Another Person Life

Another Person Life
Penderitaan Wiliam


__ADS_3

"Sial!, sakit sekali!, bagaimana bisa nona yang dulunya lemah justru sekarang mempunyai kekuatan sebesar ini?" batin Wiliam sambil menutup matanya karena menahan rasa sakit yang ia terima, lalu wiliam membuka mata perlahan.


Wiliam mulai menatap Quirin dengan tajam, jika dilihat dari pancaran mata itu. Wiliam terlihat sangat marah, ia memegang kaki Quirin lalu mencoba mengangkat dan menyingkirkan kaki itu dari atas tubuhnya.


Namun sayang, Wiliam tidak mampu mengangkat kaki Quirin serta diluar dugaannya, kekuatan yang ia punya jauh lebih lemah dari Quirin sehingga Wiliam hanya bisa pasrah oleh keadaan.


Quirin tersenyum sinis melihat kilatan amarah di mata Wiliam "dulu kalian selalu menyiksaku dengan berbagai alasan, sekarang kita bertukar posisi, bagaimana rasanya di siksa?, apakah kau menikmatinya?" ucap Quirin datar sambil memutar-mutar tumit serta menekannya diatas dada Wiliam.


Engghhhh


"Nona berubah menjadi sangat kejam, ini benar-benar menyakitkan" batin Wiliam mengeluarkan cairan benar dari mata, ia benar-benar sudah tidak bisa menahan rasa sakit didadanya.


"Bagaimanapun caranya aku harus lepas dari cengkraman nona, aku tidak ingin mati disini, karena Calis dan Lura pasti sedang menungguku" batin Wiliam


Quirin tidak terpengaruh dengan air mata yang di keluarkan oleh Wiliam, ia justru hanya melihat dan tersenyum sinis "keluargamu itu benar-benar menjengkelkan, kalian ingin menyingkirkanku demi membuat anak haram itu menjadi pewaris?, kalian sangat berani bermimpi, bahkan mimpi itu setinggi langit, tapi apa kalian pernah berfikir jika suatu hari nanti aku akan melawan?, sepertinya kalian tidak memikirkan hal itu. selama ini aku sengaja diam karena tidak ingin membuat keributan, tapi ternyata aku salah, justru aku harus melawan dan menghadapi kenyataan bahwa kalian akan menyingkirkanku" geram Quirin sambil menekan tumitnya lebih kuat.


Emmm


Wiliam merasakan sakit luar biasa, ia tidak bisa berbuat apapun karena tangan kiri yang menjadi andalannya seakan tidak bisa digunakan akibat dari benturan keras yang sebelumnya menghantam dinding.


Wiliam tidak terbiasa menggunakan tangan kanan sehingga kekuatan itu begitu jauh berbeda dari tangan kiri.


Sambil menahan rasa sakit, wiliam pun memikirkan ucapan Quirin "jadi nona tau tentang rencana kami?, tapi apa alasan nona diam selama ini?" batin Wiliam tidak mengerti.


Quirin berdecak kesal melihat Wiliam mematung "ck, jangan terlalu banyak berpikir paman, karena kau pasti tidak akan menemukan jawabannya" ucap Quirin sambil menurunkan kakinya ke bagian perut Wiliam lalu menekannya dengan kekuatan penuh.


Engghhhh


Uhuk uhuk uhuk


Perut wiliam seakan tidak bisa menerima tekanan dari luar sehingga membuat semua daun yang ada didalam mulut Wiliam berhamburan keluar dan membuatnya terbatuk-batuk, Quirin tidak menyia-nyiakan waktu, ia dengan cepat mengambil tangan kanan Wiliam lalu menariknya dengan paksa.


Quirin menggenggam tangan kanan Wiliam dengan sangat kuat, lalu ia menariknya kesudut taman, disana terdapat gubuk tempat penyimpanan peralatan taman.


Wiliam diseret seperti hewan peliharaan, seluruh tubuhnya kotor seperti gelandangan, Wiliam mengeram marah karena di perlakukan dengan tidak tidak layak, ia ingin berteriak tapi dirinya mengingat akan ancaman Quirin yang akan melempar sebuah pot besar kewajahnya.

__ADS_1


Jika dia benar-benar berteriak entah apa yang akan terjadi padanya, dan ia juga yakin Quirin tidak bermain-main dengan kata-katanya sendiri karena ia sudah melihat betapa kejam Quirin sekarang. untuk itulah ia menahan diri untuk tidak mengambil resiko sebesar itu.


Ia hanya mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Quirin tanpa mengeluarkan suara, namun siapa sangka Quirin justru menariknya dengan paksa sehingga Wiliam selalu tersungkur ketanah "jika tebakanku benar, bukankah paman datang kesini untuk menemui bibi dan memberitahukan padanya bahwa orang yang paman sewa tidak ada kabar sama sekali dan mereka semua tidak bisa di hubungi, apa aku benar?" tanya Quirin sambil menyeret Wiliam


Wiliam membelalakkan matanya, ia bertanya-tanya, bagaimana Quirin bisa mengetahuinya?, karena sedaritadi dia mendengar kata-kata yang sangat tidak boleh di ucapkan siapapun, hal itulah yang membuat Wiliam lupa akan tujuannya datang kerumah Alister.


Wiliam berpikir keras "benar, aku melihat nona baik-baik saja, tapi orang yang aku sewa tidak bisa di hubungi, jangan-jangan ... " batin Wiliam sambil melihat keatas


Tanpa menoleh Quirin bisa menebak isi pikiran Wiliam "tepat sekali!, aku sudah membunuh mereka" ucap Quirin sambil tersenyum smirk sambil menguatkan genggamannya.


"Membunuh?, di usianya yang masih muda, non bisa membunuh orang?" batin Wiliam semakin tidak percaya


Ia berpikir orang didepannya ini sungguh sangat berbahaya dan harus memberitahukannya kepada Calis.


"Genggamannya sangat menyakitkan, jika saja tangan kiri ini bisa di gerakkan maka aku bisa melawan dan kabur dari sini" batin Wiliam sambil menahan sakit


Setelah sampai di gubuk itu, Quirin membuka pintunya dengan kasar lalu ia melempar Wiliam dengan kuat sehingga membuat Wiliam tersungkur.


"Sial!" umpat Wiliam sambil mencoba duduk


"A-pa yang akan nona lakukan?" tanya Wiliam takut


Quirin memutar tubuhnya melihat disekelilingnya, disana terdapat peralatan taman yang sangat banyak, mulai dari sekop, cangkul, garpu taman dan gunting taman.


Quirin memunggungi Wiliam yang sedang duduk di tanah, ia tersenyum smirk memikirkan siksaan yang akan di berikan pada Wiliam.


Lalu Quirin menoleh kekiri, tidak sengaja Wiliam melihat senyum mengerikan yang terbit di bibir Quirin, ia seakan memiliki firasat buruk tentang senyum itu "ada yang tidak beres, aku harus kabur" batin Wiliam


Wiliam menatap Quirin dengan hati-hati lalu bangkit perlahan tanpa menimbulkan suara, setelah berhasil berdiri ia melangkah dengan pelan kearah Quirin.


Ketika ingin membekap mulut Quirin, ternyata tangan Wiliam sudah dicegat terlebih dahulu "paman, aku sudah katakan ini tidak secepat yang kau bayangkan" ucap Quirin sambil memutar tangan Wiliam lalu menendang perutnya.


Arghhhhhhh uhuk uhuk


Wiliam berteriak kesakitan dengan batuk yang mengeluarkan darah, Quirin yang melihat itu tersenyum senang "bagaimana rasanya?, ini belum apa-apa karena yang lebih menyakitkan sudah menunggumu" ucap Quirin sambil mengambil garpu taman

__ADS_1


Quirin bergerak dan mengambil salah satu benda pembersih taman "kau lihat ini?, bukankah ini bisa membersihkan dosa yang ada di tubuhmu?" tanya Quirin sambil memperlihatkan benda yang ada di tangannya.


Wiliam terkejut melihat benda yang ada di tangan Quirin "singkirkan itu!, apa yang kau lakukan nona" teriak Wiliam dengan keringat yang sudah bercucuran di dahinya.


Quirin berdecak kesal "CK, paman, kau menyakiti telingaku" ucap Quirin sambil memegangi telinga.


Wiliam tidak bisa berpikir lagi, satu satunya cara adalah memohon agar Quirin bisa melepaskannya "nona, aku mohon lepaskan aku, jangan lakukan ini" ucap Wiliam memohon agar bisa lolos dari cengkraman Quirin


"Aaiia ... paman, jangan memohon padaku karena itu sia-sia, aku hanya membalas perbuatan kalian saja, apa itu tidak boleh?" tanya Quirin dengan mata seakan ingin keluar dari tempatnya.


Wiliam semakin takut untuk berbicara, ia bahkan masih belum menyangka jika Quirin sudah berubah 180 derajat "no-na, aku mohon, jangan lakukan itu, tolong maafkan aku" ucap Wiliam sambil mencoba menggerakkan tangan dan menempelkan kedua telapak tangannya menjadi satu.


"Oho ... paman, bukan kah itu tidak adil?, aku menerima penyiksaan kalian selama hidupku ini, sedangkan kalian tidak terima jika aku menyiksa balik ... " ucap Quirin menggantungkan perkataannya


Quirin mendekati Wiliam sambil melotot sempurna "jelas aku tidak terima paman!!" lanjut Quirin langsung menancapkan garpu taman itu di salah satu paha Wiliam.


Aarghhhhhh


Wiliam yang sangat sadar terkejut dan berteriak keras, ia tidak sempat menghindar karena Quirin melakukannya secara tiba-tiba.


Cairan kental berwarna merah keluar dari sela-sela garpu taman, Wiliam yang melihat itu tidak kuasa menahan air matanya.


Ia masih tidak percaya jika alat yang di pakai untuk membersihkan taman kini menempel di salah satu anggota tubuhnya.


Seakan tidak perduli, setelah mendengar teriakan memilukan itu, bukannya menarik garpu taman keluar, Quirin justru menekan alat itu semakin dalam lalu menyeret garpu itu dengan paksa sehingga membuat luka yang baru saja dibuat semakin terbuka lebar serta menunjukkan daging kaki Wiliam.


Arrghhhhhh


Wiliam meringis kesakitan, cairan bening terjatuh dengan sangat deras serta kedua tangan dengan cepat bergerak untuk memegang kakinya.


"Kau mengira aku mendengarkan perkataanmu?, bodoh!" ejek Quirin tersenyum smirk sambil menarik garpu taman itu keluar dari kaki Wiliam.


Arghhhhhh


Wiliam menangis seperti layaknya anak perempuan, Quirin seakan tidak jijik melihat banyaknya darah disekelilingnya "seperti ini penderitaan yang akan kau terima dan ini masih belum berakhir paman" ucap Quirin tersenyum mengejek

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2