
Ting
Quirin yang sedang memegang ponsel langsung membuka pesan itu, mata yang terlihat lelah itu langsung terbuka dengan sangat lebar
[Datang kerumah sakit secepatnya]
Dengan spontan Quirin melempar ponselnya diantar tempat tidur, lalu dengan tergesa-gesa ia berlari kearah lemari dan mengganti pakaiannya secepat kilat.
Setelah selesai, Quirin membuka pintu dan melihat Lura dan Beymi masih terduduk disana "Saat aku pulang nanti, jangan sampai aku melihat wajah kalian lagi didepan pintu kamarku" Quirin mengatakannya dengan tatapan tajam, lalu ia meninggalkan keduanya dan berlari dengan sangat cepat.
Lura terlihat menggeretakkan bibirnya, ia sangat tidak terima dengan penghinaan yang dilakukan oleh Quirin "Beymi, bagaimana sekarang?, aku tidak tau harus berbuat apa, kakak sudah banyak berubah. Dia bahkan tidak mudah kita tindas seperti sebelum nya" gumam Lura sambil mengepalkan kedua tangannya.
Beymi tampak berpikir keras, walau Lura adalah anak haram, tapi dalam hal genting seperti ini, mereka masihlah bisa bekerja sama "nona, aku memikirkan sebuah rencana. Aku akan membantumu, tapi kalian juga harus membantuku, bagaimana nona muda?," tawar Beymi sambil menoleh dengan memperlihatkan wajah paniknya.
"Baik, tapi apa yang harus kita lakukan?," ucap Lura sambil menoleh kearah Beymi.
Beymi dengan berani mengatakan rencananya didepan Lura. Ia juga mengatakan seluruh rencana itu dengan sangat detail.
Lalu keduanya tertawa sambil tersenyum licik, mereka bahkan sudah berangan-angan jika rencana itu pasti akan berhasil.
***
Sedangkan di ditempat lain, Grizo sudah menyeret Calis keruang bawah tanah tempat dimana Jean meninggal.
Calis yang melihat sekeliling ruangan itu merasa ketakutan "jangan lakukan ini padaku, aku tidak pernah mengkhianatimu!, percaya padaku!, aku sangat mencintaimu!" Calis memohon dengan berderai air mata.
Grizo menatap tajam wanita yang sedang bersimpuh dibawah kakinya "betapa bodohnya aku, selama ini aku menyia-nyiakan anakku dan memberikan kasih sayangku pada anak orang lain, kalian benar-benar tidak tau malu!, aku tidak akan pernah mengampuni mu!" teriak Grizo dengan marah.
Calis terkejut mendengar teriakan menggelegar itu, tubuh Calis kembali bergetar hebat, tapi ia menepis ketakutannya "ti-tidak, video itu tidak nyata, tolong percaya padaku" Calis terus berusaha memohon. Tapi usahanya sungguh sia-sia.
Grizo dengan langkah besar mengambil tali dan langsung melayangkan mencambuk itu di tubuh Calis.
Arghhhh
"Tolong percaya padaku!, Lura adalah anak kandungmu, video itu hanya rekayasa yang dibuat oleh Quirin!" teriak Calis dengan menahan sakit di tubuhnya.
Tapi sayang, Grizo bahkan tidak mendengarkan perkataan yang di lontarkan oleh Calis, kali ini Grizo dikuasai oleh api amarah, ia dengan geram melampiaskan nya dengan mencambuk tubuh Calis yang selama ini begitu ia cintai.
__ADS_1
"Ini hukuman untukmu karena sudah mengkhianati kepercayaan ku" teriak Grizo amarah mengebu-ngebu.
Arghhhh
Calis berteriak sangat keras, tapi Grizo justru semakin menambah cambukan nya "sialan!, aku akan membalasmu Quirin!" batin Calis sambil menggeretakkan giginya.
Setelah Arcy meninggal, ia memutuskan untuk mencurahkan cintanya pada Calis, tapi sayang, semua itu hanya cinta sepihak saja, sedangkan Calis justru mencintai harta yang di miliki Grizo tanpa mengetahui siapa pemilik asli harta itu.
Grizo terus melayangkan cambukan itu hingga membuat Calis pingsan, setelah melihat tubuh itu terjatuh, Grizo melempar talinya ke sembarang arah dan langsung keluar dari ruangan tanpa menoleh kebelakang.
Tatapan itu tampak begitu kosong dan sebelum pergi Grizo tidak lupa mengunci pintu itu.
...****************...
Quirin memarkirkan mobilnya dan setelah sampai dirumah sakit, ia berlari dengan tergesa-gesa, bahkan dengan paniknya Quirin memencet tombol lift berkali-kali "sial!, lift ini Lambat sekali, aku tidak sabar ingin bertemu dengan Xia" gumam Quirin sambil terus menekan tombol lift.
Ketika lift mulai bergerak, Quirin yang berada didalam sendirian terus berjalan mondar-mandir sambil menggigit kukunya.
Saat sudah mencapai lantai atas, dari tempat nya berdiri, ia bisa melihat orang-orang sedang berkumpul di depan kamar Xia.
Disana terlihat Zee, Xeno, Staren, Gavin dan Arnius, mereka sama sekali tidak menyadari keberadaan Quirin.
Sedangkan Quirin berjalan dengan santai kearah mereka "bagaimana keadaan Xia?" tanya Quirin secara tiba-tiba.
Mereka semua tampak tersentak kaget "nona, kau mengangetkan kami" ucap Staren sambil memegang dada nya.
"Untuk apa seorang wanita pembunuh berada disini?" sindir Xeno.
Staren, Gavin dan Arnius tampak terkejut mendengar sindiran Xeno, untuk pertama kalinya mereka melihat Xeno menyindir Quirin. Yang mereka ketahui, selama ini Xeno sangat setuju jika Quirin menjadi pendamping Zee, Tapi kenapa semua berbeda?.
Quirin memutar bola matanya dengan malas, ia melangkah dengan menyingkirkan tubuh Xeno yang tepat berada didepan pintu "bukan urusanmu orang miskin" ucap Quirin dengan nada dingin.
Ketiga orang itu bahkan lebih terkejut lagi ketika mendengar kata miskin yang dilontarkan oleh Quirin.
"Jika tuan Xeno orang miskin, lalu seperti apa orang kaya menurut nona Quirin?" batin ketiga orang itu secara serempak.
Mereka bahkan saling memandang dan mulai tertawa dengan keras.
__ADS_1
"Haha ... Nona, kau lucu sekali, tuan Xeno bahkan sudah memasuki daftar orang kaya di Eropa, bagaimana itu disebut miskin?" tanya Staren sambil tertawa.
Quirin menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang "kekayaannya tidak ada apa-apanya di bandingkan kekayaanku" ucap Quirin sambil tersenyum smirk.
Arnius tampak terkejut "jangan bercanda nona, jika kau membandingkan dengan milik keluarga Alister, maka semua itu bahkan belum mencapai separuh dari kekayaan tuan Xeno" ucap Arnius sambil memegang perutnya sehabis tertawa terbahak-bahak.
Quirin menatap Arnius dengan tajam "semoga kau tidak mati ketika mengetahui kekayaan yang ku miliki, untuk sekarang tertawa lah sepuas mu" ucap Quirin lalu masuk kedalam dan meninggalkan kelima orang itu.
Mereka yang ada di sana terdiam dan tidak ada yang berani berkutik. Sedangkan Zee yang sedari tadi tidak berkomentar apapun kini langsung menyusul Quirin masuk kedalam ruangan.
"Ada apa dengan nona, bahkan raut wajahnya terlihat sangat dingin" ucap Arnius sedikit merinding dengan tatapan Quirin.
"Aku merasa kau memang sudah keterlaluan" ucap Staren yang ikut terdiam.
"Berhati-hatilah pada nona, ia wanita yang sangat mengerikan, jangan lupakan itu" Gavin memperingatkan rekannya agar tidak salah langkah.
"Sudah, sudah, aku tidak ingin membahas ini, dia benar-benar menyeramkan, aku sungguh tidak berani menyinggungnya" ucap Arnius sambil membenarkan posisinya untuk tetap berjaga.
Xeno mengepalkan kedua tangannya, ia melihat ketiga bawahannya bahkan lebih takut dari Quirin ketimbang dirinya, tapi itu bukan kesalahan mereka, karena Quirin benar-benar mengerikan untuk semua orang.
"Aku sungguh ingin menyingkirkannya, dia membawa pengaruh buruk untuk orang-orang di sekeliling Zee" batin Xeno sambil mengepalkan kedua tangannya, lalu ia langsung masuk kedalam ruangan Xia.
Didalam ruangan, terlihat Al yang berdiri di sisi tempat tidur, ia bertanggung jawab untuk memeriksa kondisi tubuh Xia.
Xia yang sudah membuka matanya, mendengar semua yang mereka katakan, ia bahkan ikut terkejut mendengar perkataan Xeno "Quirin, kau datang?" tanya Xia lemah sambil tersenyum.
"Maaf aku tidak berada di sampingmu ketika kau membuka mata" jawab Quirin sambil menatap Xia dengan perasaan bersalah.
Al yang sudah daritadi berada didalam hanya bisa menunduk, Quirin melirik kearah Al, ia bisa melihat rasa bersalah itu di wajah Al.
"Kau tidak perlu merasa bersalah karena kau sudah membantuku menyelamatkan Xia" ucap Quirin lalu menoleh kembali kearah Xia.
"Jangan berkata dingin padanya, sebenarnya ada apa?, sejak aku sadarkan diri, dokter Al selalu meminta maaf padaku" ucap Xia dengan sedikit binggung.
Tiba-tiba, pintu ruangan Xia kembali terbuka dengan sangat lebar.
Bersambung ...
__ADS_1