin menatap wakil sekretaris itu dengan mengeluarkan auranya "Aku pacarnya Zee, boleh aku masuk?" tanya Quirin sopan
Wakil sekretaris itu menatap Quirin ia sedikit merinding, lalu memberanikan diri untuk menatap dari atas sampai bawah, ia melihat baju yang sopan dan sesuai membuatnya tidak ragu-ragu untuk mempersilahkan Quirin.
"Sangat mirip dengan tuan muda, aku yakin ini memang pacar tuan muda, sama-sama mengerikan" batin wakil sekretaris itu
"Maaf nona, tuan muda tidak ada di ruangan ini, tapi ada di ruang rapat" ucap wakil sekretaris itu tetap menjawab dengan berwibawa meskipun dirinya sudah sedikit gemetar takut.
Quirin menatap wakil sekretaris itu "kangat cocok bersanding dengan Yvon" gumam Quirin tersenyum tipis
"Mari, biarkan saya mengantar nona" ucap Wakil sekretaris itu
Wakil sekretaris itu berjalan menuju ruang rapat dan diikuti oleh Quirin, ia membuka pintu tanpa mengetuk.
Quirin terkejut melihat banyaknya orang, ditambah melihat para gadis.
Semua orang menoleh kearah wanita cantik yang berdiri didepan pintu.
Salah satu dari pemegang saham terkejut melihat Quirin "Dia...." batinnya
Quirin bisa membaca situasi, ia menarik nafas dan membuangnya perlahan "Sayang?, bagaimana bisa banyak gadis cantik disini?" tanya Quirin tersenyum sambil berjalan mendekati Zee dan duduk di pangkuannya.
"Aku tidak mengetahuinya, para tuan-tuan ini membawa putrinya untuk memberi pelajaran sebagai penanam saham" ucap Zee tersenyum lebar pada Quirin.
Quirin mematung sejenak karena melihat senyum Zee "Tampan!" batin Quirin
__ADS_1
Kedua putri penanam saham itu menatap tajam Quirin, ia menggebrak meja dan berdiri sambil berteriak "Hei perempuan murahan!, jangan mendekati tuan muda, karena sebentar lagi tuan muda akan melakukan kerja sama dan memilih salah satu dari kami sebagi istrinya!" teriakJoy Percy
Putri keluar lainnya juga tidak mau kalah, ia juga ikut berdiri dan berteriak "Benar!, menjauh dari tuan muda!, dasar wanita menjijikkan" teriak Kyra Oswald
Sedangkan untuk Frealyn Vermilion hanya duduk santai sambil melipat kedua tangannya, namun lirikan matanya tertuju pada orang yang ada di belakang Zee.
Quirin melihat ketiga putri itu, ia melihat lirikan mata itu tertuju pada Xeno, Quirin tersenyum tipis melihat salah satu putri itu sangat berbeda dari kedua putri penanam saham lainnya.
"Aku ingin melihat ekspresi yang lucu itu lagi" batin Quirin tersenyum smirk
"Untuk apa aku menjauh?, dia ini pacarku" ucap Quirin sambil mengalungkan tangannya ke leher Zee, ia akan membuat drama yang lebih seru, kerena Quirin sangat menyukai ekspresi kedua gadis itu.
"Kau!" terak Joy
"Pa, bagaimana ini?" rengek Kyra pada
Kedua orang tuanya hanya diam, mereka tidak tau harus berbuat apa, karena tuan muda adalah penguasanya, mereka secara sengaja membawa putri mereka agar tuan muda bisa tertarik dan memilih salah satunya, tapi kenyataannya sekarang tuan muda tidak menolak wanita yang duduk di pangkuannya.
Zee sedari tadi hanya menatap datar dan dingin, sedangkan Xeno sangat terkejut melihat Quirin sangat berani menyentuh Zee seperti itu.
Xeno menggelengkan kepalanya "Ingat, dia sangat berbeda pada Quirin, jadi kau tidak perlu terkejut Xeno" batin Xeno sambil menggelengkan kepalanya pelan
Pergerakan Xeno tidak luput dari Rea, ia tertawa kecil melihat ekspresi Xeno yang membulatkan mata karena perbuatan Quirin, lalu sekarang ia melihat Xeno menggelengkan kepala.
"Dia sungguh lucu" batin Rea sambil menutup mulutnya dewan satu tangan
Pergerakan Rea juga tidak luput dari pandangan Quirin "aku akan mengetes mu nanti, jika kau sama seperti wanita lainnya maka aku akan menjauhkan mu dari Xeno" batin Quirin sambil menatap Rea dengan tajam
Quirin sangat tidak suka orang disekitarnya berdekatan dengan wanita ataupun pria yang materialistis ataupun hanya ingin menjadikan orang terdekatnya iru sebagai batu loncatan untuk menaiki diri kepuncak.
"Huh, aku sangat benci wanita seperti ini, lihat saja, aku akan membuat kalian kepanasan seperti lintah terkena siraman garam" batin Quirin
"Kalian keluarlah, aku tidak ingin melihat kalian di hadapanku, aku akan mencari penanam saham yang baru" ucap Zee datar
"Tu...tuan muda, tidak bisa seperti itu, kita telah lama bekerja sama" ucap tuan percy yang terlihat panik
"Benar tuan muda, tuan muda tidak bisa melakukan ini pada kami" ucap tuan Oswald
Untuk tuan Vermilion sendiri, ia hanya diam tanpa membantah "Baiklah tuan muda, saya dan putri saya akan pergi dari sini" gumam tuan Vermilion sambil beranjak dan diikuti oleh putrinya, ketika mereka membalikkan badan seseorang menghentikan langkah kaki mereka
"Tunggu" ucap Quirin
Semua orang menoleh dan melihat kearah Quirin "Kalian berdua bisa duduk disini, sisanya keluar" ucap Quirin datar lalu berubah manja kembali pada Zee
Joy mengeram marah, ia sangat iri dengan wanita didalam pangkuan zee, ia sangat ingin membuat Quirin malu "Kau bukan siapa-siapa disini, jadi pergi dari ..." teriak Joy
"Dengarkan perkataannya" ucap Zee dengan mantap tajam kearah Joy
Semua orang begitu terkejut, dan mereka tidak habis pikir, boss perusahaan ini siapa?, mereka bertanya - tanya diri sendiri.
"Tapi tuan, bagaimana dnegan kerja sama kita?" tanya tuan percy
"Tidak ada kerja sama" ucap Xeno dengan datar sambil mengusir keempatnya
Bersambung....
Para pembaca jangan lupa tinggalkan jejak 👇
✓ Favorite
✓ Like
✓ Vote
✓ Gift
✓ Comment
✓ Rate
__ADS_1
Author sangat berterimakasih 🙏