Another Person Life

Another Person Life
Permainan Quirin dan Quiran


__ADS_3

Zee yang mendengar itu hanya diam dan tidak berbicara apapun, namun di dalam hatinya, Zee cukup senang mendengar perkataan Quiran.


Sedangkan Grizo hanya bisa terduduk di lantai, ia tidak tau harus berbuat apa, fakta yang ada di depan mata membuatnya merasa begitu terpukul.


Quiran tidak melihat reaksi apapun dari Zee, ia pun dengan segera melihat ke belakang dan tersenyum ketika melihat Grizo terduduk di lantai "untuk apa kau terduduk di sana?, kau menyesal?, itu tidak perlu ... anak yang sangat kau sayangi masih berada di sudut sana, kau tidak ingin menyapanya?," ucap Quiran sambil melirik kearah Grizo.


Grizo diam tertunduk seperti patung, ia pun mulai memberanikan mengangkat wajahnya dan mulai menoleh kearah Lura.


Quiran lagi-lagi melirik kesana kemari, setelah mendapatkan apa yang diinginkannya Quiran tersenyum lebar dan mulai melangkahkan kakinya dengan lebar.


Lura terus membenarkan wajahnya diantara kedua lutut, ia tidak berani mengangkat wajahnya lagi.


Rasa takut terus terbayang di pikirannya, seluruh tubuhnya bahkan ikut gemetar hebat.


Quiran mengambil sebuah besi panjang dan langsung melempar kearah Lura dengan kekuatan penuh.


Takkkkk


"Arghhhh"


Lura tersentak kaget dan ia langsung terjatuh sambil memegang kepalanya.


Grizo yang melihat itu melototkan matanya dan langsung melihat kearah Quiran.


"Ups ... tanganku licin" ucap Quiran dengan wajah polos.


Lain daripada yang lain, pria-pria tampan itu justru memutar bola mata mereka dengan malas. Mereka seolah telah terbiasa dengan kelakuan Quiran.


"Wajahnya sungguh menyebalkan" batin Arnius.


"Bagaimana kehidupanku nanti jika tuan muda menikah dengan wanita itu?" batin Staren.


"Semoga aku tidak terlibat dengan wanita tidak waras itu lagi" batin Al.

__ADS_1


"Dengan cara apa dia membalas ku?" batin Xeno sedikit ketakutan.


Lura meringis kesakitan sambil memegang kepalanya, ia menangis dan tidak menyangka jika Quiran melemparnya dengan besi.


Lura bahkan semakin takut sejak Quiran memperkenalkan dirinya. Ia tidak menyangka bahwa dirinya kini berhadapan dengan alter ego.


Ia bahkan meringkuk dengan tubuh gemetar, rasa sakit itu seolah ditusuk oleh ribuan jarum.


"Sakit" batin Lura sambil menangis.


"Kau kesakitan?, itu bahkan tidak sepadan dengan apa yang telah kau lakukan pada Quirin" ucap Quiran sambil melangkah melewati Zee dan berjongkok di hadapan Lura.


"Quiran, dia tidak bersalah padamu, jangan lakukan apapun padanya!" teriak Grizo dengan menyebut nama Quiran.


"Tidak bersalah?, hei ayah bodoh, apa kau tidak menemukan kejanggalan disini?" ucap Quiran sambil menoleh kearah Grizo.


"A-apa?!"


"Sejak awal dia selalu berteriak keras, apa kau tidak mengerti apa kau memanglah orang bodoh?" tanya Quiran dengan santai dan tersenyum lebar.


Grizo menatap tidak percaya kearah Lura, tatapan kecewa terukir jelas di wajahnya.


Sedangkan Quiran yang melihat tatapan itu justru tertawa keras. "Haha ... Bukankah kau pantas di sebut ayah yang bodoh?, kau bahkan tidak tau bahwa anak haram ini terus menyiksa anak kandungmu" ucap Quiran di sela tawanya.


Perkataan Quiran mampu membuat semua orang menatap tidak percaya, bagaimana bisa anak yang lemah itu menyiksa kakaknya?.


Tersebar rumor bahwa anak kedua dari Alister memiliki tubuh yang sangat lemah, bahkan saat Lura keluar, ia terus memasang topeng itu sehingga Lura bisa mendapat rasa simpati dari orang-orang.


Lura yang mendengar itu langsung bangkit dan menatap kearah Grizo "ti-tidak ayah, tubuhku memang lemah, bahkan kakak terus saja menyiksa ku" ucap Lura dengan ketakutan.


Sekarang ini, ia bahkan berpikir bahwa Grizo adalah tempatnya bersandar.


"Wah wah wah ... bukankah itu perkataan yang bagus?, menyiksamu?" ucap Quirin sambil menempatkan jari di dagunya.

__ADS_1


Quiran langsung berdiri dan mengambil besi yang sudah di lemparnya tadi.


Bukkkk


"Arghhhh"


Lura kembali berteriak, kali ini Quiran memukul Lura di bagian tubuhnya. Sakit?, sudah pasti. tapi lira sendiri tidak menyangka bahwa Quiran memukulnya dengan benda yang sama.


"Apa teriakan itu berasal dari tubuh yang lemah?, lagi pula, aku mengembalikan apa yang sudah kau lakukan pada Quirin" ucap Quiran sambil menaruh besi panjang itu di pundaknya.


Quiran menoleh kearah Grizo, tampak Grizo semakin tidak percaya dengan perkataan Quiran.


"Lagi-lagi kau membuat ekspresi menyebalkan itu, aku akan bercerita sedikit, tapi aku berdoa, setelah aku menceritakan ini, semoga saja kau tidak mati" ucap Quiran berterus terang.


"Sejak kecil, anak yang kau banggakan ini bahkan dengan berani membusungkan dadanya di depanku, dia sangat bangga karena kau lebih memperhatikannya di banding Quirin. Ketika berada di sekolah yang sama, dia mulai menghasut orang-orang terdekat Quirin untuk menjauhi nya. Dia juga mengatakan pada guru bahwa ketika ujian aku selalu menulis jawaban di kertas kecil dan menconteknya. Dan akhirnya guru percaya dengan apa yang telah dia katakan karena ketika guru memeriksa tas Quirin, ternyata didalamnya terdapat banyak kertas kecil. Lalu ketika guru memanggil ayah bodoh ini"


Quiran bercerita sambil menunjuk kepala Lura dengan besi yang ada di tangannya. Ia bahkan menghentak-hentakan kepala Lura dengan besi itu.


Ketika ada sebutan ayah, Quiran langsung menggerakkan besi itu pada Grizo.


"Ayah bodoh ini bahkan langsung percaya dengan omongan pada guru dan sama sekali tidak bertanya Quirin. Dia dengan amarah tidak jelas itu menyeret tangan Quirin dengan kasar dan langsung membawanya pulang kerumah. Saat berada di rumah dia memasukkan Quirin kedalam gudang ini dan bahkan mengambil sebuah kayu lalu memukul tangan Quirin"


Grizo yang mendengar itu merasa terkejut, ternyata dibalik kejadian itu, terdapat sebuah rahasia yang sama sekali tidak di ketahui nya.


"Dia mengatakan bahwa dirinya malu mempunyai anak seperti Quirin, lalu dia juga meninggalkan Quirin dengan keadaan tangan berdarah. Dia ayah yang baik untuk anak haram nya, tapi dia ayah yang sangat buruk untuk anak kandung nya!"


Grizo mulai meneteskan air matanya, ia bahkan sudah tertunduk malu karena orang yang sekarang menonton adalah investor dari perusahaannya.


Jay yng mendengar itu bahkan lebih terkejut, ia tidak menyangka, masa kecil Quirin begitu sangat menyedihkan.


"Kakak" gumam Rea dengan meneteskan air matanya.


Bahkan para pria tampan itu hanya bisa menggelengkan kepala saja, mereka bahkan sudah tidak bisa mengeluarkan ekspresi apapun lagi, karena sejak permainan Quirin dan Quiran di mulai, maka sejak itu pula segala ekspresi telah mereka keluarkan.

__ADS_1


Quiran menoleh kearah para pria itu, ia sangat tau tatapan apa yang mereka keluarkan "kalian tidak perlu memasang ekspresi seperti itu, itu hanya cerita lama yang telah berlalu, aku hanya ingin ayah bodoh ini tahu tentang kebenaran itu, agar ketika Quirin meninggalkannya, maka beban di hatinya kan berkurang" ucap Quiran sambil tersenyum lebar.


Bersambung ...


__ADS_2