Another Person Life

Another Person Life
Perjuangan Alica dan Max


__ADS_3

"A-apa ini?!" teriak Alica sambil menutup mulutnya dengan dua tangan.


Max bahkan tercengang melihat kamar itu yang begitu sangat berantakan bahkan terdapat beberapa obat-obatan yang begitu banyak, disertai botol minuman keras.


Keduanya pun masuk dan melihat kamar itu dengan mulut tercengang, mata alica tidak tertuju pada lantai yang memilik bercak merah.


Alica yang merasa curiga mulai berjongkok dan ia pun memegang lantai itu dengan satu jari lalu mencoba menghirup aroma tersebut.


Tubuh Alica mulai teras kaku, tapi Alica berusaha untuk tetap fokus mengenai masalah tuan mudanya "Tuan!, ini aroma darah, kita harus pergi mencari tuan muda!" teriak Alica sambil melihat kearah Max.


Max yang masih melihat obat-obatan itu sontak saja menoleh kearah Alica "Oh, sial!" teriak Max dengan mata melotot.


Keduanya langsung berlari, dan Alica kembali menutup pintu kamar Zee.


Alica bahkan dengan berani langsung menerobos masuk kedalam mobil Max, sedangkan Max dengan segera membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Bantu aku mencari lokasi Zee" ucap Max sambil memberikan ponselnya pada Alica dan ia mencoba untuk fokus menyetir.


Alica tampak tidak gugup sama sekali, ia bahkan dengan fokus mencari lokasi Zee.


Alica terus menggerakkan jari-jarinya di atas layar ponsel Max, setelah menemukan Zee Alica tampak tersenyum tipis "Tuan muda berada di perusahaan keluarga Oswald, tuan" ucap Alica dengan terus menggerakkan jarinya tanpa henti.


"Apa kau yakin?" ucap Max sambil mengernyitkan dahinya, karena Max sangat tau bahwa Zee tidak pernah mau datang ke perusahaan lain, jika itu pertemuan maka akan dilakukan di dalam perusahaannya atau juga bertemu di cafe.

__ADS_1


"Lihat," ucap Alica sambil memperlihatkan layar ponsel itu pada Max.


Benar saja, Zee berada di perusahaan itu, sedangkan Max justru terlihat kebingungan.


"Kita harus cepat tuan," ujar Alica yang terus mendesak Max untuk melajukan mobil itu agar semakin cepat.


"Sabar Alica, aku juga sedang berusaha" ucap Max sambil memfokuskan diri dan menarik nafas dalam-dalam.


Lalu Max menekan pedal gas dan mobil nya kini tengah melaju dengan cepat, Alica bahkan sudah mempersiapkan dirinya, ia memegang sebuah pegangan yang ada di atas kepalanya.


Setelah sampai di perusahaan Oswald, keduanya langsung masuk dan bertanya pada resepsionis.


Satu dari dua pegawai receptionis itu menghubungi bagian keamanan lalu para keamanan datang dan menghadang Max dan Alica.


"Tuan, kalian di larang masuk" ucap para penjaga itu.


Alica terkejut mendengar pernyataan kedua par penjaga itu, ia pun membuka ponsel Max untuk memastikan kembali lokasi Zee.


Alica mendekati Max dan mulai berbisik "Tuan, mereka sungguh membuatku curiga, lokasi tuan muda tepat berada di sini" ucap Alica dengan pelan.


Max yang mendengar itu pun langsung mengangguk sekali, lalu keduanya saling pandang memandang, mereka yang tidak memiliki rencana apapun langsung mengangguk secara bersamaan.


Alica dan Max secara bersamaan menendang para penjaga yang sedang menghadang mereka.

__ADS_1


Max bahkan terkejut melihat Alica bisa menendang penjaga itu dengan sangat kuat, bahkan di mata Max, Alica terlihat begitu sangat cantik.


"Sejak kapan dia bisa melakukan beladiri?" batin Max yang merasa tidak percaya.


"Tetap fokus tuan, musuh di depan sangatlah banyak" ucap Alica sambil melihat di sekelilingnya.


Keduanya sudah di kelilingi para keamanan keluarga Oswald, Alica mulai menghirup udara dengan kasar lalu membuangnya perlahan.


Ia berlari dan menghajar para keamanan itu tanpa ragu, sedangkan max tidak ingin kalah dari Alica, ia juga bertarung dengan keras sampai para keamanan itu tidak bisa bangkit kembali.


Para wanita yang ada di dalam perusahaan itu justru berteriak ketakutan, mereka tidak menyangka untuk menghadang dua orang saja membutuhkan para keamanan yang sangat banyak.


Tapi, dengan jumlah yang sangat banyak itu bahkan masih belum bisa mengalahkan kedua orang itu.


Setelah selesai, Alica dan Max langsung berlari kearah resepsionis, wajah mereka berdua bahkan terlihat sangat menyeramkan, dan kedua wanita yang ada di resepsionis itu pun langsung memberikan lokasi di mana Zee berada.


Mereka berdua dengan cepat menuju lantai atas, bahkan mereka memilih berlari daripada menunggu lift.


"Sial!, semoga tidak terjadi apa-apa denganmu" gerutu Max dengan keringat yng sudah membanjiri wajahnya.


Sama seperti Alica, ia juga berharap majikannya itu baik-baik saja, "aku mohon tuan muda, bertahanlah sedikit lagi, kami akan segera menolong mu" batin Alica sudah terengah-engah.


Keduanya sungguh berjuang keras, walau mereka tidak tau apa yang tengah terjadi pada Zee, tapi dari keadaan yang sedang mereka hadapi, bisa di artikan sendiri bahwa memang ada yang tidak beres dengan perusahan itu.

__ADS_1


Apalagi sekarang Zee bahkan bepergian sendiri tanpa ada yang menemaninya. Setelah melihat kamarnya dan dengan situasi Zee sekarang, membuat Max semakin menghawatirkan keadaan Zee.


bersambung ...


__ADS_2